56 | Proses Autopsi

2.6K 227 3
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW

* * *

Romi tiba di rumah Nyai Kenanga setelah sempat melihat sosok Nyai Kenanga yang tengah kembali memberikan teror kepada Sutejo. Mawar berdarah yang diletakkan di teras rumah Sutejo terlihat begitu segar dan tampak baru saja dipetik. Romi terus berpikir sendiri sejak tadi setelah melihat sosok Nyai Kenanga, bahwa ada kemungkinan Nyai Kenanga saat ini sedang memberikan peringatan pada Sutejo tentang jasadnya yang sudah ditemukan.

"Atau mungkin juga, Nyai Kenanga tadi mendengar pembicaraanku dengan Mbah Tejo. Sehingga dia langsung memberikan teror mawar berdarah ke teras rumah itu. Dia mungkin merasa marah, sama seperti yang aku rasakan tadi, karena Risa dibicarakan dengan penuh penghinaan oleh Mbah Tejo," batin Romi.

Yatno--yang berada di teras depan rumah Nyai Kenanga--melihat kedatangan Romi dan segera berjalan mendekat. Ia cukup heran karena Romi tidak langsung masuk ke halaman rumah, tapi justru berdiam di pagar dan tampak melamun.

"Rom? Kamu kenapa? Kenapa melamun di pagar dan tidak masuk ke teras?" tanya Yatno, menegur.

"Uhm ... anu, Mbah. Itu ... tadi aku lihat Nyai Kenanga di teras rumah Mbah Tejo. Dia sedang meletakkan teror mawar berdarah lagi di teras rumah itu. Dia sempat menatapku dan tersenyum sebelum akhirnya menghilang," jawab Romi, terlihat agak ragu bercerita.

"Oh ... Mbah pikir kamu kenapa, Nak. Ayo masuk ke sini. Kita berjaga di teras depan sampai semua orang yang berada di halaman belakang selesai," ajak Yatno.

Romi tampak heran dengan tanggapan Yatno yang begitu santai, ketika mendengar cerita soal sosok Nyai Kenanga yang dilihatnya di teras rumah Sutejo. Romi pun mengikuti langkah Yatno menuju ke teras rumah Nyai Kenanga. Ia duduk di kursi satunya yang kosong, sambil terus menatap ke arah Yatno.

"Mbah Yatno kenapa tidak kaget saat mendengar ceritaku barusan? Apakah karena Risa sudah sering melihat sosok Nyai Kenanga di rumah ini?" Romi tampak ingin tahu.

Yatno pun terkekeh pelan saat melihat ekspresi Romi saat itu. Romi semakin heran dengan tanggapan Yatno saat itu.

"Bukan cuma kamu yang pernah melihat sosok Nyai Kenanga di teras rumah Mbah Tejo, saat dia sedang meletakkan teror mawar berdarah di sana. Mei juga pernah melihatnya, seperti yang kamu lihat tadi dan berakhir dengan dia menatap kamu sambil tersenyum. Kalau menurut Risa, hal itu memang sengaja dilakukan oleh Nyai Kenanga. Dia ingin berterima kasih atas apa yang kalian lakukan demi membantu Risa menemukan dirinya. Dengan cara menunjukkan sosoknya dan tersenyum ke arahmu itulah dia menunjukkan rasa terima kasihnya. Jadi aku jelas tidak merasa kaget saat kamu menceritakannya barusan. Kamu datang ke sini pasti karena memiliki tujuan, bukan? Nyai Kenanga pasti tahu tentang tujuanmu itu, makanya dia menunjukkan diri di hadapanmu dan tersenyum," jelas Yatno.

Romi pun terdiam selama beberapa saat sambil menatap bungkusan plastik yang ia bawa dari rumah Rumsiah. Zulkarnain dan Meilani muncul tak lama kemudian dari arah jalan samping rumah Nyai Kenanga, lalu segera mendekat ke teras depan. Romi langsung menyerahkan bungkusan yang dibawanya ke tangan Meilani, sehingga Meilani tampak bingung selama beberapa saat.

"Apa ini, Rom?" tanya Meilani.

"Itu adalah gelas yang baru saja dipakai oleh Mbah Tejo untuk minum kopi. Air liurnya pasti tertinggal pada gelas itu. Jadi saat jasad Nyai Kenanga diautopsi, DNA yang ada pada gelas itu bisa dijadikan pembanding dengan DNA yang tertinggal pada jasad Nyai Kenanga. Aku ingin Mbah Tejo tidak hanya dihukum soal pembunuhan terhadap Nyai Kenanga. Aku juga mau dia dihukum sebagai seseorang yang sudah memperkosa Nyai Kenanga sebelum membunuhnya," jawab Romi.

"Wah ... kamu sudah berpikir sampai sejauh itu, padahal aku baru saja akan memikirkan cara seperti apa yang bagus digunakan untuk mendapatkan DNA dari Mbah sinting itu," Meilani tidak bisa menyembunyikan raut wajah kagetnya.

"Aku sudah geram sejak tadi, saat mendengar cerita dari Risa bahwa Nyai Kenanga diperkosa lebih dulu oleh Mbah Tejo sebelum akhirnya dibunuh dan dikubur dengan cara yang tidak layak. Nyai Kenanga tidak pantas menerima hal seperti itu. Ibuku sering sekali bercerita soal dirinya yang selalu baik terhadap siapa saja dan tidak pernah ragu untuk memberi bantuan pada yang membutuhkan. Orang sebaik dia tidak pantas diperlakukan buruk seperti itu dan dirusak kesuciannya. Aku tidak tahan memikirkan hal itu sejak tadi dan yang berputar-putar di dalam otakku sejak Zul memintaku mengawasi Mbah Tejo adalah, bagaimana caranya agar dia juga dihukum atas perbuatan menjijikannya itu."

"Kamu benar. Sudah jelas perkara pemerkosaan itu adalah hal yang paling sulit untuk dibuktikan dan dikaitkan kepada Mbah Tejo. Tapi dengan adanya DNA pembanding itu, sudah jelas dia tidak akan bisa mengelak lagi. Dia akan menerima hukuman dan membusuk di penjara," Zulkarnain juga memperlihatkan amarahnya terhadap Sutejo.

Jasad Nyai Kenanga tampak diangkat oleh beberapa orang Polisi. Pagar rumah Nyai Kenanga dibuka lebar-lebar oleh Risa dan Dandi. Para warga Desa yang sore itu sudah pulang dari sawah dan tengah bersantai di teras rumah masing-masing pun mendadak kaget, saat melihat adanya kantung jenazah yang tengah diangkat menuju ambulans dari rumah sakit. Mereka mulai bertanya-tanya pada Zulkarnain sehingga Zulkarnain pun menjelaskan pada semua warga di Desa Banyumanik tersebut.

"Siapa yang meninggal di rumah Nyai Kenanga, Pak Kades? Kenapa mendadak ada yang dibawa pakai kantung jenazah?"

"Itu adalah jenazah Nyai Kenanga. Ternyata selama dua puluh lima tahun ke belakang, Nyai Kenanga sudah meninggal dunia," jawab Zulkarnain.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un!!!" tanggap seluruh warga Desa yang sedang mendengar jawaban dari Zulkarnain.

"Nyai Kenanga dibunuh oleh seseorang, dan jasadnya dikuburkan secara tidak layak oleh orang yang membunuhnya tersebut. Dua orang Polisi yang tinggal di rumah Nyai Kenanga selama seminggu terakhir, mencurigai hilangnya Nyai Kenanga dan terus berupaya mencari titik terang mengenai keberadaannya. Kebetulan, hal tersebut ada kaitannya dengan teror mawar berdarah yang menyerang rumah Mbah Tejo. Sekarang Jenazah Nyai Kenanga akan dibawa ke rumah sakit untuk diautopsi. Pelakunya akan segera ditangkap setelah hasil autopsi didapatkan," jelas Zulkarnain.

Beberapa warga kini saling menatap satu sama lain, usai mendengar penjelasan dari Zulkarnain.

"Jangan-jangan, pelakunya adalah salah satu penghuni di rumah Mbah Tejo? Dan peneror itu adalah arwah Nyai Kenanga sendiri?"

"Kalau memang benar begitu, sudah jelas sekali siapa pelakunya. Tidak mungkin orang lain. Pasti Mbah Tejo adalah pelakunya."

Tatapan Risa kini terarah ke rumah milik Sutejo. Ia sudah tidak sabar ingin segera mengakhiri semua kebejatan dan kejahatan yang dilakukan oleh para penghuni rumah itu. Entah itu Sutejo ataupun Juminah, mereka jelas tidak akan lolos dari kejaran Risa.

* * *

TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang