- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
Panji, Kumala, dan Dandi kini duduk bersama di kursi ruang tamu. Pintu depan sengaja ditutup kembali agar rumah itu kelihatan tidak berpenghuni. Risa datang kembali ke depan sambil membawa baki berisi teh dan juga cemilan. Ia langsung menyajikannya di meja ruang tamu dibantu oleh Dandi, agar Risa tidak perlu repot mengelilingi meja.
"Tidak perlu repot-repot, Nak. Kami ke sini hanya ingin bertemu dengan kamu saja," ujar Kumala, sambil terus memperhatikan wajah Risa tanpa henti.
Risa pun tersenyum seraya menatap ke arah Kumala dan mengangguk sopan.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku tidak repot sama sekali. Silakan diminum tehnya, Bu."
"Panggil Mbah saja, Nak. Kami ini Mbah Kakung dan Mbah Putrinya Dandi. Panggil saja dengan panggilan yang sama, biar lebih memudahkan kamu untuk mengakrabkan diri dengan kami," saran Panji.
"Baik, Mbah. Akan aku lakukan jika itu memang terasa jauh lebih baik," tanggap Risa, tetap setenang biasanya.
Dandi menatap sekilas ke arah Risa dan tersenyum diam-diam. Kumala dan Panji jelas tahu kalau Dandi saat itu sedang menahan perasaannya terhadap Risa. Sementara Risa sendiri tidak terlihat kaku sama sekali, meski ini adalah pertama kalinya wanita itu bertemu dengan Kakek dan Nenek Dandi.
"Sa! Risa!" panggil Meilani, yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Iya, Mei. Ada apa?" sahut Risa, sambil beranjak menuju ruang di dalam.
"Itu ...."
Meilani menunjuk ke arah meja makan, sehingga Risa juga mengarahkan tatapannya ke sana. Dandi bangkit dari kursi ruang tamu dan ikut melihat apa yang tengah Risa lihat saat itu. Pria itu ikut terdiam selama beberapa saat, dan setelahnya Risa pun melangkah menuju meja makan. Seikat bunga mawar putih yang segar tersimpan begitu rapi di atasnya. Panji dan Kumala pun mendekat pada Dandi untuk ikut melihat yang tengah dilihat oleh Dandi dan Risa.
"Itu tampaknya dari Nyai Kenanga, Sa," ujar Meilani, yang belum sadar dengan kedatangan Kakek dan Nenek Dandi. "Aku keluar dari kamar karena mau ke kamar mandi. Tadi belum ada apa-apa di atas meja makan itu. Setelah aku keluar dari kamar mandi, bunga mawar putihnya sudah ada di sana. Nyai Kenanga ingin memberikan itu pada siapa kira-kira?"
Tatapan Risa kini tertuju pada ruang tengah dan laci pribadi Nyai Kenanga. Sosok Nyai Kenanga telah ada di sana dan meminta Risa untuk mengambil surat darinya agar diberikan kepada Panji. Risa pun paham dengan hal itu, sehingga dirinya segera beranjak menuju ke ruang tengah untuk mengambil surat terakhir dari Nyai Kenanga.
"Risa seperti sedang melihat seseorang," bisik Kumala kepada Panji.
"Iya, Mbah. Itu pasti Nyai Kenanga. Makanya Risa tidak menjawab pertanyaan Mei dan lebih memilih menuju laci pribadi Nyai Kenanga," jelas Dandi, ikut berbisik.
Beberapa saat kemudian, Risa kembali keluar dari ruang tengah seraya tersenyum ke arah Kumala. Meilani mengikutinya, dan akhirnya tahu kalau Dandi membawa Kakek dan Neneknya saat itu. Risa menyerahkan seikat bunga mawar putih yang tadi terletak di atas meja makan ke tangan Kumala.
"Itu untuk Mbah Putri, dari Nyai Kenanga," ujar Risa.
Kumala langsung mendekap seikat bunga mawar putih itu dengan kedua mata berkaca-kaca. Ia benar-benar menahan tangis sebisa mungkin, agar Panji tidak perlu kembali merasa sedih seperti yang pernah terjadi dua puluh lima tahun lalu.
"Dan ini ..." Risa menyerahkan sepucuk surat ke tangan Panji, "surat terakhir dari Nyai Kenanga yang tidak sempat dia kirimkan kepada Mbah Kakung. Nyai Kenanga ingin Mbah Kakung membaca dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan."
Kedua tangan Panji begitu gemetar saat menerima surat itu. Yang membuatnya semakin gemetaran adalah karena wajah Risa benar-benar mirip dengan wajah Nyai Kenanga, membuatnya seakan baru saja menerima hal itu secara langsung dari Nyai Kenanga sendiri.
"Di--di mana dia saat ini, Nak?" tanya Panji. "Di mana pe--persisnya dia berada?"
Risa pun mempersilakan Panji agar bisa ikut dengannya menuju ruang tengah. Kumala juga ikut di belakang mereka karena ingin tahu soal keberadaan sosok Nyai Kenanga. Risa pun menunjuk ke arah kursi yang saat itu berada di samping sebuah laci bersusun.
"Di sana, Mbah Kakung. Nyai Kenanga saat ini tengah tersenyum karena bisa melihat Mbah Kakung dan Mbah Putri," ujar Risa.
Panji dan Kumala sama-sama terdiam di tempat masing-masing. Airmata Kumala akhirnya luruh juga setelah sejak tadi berusaha ditahan mati-matian.
"Nyai Kenanga ... kami sudah lama mencarimu, Nyai," gumam Kumala, tergugu.
Dandi pun langsung merangkul Neneknya agar tetap kuat menghadapi kenyataan tentang Nyai Kenanga yang tidak lagi berwujud manusia.
"Mendekat saja, Mbah Kakung. Keberadaan Nyai Kenanga biasanya bisa dirasakan meski tidak bisa dilihat," saran Meilani.
Panji menatap ke arah Meilani dan tersenyum.
"Kamu sering merasakannya, Nak?" tanya Panji.
"Iya, Mbah. Nyai Kenanga biasa menyapa kami berdua di rumah ini. Sayangnya aku hanya bisa merasakan keberadaanya, tidak seperti Risa yang bisa melihat keberadaannya. Oh ... kecuali kemarin. Aku akhirnya melihat sosok Nyai Kenanga karena Nyai Kenanga sengaja memperlihatkan dirinya padaku saat akan membawakan teror ke teras rumah Mbah Tejo," jawab Meilani.
Mendengar nama Sutejo disebut, Panji pun tampak langsung mengubah ekspresinya.
"Kalian sudah benar-benar yakin kalau Sutejo adalah dalang di balik menghilangnya Kenanga?" tanya Panji, pada Risa maupun pada Meilani.
Risa dan Meilani pun saling menatap satu sama lain saat menerima pertanyaan itu. Sosok Nyai Kenanga mendadak mendekat pada Panji dan berdiri tepat di sampingnya. Panji maupun Kumala bisa merasakan ada yang berubah saat itu. Hawa di sekitar mereka terasa begitu dingin, namun menenangkan. Dandi bahkan langsung menatap ke arah Risa, seakan dirinya butuh penjelasan soal perubahan hawa sekitar yang terjadi.
"Nyai Kenanga ada di samping kalian bertiga," ujar Risa. "Dia merasa khawatir karena baru saja merasakan amarah di dalam diri Mbah Kakung terhadap Mbah tua itu."
"Kenanga?" bisik Panji.
Sosok Nyai Kenanga pun kembali tersenyum tipis saat mendengar Panji menyebut namanya. Risa bisa melihat betapa besar kesetiaan yang Nyai Kenanga miliki terhadap Panji, sehingga begitu bahagia meski tahu bahwa kini Panji telah hidup didampingi oleh wanita lain. Bahkan, Nyai Kenanga tidak segan-segan menyambut wanita itu dengan memberinya seikat bunga mawar putih favoritnya. Mungkin itu adalah ucapan terima kasih darinya kepada Kumala, karena telah mendampingi Panji ketika dirinya tidak bisa memenuhi janji untuk berada di sisi Panji seumur hidupnya.
"Aku tidak akan membiarkan dia lolos, Kenanga. Rasa marahku ini adalah untuk membuatmu tidak lagi terjebak sendirian di sini. Aku ingin menemukanmu, sama seperti yang mereka lakukan. Jadi, tolong jangan khawatir. Biarkan aku ikut mencarimu," pinta Panji, dan setetes airmata pun luruh di wajahnya.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)
Horor[COMPLETED] Pekerjaannya di Kantor Polisi belum benar-benar selesai, namun AKP Risa Arimbi harus mendapat pekerjaan tambahan akibat adanya teror yang menyerang Desa Banyumanik, Kota Semarang. Teror tersebut terjadi disertai adanya korban meninggal...
