7 | Taman Mawar Putih

3.5K 269 14
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

Meilani pun buru-buru mendekat ke arah Risa setelah mendengar sahabatnya tersebut melapor pada Dandi, soal jalan yang ditemukannya. Dandi dan Zulkarnain yang sedang berjalan mendekat ke arah Risa pun bisa melihat, kalau Meilani sengaja mendekat lebih cepat dan langsung merangkul lengan Risa dengan sangat erat.

"Heh! Kenapa kamu mendadak merangkul lenganku begini?" kaget Risa.

"Biar enggak ada yang merangkul lenganmu selain aku," jawab Meilani.

"Memangnya siapa yang berani merangkul lenganku di sini? Seperti kamu tidak tahu saja kalau aku itu hobi main banting-membanting kalau ada yang nekat mau sentuh aku tanpa izin," balas Risa, apa adanya. "Sudah ... enggak usah banyak alasan. Jangan bikin aku spaneng saat kita lagi bertugas."

Meilani bukannya melepaskan lengan Risa setelah diperintah untuk melepas, tapi justru malah bergelayut manja di sana tanpa merasa berdosa. Dandi jelas tertawa dengan apa yang sedang dilihatnya saat itu, sementara Risa mulai memutar kedua bola matanya akibat menahan sebal.

"Risa, sahabatku yang baik hati. Di luar sana yang cantik itu banyak sekali. Tapi yang bisa bikin kamu stress, darah tinggi, spaneng setiap saat, dan istighfar terus ya ... cuma aku. Jadi ... karena waktu makan siang sudah mulai dekat, aku mau mengingatkan kamu soal janjimu yang akan traktir aku makan siang hari ini," jelas Meilani, amat sangat manis.

"Janji?" Risa mendadak stress sungguhan. "Kapan aku berjanji sama kamu? Kapan bibirku yang imut-imut ini mengucapkan janji tidak penting seperti itu? Tadi waktu aku mau pergi ke ruangannya Mas Dandi, sepertinya kamu deh yang memaksa minta ditraktir!"

Dandi pun segera memisahkan Risa dan Meilani dengan cepat, sebelum omelan Risa terhadap Meilani semakin menjadi-jadi.

"Sudah ... sudah ... perkara traktir saja kok kalian bisa sampai adu mulut, sih? Ayo, sebaiknya cepat kita ke halaman belakang sana sebelum waktu shalat dzuhur tiba," ajak Dandi, sambil menarik tangan Risa agar berjalan bersamanya lebih dulu.

Meilani pun terkikik geli di tempatnya, setelah berhasil membuat Dandi punya kesempatan kembali berdekatan dengan Risa. Ia bahkan begitu senang, karena berhasil membuat Dandi berani menggenggam tangan Risa. Zulkarnain paham bahwa hal tadi adalah rencana Meilani semata, bukan karena Meilani benar-benar ingin ditraktir oleh Risa.

"Kenapa kamu sengaja membuat Risa menjadi lebih dekat dengan Pak Dandi?" tanya Zulkarnain, to the point.

Meilani pun berhenti tertawa dan menatap dingin ke arah Zulkarnain yang kini tengah berdiri tepat di sampingnya.

"Karena aku mau menghibur sahabatku yang tadi tidak sengaja bertemu dengan mantan pacarnya, ketika kami tengah mencari informasi. Aku yakin, kamu sengaja tidak bilang sejak awal bahwa di samping rumah korban adalah rumahnya Kahlil, agar kami bisa mencari informasi ke rumah itu karena Ibunya Kahlil selalu ada di rumah," jawab Meilani.

Wajah Zulkarnain pun mendadak pias setelah mendengar jawaban Meilani. Ia sangat tidak menduga kalau niatnya mempertemukan Risa dan Kahlil akan ketahuan oleh Meilani dengan sangat mudah. Meilani menyentuh ujung kerah pakaian dinas yang Zulkarnain kenakan saat itu, sambil menatap tajam ke arah pria yang pernah ikut membantu Kahlil menyakiti sahabatnya.

"Hati-hati saja, Zul. Aku ini tidak tertebak. Aku bisa membuatmu kehilangan segalanya, jika sekali lagi kamu berani untuk mendekatkan Kahlil ke sisi Risa. Ingat baik-baik, bahwa luka yang Risa dapatkan dari Kahlil ada campur tanganmu juga di dalamnya," desis Meilani, kejam.

Meilani pun segera berlalu dari hadapan Zulkarnain dan berjalan menyusuri jalanan menuju halaman belakang rumah kosong itu. Zulkarnain sedang berusaha bernafas dengan normal, setelah tadi dirinya merasa seperti tercekik selama beberapa saat ketika Meilani bicara dengannya. Entah sejak kapan Meilani jadi terlihat menakutkan seperti itu. Padahal seingatnya, Meilani dulu adalah wanita paling manis dan lemah lembut dari semua wanita yang dikenalnya di SMP.

Risa dan Dandi tiba lebih dulu di halaman belakang rumah kosong tersebut. Tatap mata mereka tertuju pada segarnya pohon bunga mawar putih yang tertanam begitu banyak dan tertata rapi di sana. Kondisi halaman belakang rumah itu pun berbeda dengan kondisi halaman depan yang tidak terawat. Seakan-akan halaman belakang itu selalu dirawat dengan baik selama dua puluh lima tahun terakhir, sementara halaman depan tidak pernah dirawat sama sekali.

"Masya Allah, indahnya," lirih Risa.

Risa berjalan begitu hati-hati menuju ke arah salah satu bunga mawar putih yang sedang merekah. Ia mencium aromanya yang begitu wangi sambil memejamkan kedua mata. Dandi memperhatikan hal itu, sambil diam-diam mengambil foto Risa menggunakan ponselnya. Ia segera menyimpan kembali ponsel itu ketika melihat Meilani tengah mendekat ke arah mereka, diikuti oleh Zulkarnain. Meilani dan Zulkarnain pun tampak sama terkejutnya dengan mereka ketika tiba di halaman belakang rumah itu. Zulkarnain sendiri jelas merasa merinding dalam sekejap, setelah melihat bunga mawar putih yang begitu banyak di sana. Ia langsung teringat dengan mawar berdarah yang ditemukan oleh korban sebelum meninggal dunia, kemarin.

Setelah puas menghirup aroma wangi bunga mawar putih, tatap mata Risa kini terarah pada sosok cantik yang tengah berdiri di sudut halaman belakang itu. Sosok cantik itu memanggilnya dengan lambaian tangan, seakan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumahnya melalui pintu belakang. Meilani tahu kalau Risa saat itu sedang menatap penunggu rumah tersebut. Ia sudah hafal dengan gerak-gerik Risa selama ini, sehingga dirinya selalu saja mendekat ke arah Risa secara otomatis jika keadaan itu mulai terjadi. Risa tidak protes kali ini saat Meilani kembali merapat ke arahnya. Ia jelas butuh ditemani masuk ke dalam rumah itu, agar dirinya tidak terjebak atau semacamnya di dalam sana.

"Mau masuk ke rumahnya, Dek? Bukankah tadi pintu depan terkunci, ya?" tanya Dandi, mengingatkan Risa.

Risa tidak menjawab dan justru langsung menekan tuas pada pintu belakang rumah tersebut. Pintu itu pun terbuka, membuat Dandi dan Zulkarnain sama-sama terkejut.

"Pintu depan terkunci, tapi kuncinya ada di pintu bagian dalam rumah. Sementara pintu ini sama sekali tidak terkunci, dan kuncinya juga ada di bagian dalam rumah. Yakin, kalau yang punya rumah ini mendadak menghilang begitu saja dua puluh lima tahun lalu?" tanya Risa, sambil menatap ke arah Zulkarnain.

"Entahlah. Semua orang di Desa ini sudah mengatakan begitu sejak aku masih kecil. Yang aku ceritakan tadi adalah cerita turun-temurun yang berkembang di tengah masyarakat Desa ini. Entah benar atau tidak, tapi tidak ada satu orang pun yang berani masuk ke area rumah ini karena benar-benar bisa mendapat kutukan. Sudah berapa orang yang pernah terkena kutukan saat mencoba memberanikan diri masuk ke area rumah ini, Sa. Padahal mereka hanya mau ambil barang yang tidak sengaja terlempar ke dalam halaman depan seperti bola, layangan, dan apa pun yang bisa terlempar ke halaman depan," jawab Zulkarnain.

Risa menaikkan sebelah alisnya seperti biasa saat mendengar hal yang tidak bisa ia percaya.

"Mungkin, karena orang-orang itu tidak meminta izin masuk terlebih dahulu pada Nyai pemilik rumah ini. Bukankah tidak sopan, kalau masuk ke rumah seseorang tanpa mengucapkan salam atau minta izin?" tanggap Risa.

Risa kini menatap ke dalam rumah kosong tersebut didampingi oleh Meilani.

"Assalamu'alaikum," ucapnya, lalu masuk ke dalam dengan santai.

* * *

TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang