- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
Meilani menyerahkan urusan proses visum kepada Zulkarnain. Kunci mobil Risa ia serahkan pada pria itu, agar Risa bisa dibawa ke rumah sakit. Ia sendiri kini akan mengurus Kahlil yang sudah dibawa oleh Romi dan Siti ke halaman rumah Nyai Kenanga. Kasminah sedang tidak berada di rumah, sudah dua hari Ibu kandung Kahlil berada di luar kota untuk bekerja. Itulah mengapa Kahlil akhirnya lepas kendali dan berani berbuat kurang ajar kepada Risa. Namun Meilani tidak peduli dengan alasan yang menjadi dasar laki-laki itu berbuat nekat dan hampir memperkosa Risa. Ia benar-benar marah besar dan saat melihatnya berlutut di halaman, kemarahannya semakin menjadi-jadi. Diraihnya baju Kahlil dengan kasar, lalu ia menghadiahkan pukulan bertubi-tubi untuk laki-laki itu.
BUGH!!! BUGH-BUGH-BUGH!!!
"Dasar bajingan kamu, Kahlil!!! Iblis, kamu!!!" umpat Meilani.
Siti segera memisahkan Meilani dari Kahlil, agar wanita itu tidak lepas kendali sebagai seorang penegak hukum. Romi kembali meraih Kahlil dan membuatnya berlutut seperti tadi, meski Kahlil saat itu sedang meringis kesakitan akibat pukulan bertubi-tubi yang ia terima dari Meilani.
"Lepaskan aku, Bulik Siti! Biarkan aku menghajar laki-laki Iblis itu!" pinta Mailani, memaksa.
"Sudah, Nak. Sudah. Kalau kamu terus begini, nanti justru kamu yang akan disalahkan karena menyerang tersangka. Polisi tidak boleh menyerang tersangka yang tidak melakukan perlawanan, 'kan? Jadi ayo, kendalikan diri kamu Nak. Kendalikan dirimu demi Risa," bujuk Siti.
Meilani pun seketika teringat pada Risa yang saat ini sedang dibawa oleh Zulkarnain dan Rumsiah ke rumah sakit. Ia juga teringat pada Dandi yang belum mengetahui peristiwa buruk yang hampir menimpa Risa. Entah apa yang harus ia katakan pada Dandi jika bertemu dengan pria itu di kantor sebentar lagi. Ia harus mempersiapkan kata-katanya, agar Dandi tidak berpikir bahwa Risa sudah berhasil dinodai oleh Kahlil.
"Bisakah Bulik dan Romi ikut denganku ke kantor Polisi? Aku akan membawa laki-laki Iblis itu sekarang juga, dan membuatnya menjalani proses hukum," pinta Meilani.
"Iya, Nak. Kami akan ikut. Apa pun yang kamu butuhkan saat ini agar Kahlil bisa mendapatkan hukuman atas perbuatannya terhadap Risa, kami akan membantumu memenuhi yang dibutuhkan itu. Kami siap menjadi saksi. Bahkan Mbah Rumsi juga akan ikut bersaksi, karena Mbah Rumsi dan aku adalah orang pertama yang melihat bahwa Kahlil hampir saja berhasil memperkosa Risa," tanggap Siti, meyakinkan Meilani agar benar-benar berhenti menghajar Kahlil.
Meilani segera memesan taksi online agar bisa membawa Kahlil bersama Romi dan Siti ke Polres Semarang. Mereka berangkat secepat mungkin, agar Kahlil bisa segera menjalani proses hukum atas perbuatannya pada Risa. Kahlil hanya diam saja dan sama sekali tidak mengatakan apa pun. Ia takut akan kembali dihajar oleh Meilani, jika sampai ia terdengar bersuara.
Ponsel milik Meilani berdering. Meilani segera mengangkat telepon itu setelah melihat bahwa yang menghubunginya adalah Zulkarnain.
"Halo, assalamu'alaikum Zul. Bagaimana keadaan Risa? Sudah divisum? Sudah ada hasilnya?" tanya Meilani dengan nada gelisah.
"Wa'alaikumsalam, Mei. Risa saat ini sudah ada di rumah kembali. Mbah Rumsi, Mbah Putri, dan Mbak Kakungku akan menjaganya. Aku akan menyusul kamu ke Polres Semarang, untuk membawakan hasil visum," jawab Zulkarnain.
"Oke. Bawa saja mobilnya Risa jika kamu akan pergi ke Polres Semarang. Aku akan tunggu kamu di sana, lalu kita akan sampaikan berita itu kepada Mas Dandi bersama-sama," ujar Meilani.
Taksi online itu akhirnya tiba di pelataran parkir Polres Semarang. Meilani keluar lebih dulu, lalu disusul oleh Romi dan Siti yang sedang menyeret Kahlil dengan kedua tangan mengenakan borgol. Dandi yang baru saja tiba pagi itu di kantor menatap heran ke arah mereka, lalu segera mendekat secepat mungkin pada Meilani.
"Mei? Ada apa ini? Kenapa Kahlil kamu bawa dengan tangan diborgol seperti itu?" tanya Dandi.
Siti pun segera mendekat ke arah Dandi, untuk mendampingi Meilani memberikan penjelasan.
"Nak, dengar kami baik-baik dengan pikiran yang jernih," pinta Siti.
Dandi semakin heran dan sampai harus mengerenyitkan keningnya.
"Tadi pagi, saat Nak Risa akan pergi ke rumah kami karena ada keperluan yang menyangkut dengan Mbah Tejo, Kahlil menyerangnya dan membawanya ke kebun kosong yang jauh dari rumah-rumah warga. Kahlil ... hampir memperkosa Risa di sana dan hal itu ...."
BUGH!!!
Dandi langsung melayangkan tinjunya tepat di wajah Kahlil, sebelum Siti menyelesaikan kalimatnya. Kahlil tersungkur di pelataran parkir, Romi langsung menahan Dandi bersama Meilani agar kemarahannya tidak semakin menjadi-jadi.
"Cukup, Mas! Cukup! Kahlil tidak berhasil memperkosa Risa, karena Mbah Rumsi dan Bulik Siti berhasil menggagalkan perbuatannya. Saat ini Risa sudah kembali berada di rumah setelah dibawa ke rumah sakit oleh Zul untuk visum. Mas Dandi sebaiknya ke rumah Nyai Kenanga saja, bawa Mbah Panji dan Mbah Kumala juga agar Mas Dandi bisa jauh lebih tenang," saran Meilani.
Zulkarnain tiba tak lama kemudian dan langsung mendekat pada Dandi yang masih berusaha ditenangkan oleh Romi dan Meilani.
"Mas, segeralah ke rumah Nyai Kenanga. Risa tidak mau bicara dan terus menangis tanpa henti sejak dia sadarkan diri di rumah sakit tadi," mohon Zulkarnain.
Mendengar hal itu, Dandi pun tak lagi mengatakan apa-apa dan langsung berjalan menuju mobilnya. Ia berniat menjemput Panji dan Kumala terlebih dahulu, baru setelah itu ia akan menuju ke rumah Nyai Kenanga. Di dalam pikiran Dandi terus saja terbayang wajah Risa. Ia tidak bisa membayangkan betapa kacaunya wanita itu saat ini, setelah hampir saja mengalami kejadian paling buruk di dalam hidupnya. Ia benar-benar tidak bisa berlama-lama, ia ingin segera tiba di sana dan duduk di sisi Risa.
Sesampainya di rumah Nyai Kenanga, Kumala dan Panji ditahan oleh Yatno dan Asih. Mereka ingin Dandi menjadi orang pertama yang menemui Risa, di kamarnya. Risa benar-benar belum mengatakan apa pun sejak tadi dan hanya terus menangis, meski sudah dibujuk oleh Asih dan Siti. Kemungkinan, Risa masih tidak ingin ditanya-tanya mengenai apa yang hampir menimpanya tadi. Wanita itu jelas lebih membutuhkan kehadiran seseorang yang bisa menenangkan hatinya.
Risa menatap nanar ke arah Dandi yang baru saja tiba di rumah Nyai Kenanga bersama Panji dan Kumala. Pria itu tampak begitu marah dan sedih yang bercampur menjadi satu. Ekspresinya tidak bisa bohong, kedua matanya juga tidak bisa diajak bekerja sama dan terus saja terlihat berkaca-kaca ketika akhirnya melihat sendiri bagaimana kondisi Risa saat itu. Paha kanan Risa yang tertusuk bebatuan harus diperban, wajah Risa mengalami memar di beberapa bagian, dan sudut bibir kiri Risa tampak ada luka yang masih segar. Hal itu jelas membuat hati Dandi semakin teriris.
Dandi duduk di tepian tempat tidur, tepat di sisi Risa yang saat itu sedang bersandar pada ujung tempat tidur. Dandi baru saja akan mengatakan sesuatu pada Risa, namun Risa dengan cepat memeluk Dandi tanpa aba-aba dan menangis saat bersandar pada dada pria itu. Dandi pun membalas pelukan Risa dan tidak lagi ingin menahan kesedihannya. Ia mengecup kening Risa dengan begitu lembut, demi memberinya ketenangan.
"Aku takut, Mas. Aku benar-benar ketakutan saat dia berusaha ...."
"Izinkan aku menikahi kamu hari ini juga, Dek. Tolong izinkan aku, agar aku bisa mendampingimu kapan pun dan di mana pun," mohon Dandi, dari relung hatinya yang terdalam.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)
Horor[COMPLETED] Pekerjaannya di Kantor Polisi belum benar-benar selesai, namun AKP Risa Arimbi harus mendapat pekerjaan tambahan akibat adanya teror yang menyerang Desa Banyumanik, Kota Semarang. Teror tersebut terjadi disertai adanya korban meninggal...
