- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
Setelah acara pernikahan Risa dan Dandi selesai, rumah milik Nyai kenanga kembali sepi seperti biasa. Hanya ada Panji, Kumala, Asih, Yatno, dan Rumsiah yang tengah mengobrol di ruang tamu. Meilani kini sedang mencoba menghapus make up pengantin dari wajah Risa dengan sangat hati-hati. Memar di beberapa titik pada wajah Risa serta luka di sudut bibir, jelas masih terasa sakit. Meilani tidak mau Risa merasa kesakitan jika sampai dirinya tidak berhati-hati menghapus make up.
"Gosok saja, Mei. Aku jadi gemas kalau kamu menghapus make up sepelan itu," gumam Risa.
Meilani bisa melihat kedua tangan Risa yang jemarinya sudah bergerak-gerak sejak tadi akibat menahan gemas. Meilani pun hanya bisa tersenyum geli, karena kesabaran Risa memang benar-benar setipis tisu. Dia jelas tidak mudah bersabar jika bukan terkait menghadapi sebuah kasus.
"Sabar, Dek. Memar-memar di wajahmu itu adalah alasan Mei lebih berhati-hati ketika menghapus make up," Dandi membujuk Risa sambil mengusap-usap punggung tangan istrinya yang tengah ia genggam.
"Tapi kalau sepelan itu caranya Mei menghapus make up di wajahku, selesainya bisa minggu depan, Mas. Ayolah ... langsung saja gosok," mohon Risa.
Meilani pun berkacak pinggang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Risa ... Risa ... kamu itu betul-betul susah sekali bertahan, ya, kalau sudah duduk di depan cermin! Ayolah, sekali ini saja bertahan lebih lama. Kamu akan merasa kesakitan kalau aku tidak berhati-hati," jelas Meilani.
Risa pun memajukan bibirnya karena menahan sebal. Ia jelas tidak punya bahan lagi untuk memohon agar Meilani menghapus make up di wajahnya lebih cepat. Terlebih karena Dandi terus ikut membujuknya agar membiarkan Meilani menghapus make up dari wajah Risa dengan sangat pelan.
Zulkarnain muncul tak lama kemudian bersama Romi. Beberapa kali Zulkarnain tampak ingin memastikan, kalau para orangtua yang sedang mengobrol di ruang tamu tidak ada yang mengikuti mereka berdua. Romi sudah tahu dari Zulkarnain, kalau Risa mungkin saja tidak ingin kalau Panji sampai tahu dengan bukti yang mereka punya saat itu.
"Boleh kami masuk?" tanya Zulkarnain, sangat pelan.
"Sebaiknya kalian mengizinkan dan kita bicara di dalam kamar, agar Mbah Panji tidak ikut dengar soal bukti yang aku dapatkan," saran Romi, sambil ikut mengawasi situasi.
"Mm ... iya, masuk saja," jawab Risa, dengan cepat.
Dandi kini menatap Risa dan tampak butuh penjelasan, karena tidak biasanya Risa mau memberikan izin dengan mudah terhadap permintaan dari seorang pria. Risa pun paham bahwa Dandi jelas akan mulai bertanya-tanya tentang keputusannya barusan. Untuk itulah ia meminta Meilani berhenti sebentar menghapus make up dari wajahnya.
"Tadi pagi aku hendak ke rumah Romi setelah Zul meneleponku dan mengatakan bahwa Romi memiliki bukti yang terkait antara Mbah tua itu dan Nyai Kenanga. Hanya saja, belum sampai aku ke rumah Romi ... kejadian tadi ...."
"Oke, mari jangan kita bahas lagi soal itu. Kamu mungkin akan lebih nyaman kalau tidak membicarakannya sekarang," potong Dandi dengan cepat.
Risa pun mengangguk dan tersenyum sebagai ungkapan terima kasihnya kepada Dandi, karena Dandi bersedia mengerti bahwa dirinya belum siap bicara apa-apa soal kejadian buruk yang Kahlil lakukan. Romi pun menyerahkan dua buah album berisi foto pernikahan Dandi dan Risa yang sudah selesai dicetak.
"Itu adalah alasan agar kami berdua bisa masuk ke sini dan tidak dicurigai oleh para Mbah-mbah di ruang tamu, termasuk Mbah Putriku sendiri," ujar Romi.
"Ya ... jelas itu adalah alasan yang sangat tidak akan pernah dicurigai oleh siapapun, karena Mas Dandi dan Risa memang baru saja menikah," Meilani setuju dengan alasan yang Romi buat.
Dandi pun membuka album foto itu dan tampak tersenyum sumringah.
"Wah, cantiknya," puji Dandi.
"Siapa, Mas? Aku 'kan yang cantik?" tanya Meilani.
Risa dan Romi pun mendelik sambil melayangkan tatapannya ke arah Meilani.
"Heh! Percaya diri sekali kamu! Yang baru saja mengadakan pernikahan itu Risa dan Mas Dandi. Jadi sudah jelas yang dipuji cantik oleh Mas Dandi ya Istrinya dong! Masa kamu!" jawab Romi, tidak sungkan mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya.
"Tapi 'kan aku ada juga di dalam salah satu foto-foto pernikahannya Risa! Bisa saja aku terlihat lebih cantik daripada Risa di dalam foto itu!" Meilani tidak mau kalah.
Romi pun langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Enggak! Jelas enggak mungkin! Yang paling cantik di dalam album foto itu menurut Mas Dandi, sudah jelas Risa seorang! Kalau ada yang bilang kamu terlihat cantik di dalam salah satu foto di album itu, sudah pasti kalau itu adalah pendapat dari Zul!" tegas Romi.
"Lagian Romi benar, Mei, bintang utama dalam album foto itu adalah aku. Gimana ceritanya kalau kamu yang terlihat lebih cantik?" heran Risa.
Zulkarnain pun segera menyembunyikan Meilani di balik punggungnya dengan cepat, agar tidak menjadi bulan-bulanan oleh Romi dan Risa.
"Mei jelas benar. Dia terlihat cantik kok di dalam salah satu foto di album itu," ujar Zulkarnain.
"Iya, bagi kamu! Jelas tidak begitu bagi Mas Dandi dan aku yang tahu persis kalau bintang utamanya adalah Risa!" semprot Romi. "Aku tahu cinta itu buta, Zul. Tapi tolonglah ... jangan gara-gara cinta kamu malah membuat Mei jadi tidak tahu diri. Kalau mau puji-puji kecantikannya, cepatlah nikahi Mei agar kamu dan dia punya album foto pernikahan sendiri."
"Sudah ... sudah ... ini kapan jadinya aku bisa memperlihatkan bukti yang kamu dapatkan, kalau kalian terus memperdebatkan soal foto-foto pernikahan Risa dan Mas Dandi?" Zulkarnain langsung mengungkapkan rasa frustrasinya.
"Ya sudah, langsung saja perlihatkan, Zul. Kalau kamu mau menunggu Mei, Romi, dan Istriku selesai berdebat, bisa-bisa perdebatannya baru selesai lebaran tahun depan," saran Dandi.
"Mas Dandi ... kenapa malah jadi kompak dengan Zul, sih?" keluh Meilani.
"Maumu gimana? Enggak mungkin Suamiku tidak kompak sama Zul, soalnya kamu dan aku saja selalu kompak jika sudah kesal terhadap sesuatu," balas Risa, membela Dandi.
"Tolong jangan libatkan aku kali ini dalam perdebatan kalian," mohon Romi.
Zulkarnain pun segera membuka laptop miliknya yang ia bawa dari rumah, lalu memutarkan rekaman video yang didapat oleh Romi. Semua orang mendengarkan pembicaraan antara Juminah dan Sutejo di dalam video itu. Meilani sampai harus menutup mulutnya agar tidak perlu mengeluarkan umpatan-umpatan paling kotor untuk suami-istri gila yang wajahnya sedang mereka tatap pada layar laptop.
"Kamu benar, Sa! Aku setuju sekali kalau kamu memang ingin memanggilnya Mbah sinting!" tegas Meilani, sebagai penyaluran rasa kesalnya terhadap Sutejo dan Juminah.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)
Terror[COMPLETED] Pekerjaannya di Kantor Polisi belum benar-benar selesai, namun AKP Risa Arimbi harus mendapat pekerjaan tambahan akibat adanya teror yang menyerang Desa Banyumanik, Kota Semarang. Teror tersebut terjadi disertai adanya korban meninggal...
