43 | Peristiwa Pemerkosaan Dan Pembunuhan

2.7K 216 13
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

Risa terbangun dan menyadari bahwa dirinya ada di atas tempat tidur milik Nyai Kenanga yang biasa ia tempati, namun dengan sprei berbeda. Sprei yang terpasang saat itu adalah sprei yang ia temukan ketika akan membersihkan kamar Nyai Kenanga pertama kalinya, ketika akan tinggal di rumah tersebut bersama Meilani. Suasana kamar itu juga tampak sama dengan yang pertama kali ia lihat, seakan kamar itu masih ditempati oleh Nyai Kenanga. Ia segera turun dari tempat tidur tersebut, lalu keluar dari kamar yang pintunya memang tidak tertutup sejak tadi. Kedua matanya menatap sekeliling dan seketika Risa menyadari bahwa dirinya tidak sedang berada di dunianya sendiri.

Pintu belakang terlihat terbuka. Risa pun segera melangkahkan kaki ke halaman belakang rumah itu. Di luar tampaknya belum terlalu gelap seperti yang tadi ia lihat pada kenyataan. Semburat senja terlihat di langit saat itu, ketika Risa tiba di halaman belakang rumah. Nyai Kenanga terlihat olehnya di dekat taman bunga. Wanita itu tampak baru saja selesai menyirami bunga-bunga mawar putih kesayangannya. Nyai Kenanga kemudian meletakkan alat siram tanaman di dekat peralatan berkebun yang selalu tersimpan di tempatnya. Dia baru akan masuk ke dalam rumah, namun memilih kembali memandangi bunga-bunga mawar putih kesayangannya sekali lagi dengan penuh senyum. Wajah Nyai Kenanga benar-benar cantik saat tersenyum dan Risa tidak bisa menghalau penilaian itu dari pikirannya. Nyai Kenanga tampak sedang menghirup aromanya bunga mawar putih yang menguar di udara, seakan dia ingin menikmati aroma wangi itu jauh lebih lama.

Sesaat kemudian, Nyai Kenanga pun berbalik dan hendak masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Risa kaget setengah mati saat seseorang mendadak muncul dan langsung membekap mulut Nyai Kenanga kuat-kuat sambil menodongkan sebilah pisau ke arah leher Nyai Kenanga.

"Nyai!" seru Risa, lalu berusaha ingin membantu namun kedua kakinya seakan benar-benar terpaku di tempat begitu saja.

Orang yang membekap mulut Nyai Kenanga adalah Sutejo. Risa pun menyadari bahwa yang ia tengah saksikan adalah peristiwa yang pernah terjadi dalam hidup Nyai Kenanga terakhir kalinya. Nyai Kenanga terlihat sangat ketakutan dan berupaya meronta-ronta agar bisa melepaskan diri dari Sutejo.

"Diam kamu! Kalau kamu tidak diam, maka akan kubunuh kamu sekarang juga!"

Suara Sutejo yang tengah mengancam Nyai Kenanga terdengar jelas oleh Risa.

"ERRRGGHHHH!!! MM-MMHHH!!!"

Nyai Kenanga benar-benar tak bisa mengeluarkan suaranya akibat bekapan yang sangat kuat pada mulutnya. Tak lama kemudian, Sutejo segera menyeret Nyai Kenanga ke dalam rumahnya melalui pintu belakang yang terbuka sejak tadi. Tubuh Risa pun ikut terbawa ke dalam sana, padahal tadi ia sama sekali tidak bisa bergerak saat akan menolong Nyai Kenanga. Setelah berada di dalam rumah, Sutejo terlihat segera menutup pintu belakang dan menguncinya.

"Dasar sinting! Apa yang mau kamu lakukan pada Nyai Kenanga? Lepaskan dia!" bentak Risa, merasa begitu marah.

Sutejo kemudian membanting tubuh Nyai Kenanga ke lantai rumah itu dengan sangat keras. Nyai Kenanga merintih kesakitan dan Risa benar-benar hanya bisa menangis saat melihat hal itu. Nyai Kenanga kini berusaha merayap di lantai, agar bisa menjauh dari Sutejo yang sedang sibuk membuka ikat pinggang dan kancing celananya. Risa terpaku saat melihat yang tengah Sutejo lakukan. Sesaat kemudian, Sutejo yang melihat usaha Nyai Kenanga untuk melarikan diri, dengan cepat menangkap kedua kaki Nyai Kenanga dan kembali menyeretnya ke tempat semula.

"LEPASKAN!!! LEPASKAN AKU!!! TOLONG!!! TOLONG AKU!!!"

Teriakan Nyai Kenanga terdengar begitu jelas di telinga Risa.

"Nyai ... aku ingin menolong, tapi tidak bisa," sahut Risa, sambil menangis.

"Teriak saja, Nyai Kenanga. Teriakanmu tidak akan terdengar oleh satu orang pun di Desa ini. Semua orang di Desa sedang pergi ke pesta hajatan di Desa sebelah. Suara gamelan akan lebih terdengar di telinga mereka daripada teriakanmu malam ini."

"Bejat kamu, Tejo!!! Lepaskan!!! Lepaskan aku!!!"

Nyai Kenanga terlihat kembali berusaha meronta-ronta lagi seperti tadi. Risa merasa sangat geram ketika menyaksikan semua itu.

PLAK-PLAK-PLAK!!!

Sutejo tampak menampar wajah Nyai Kenanga berulang-ulang dengan sangat keras. Risa merasa kaget dan menutup mulutnya secara tiba-tiba, karena tidak menyangka bahwa Sutejo akan melakukan hal yang kasar pada Nyai Kenanga. Tamparan yang Sutejo lakukan sukses membuat Nyai Kenanga langsung terlihat sangat lemas dan bahkan hampir hilang kesadaran. Sutejo pun segera mengambil kesempatan itu untuk merenggut paksa kesucian Nyai Kenanga. Ia tidak peduli kalau Nyai Kenanga akan merasa kesakitan. Yang ia inginkan adalah nafsunya terhadap Nyai Kenanga bisa terpuaskan hari itu juga.

"Tidak! Tidak!!! Jangan lakukan itu padanya!!! Berhenti!!!" teriak Risa, sangat hebat.

Risa melihat Sutejo menatap wajah Nyai Kenanga sambil tersenyum bengis.

"Ini adalah bayaran atas penolakanmu terhadap aku, Nyai Kenanga! Nikmatilah ... karena aku akan memberikan nikmatnya surga dunia kepadamu hari ini."

Bisikan yang Sutejo lakukan di depan Nyai Kenanga itu kemudian diiringi dengan tawa paling menjijikan yang pernah Risa dengar. Sutejo benar-benar menyalurkan nafsu bejatnya tanpa henti terhadap Nyai Kenanga. Nyai Kenanga benar-benar tidak bisa memberikan perlawanan dan hanya bisa menangis sejadi-jadinya saat kesuciannya direnggut paksa. Risa begitu marah dan sakit hati karena tahu bahwa Nyai Kenanga diperkosa oleh Sutejo. Kesucian yang Nyai Kenanga jaga hanya untuk Panji direnggut paksa oleh laki-laki bejat itu dan membuatnya kesakitan.

Setelah selesai memperkosa Nyai Kenanga, Sutejo tampak begitu santai merapikan celananya kembali, seakan tidak pernah terjadi apa pun. Pisau yang dipegang oleh Sutejo tergeletak di lantai, sehingga tangan Nyai Kenanga pun perlahan berusaha meraih pisau tersebut. Ketika Nyai Kenanga berhasil menggenggamnya, pisau itu kemudian diarahkan ke kaki kiri Sutejo yang berada tepat di hadapannya.

"ARGGGGHHHHH!!!"

Teriakan Sutejo terdengar begitu keras. Sutejo pun mencabut pisau yang tertancap di kaki kirinya tersebut. Laki-laki itu segera menangkap tangan Nyai Kenanga yang baru saja berniat akan melarikan diri menuju pintu depan. Tubuh Nyai Kenanga pun terseret ke belakang ketika Sutejo menarik tangannya, sehingga tanpa sengaja tangan kanan Sutejo yang masih menggenggam pisau tadi menikam perut Nyai Kenanga begitu dalam.

"AARRGGGHHH!!! NYAI KENANGA!!!" teriak Risa, lebih histeris daripada teriakan-teriakan sebelumnya.

Darah yang berasal dari perut Nyai Kenanga berhamburan di lantai, mulut Nyai Kenanga pun ikut mengeluarkan darah tak lama setelahnya. Tubuhnya pun langsung ambruk ke lantai dan meregang nyawa.

"Ka-kamu ... a--akan ... mem--membayar ... se-mu-anya. Ke-keturunanmu ... a--akan ... i--ikut ... ma--mati ... me-nge-nas-kan ... se--seperti ... a--aku."

Itu adalah sumpah yang terucap dari mulut Nyai Kenanga untuk terakhir kalinya. Risa menyaksikan Nyai Kenanga meninggal dunia di tangan Sutejo, akibat tikaman pada perutnya tersebut. Kedua tangan Sutejo gemetaran saat dirinya melihat bagaimana Nyai Kenanga mati di hadapannya serta saat ia mendengar sumpahnya. Sutejo sempat terdiam selama beberapa saat, sampai akhirnya laki-laki itu bangkit kembali dan menarik kedua kaki Nyai Kenanga menuju ke halaman belakang.

* * *

TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang