34 | Penghiburan

2.6K 236 4
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

Sutejo akhirnya tertidur setelah merasakan ketakutan yang begitu luar biasa sore tadi. Juminah tidak berada di kamar dan memilih diam saja di depan televisi. Televisi pun sengaja ia perbesar volumenya, agar tidak mendengar apa-apa lagi, termasuk keluhan Sutejo soal Nyai Kenanga. Ia sudah muak dan tak mau lagi peduli.

Di kamar, Sutejo mulai kembali berkeringat dingin. Dalam tidurnya ia kembali didatangi oleh Nyai Kenanga, yang kali itu membawakan pisau yang dulu digunakan oleh Sutejo untuk menikam perutnya hingga tewas. Sutejo gemetaran saat melihat pisau itu di tangan Nyai Kenanga.

"Bagaimana Tejo? Sudah siap? Malam ini adalah saatnya kamu merasakan bagaimana rasanya ditusuk menggunakan pisau ini. Kamu masih ingat dengan pisau ini, bukan? Kamu menggunakannya untuk mengancamku, lalu setelahnya kamu menggunakan pisau itu untuk menusuk diriku sampai kehilangan nyawa. Kamu ingat, 'kan?" tanya Nyai Kenanga.

"Ampun, Nyai Kenanga. Ampun," mohon Sutejo.

Kedua kaki Sutejo mendadak tidak bisa digerakkan. Nyai Kenanga mendekat padanya dan langsung menusuk-nusuk perut Sutejo tanpa belas kasih.

"AAARRGGGGHHH!!! AMPUN!!! SAKIT!!! AMPUNI AKU!!!"

Teriakan Sutejo itu bukan hanya terjadi dalam mimpinya, tapi juga terjadi
pada kenyataan. Sutejo terus berteriak-teriak meminta ampun, sementara Juminah sama sekali tidak mendengar apa-apa akibat suara televisi yang begitu keras.

Romi menatap ke arah rumah Sutejo dari halaman rumah Rumsiah. Suara teriakan Sutejo terdengar sampai keluar rumah, meski tidak seberapa keras. Namun ia jelas tahu alasan Sutejo berteriak-teriak seperti itu, karena tadi ia sudah mendengar semuanya.

"Pasti Nyai Kenanga sedang menerornya dari dalam mimpi. Dia memang pantas mendapatkannya," gumam Romi, sambil terus memandangi ponselnya.

Risa terbangun mendadak setelah pingsan selama lima jam. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia sadar bahwa tadi dirinya langsung ambruk ke lantai setelah melakukan tugasnya, yaitu memancing ketakutan Sutejo dengan berperan sebagai Nyai Kenanga. Ia merasa tubuhnya begitu lemas setelah perannya berakhir. Seakan tadi ia hanya memusatkan semua tenaga yang ia miliki untuk memerankan sosok Nyai Kenanga. Ia bahkan baru teringat, bagaimana dengan perasaan yang lainnya--terutama Dandi--yang melihatnya tidak sadarkan diri. Ia jadi benar-benar tidak berani membayangkan bagaimana ekspresi atau tindakan pria itu, ketika dirinya tidak sadarkan diri.

Meilani tampak tertidur pulas di samping Risa, sambil terus menggenggam tangan wanita itu. Risa langsung memahami bahwa Meilani pasti merasa sangat khawatir terhadap dirinya. Lima jam bukan waktu yang sebentar untuk menunggu seseorang bangun. Risa yakin kalau Meilani bahkan sudah lupa untuk makan, karena Meilani sering sekali begitu ketika sedang merasa khawatir padanya. Mungkin seharusnya tadi ia tidak benar-benar menunjukkan ekspresi marah yang begitu hebat ketika melihat Sutejo untuk yang kedua kalinya. Ia merasa sangat marah karena terus teringat dengan wujud Nyai Kenanga pada saat terakhir hidup di rumah itu. Andai saja ia sedang sendiri di rumah itu sore tadi, mungkin ia akan menangis sekeras mungkin untuk meluapkan rasa sedihnya saat melihat kondisi asli Nyai Kenanga. Sayangnya, ada banyak orang di sekelilingnya dan ia tidak mau menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak kemarin untuk membuat ketakutan Sutejo terpancing.

Risa perlahan mencoba melepaskan genggaman tangan Meilani dari tangannya, agar sahabatnya itu tidak terbangun. Ia menyelimuti tubuh Meilani, lalu beranjak keluar dari kamar untuk menenangkan perasaannya. Ia menutup pintu kamar dari luar dengan begitu pelan, lalu melangkah menuju pintu belakang karena ingin sekali menangis diam-diam di sana.

Temaram cahaya lampu di bagian halaman belakang itu membuat Risa merasa jauh lebih baik. Semilir angin yang lembut dan membawa serta aroma bunga mawar putih menyapanya malam itu. Tangisnya pecah saat ia duduk di lantai teras belakang tersebut. Ia menangis tergugu saat mengingat kembali luka menganga pada perut bagian kiri di tubuh Nyai Kenanga. Entah kenapa hatinya sakit sekali saat melihat luka itu. Ia ingin menyentuhnya, namun disadarkan oleh kenyataan bahwa ia tidak bisa melakukannya.

"Nyai ... aku bisa menahan diri untuk tidak takut pada wujud terakhirmu sebelum meninggal. Tapi aku justru tidak bisa menahan diri untuk tidak merasakan sedih. Maaf, Nyai. Maafkan aku," ungkap Risa, sambil memukul-mukul pelan dadanya beberapa kali.

Sosok Nyai Kenanga menatap Risa dan ikut duduk di sampingnya. Risa butuh dihibur, tapi Nyai Kenanga tidak tahu bagaimana bisa memberinya hiburan atas rasa sedih yang bercokol dalam di hati wanita itu. Ia tidak pernah tahu kalau ada manusia yang bisa bersimpati begitu dalam terhadap orang lain, meskipun orang itu sudah lama mati. Padahal tanpa Nyai Kenanga sadari, dirinya juga memiliki sifat yang Risa miliki saat dirinya masih hidup. Apa yang dia lihat pada Risa saat ini adalah gambaran diri Nyai Kenanga sepenuhnya di masa lalu.

Risa pun menghalau airmatanya dan mencoba tersenyum pada sosok Nyai Kenanga. Nyai Kenanga jelas merasa senang karena Risa bersedia kembali tersenyum ke arahnya.

"Aku ingin menghirup aroma bunga mawar putih kesayangan Nyai. Aku ingin mencari pelipur lara dengan cara itu," ujar Risa.

Sosok Nyai Kenanga pun mengangguk. Risa bangkit dari lantai teras itu dan berjalan menuju taman bunga. Ia menghirup salah satu bunga mawar putih yang sedang merekah indah dan begitu segar. Nyai Kenanga pun menunjukkan sesuatu pada Risa melalui kelebatan bayangan yang kembali melintas dalam pikiran wanita itu. Risa menyaksikan kelebatan bayang tersebut dalam pikirannya, hingga sebuah senyuman bahagia pun terbit di wajah cantik itu.

"Risa!" panggil Meilani, dengan nafas terengah-engah.

Risa pun membuka kedua matanya, lalu menoleh ke arah Meilani setelah berhenti menghirup aroma bunga mawar putih tadi.

"Ya Allah, Sa! Kamu itu benar-benar bikin aku jantungan tahu! Bisa-bisanya kamu bangun dan enggak membangunkan aku! Aku cari-cari kamu ke seluruh rumah, eh, tahu-tahunya kamu ada di sini dan sedang menghirup aroma bunga mawar putih! Keterlaluan kamu!" omel Meilani, benar-benar tanpa jeda.

Meilani pun langsung menempelkan kembali ponselnya ke telinga.

"Sudah ketemu, Mas Dandi. Anak bandel itu ternyata ada di taman bunga belakang rumah Nyai Kenanga. Entah kegilaan apa yang merasuki dia sampai-sampai tengah malam buta begini mencari-cari aroma bunga mawar putih. Nanti Mas Dandi marahi saja sendiri kalau ketemu. Sekalian, jewer saja telinganya biar dia tahu rasa," saran Meilani.

Risa pun langsung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan tawa, usai mendengar masukan yang Meilani cetuskan untuk Dandi.

"Memangnya menurutmu Mas Dandi benar-benar akan memarahi aku kalau dia sudah tiba di hadapanku besok? Wah ... tampaknya hal itu harus ditunggu, agar bisa terlaksana besok pagi," ujar Risa dengan santai, sambil berlalu menuju ke dalam rumah.

"Risa Arimbi! Jangan pancing aku untuk menyuruh Zul ceramah berjam-jam di hadapanmu, ya!" omelan Meilani semakin menjadi-jadi.

* * *

TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang