13 | Keputusan Mendadak

3.1K 277 18
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

Risa hanya tersenyum seadanya ketika mendengar yang Rumsiah katakan soal wajahnya. Romi mendekat dan memperlihatkan lukisan Nyai Kenanga yang tadi dikirimkan oleh Zulkarnain.

"Apakah ini adalah Nyai Kenanga, Mbah?" tanya Romi.

"Iya, Nak. Itu adalah Nyai Kenanga. Kamu dapat foto itu dari mana?" tanya Rumsiah, tampak heran dengan foto yang diperlihatkan oleh cucunya.

"Tadi aku masuk ke rumah milik Nyai Kenanga, Mbah, bersama Pak Kades dan juga kedua rekanku. Foto itu diambil oleh Pak Kades dan tampaknya dikirimkan kembali pada Romi," jawab Risa, sambil menatap datar ke arah Zulkarnain dan Romi secara bergantian.

Zulkarnain jelas akan mendapat omelan dari Risa atau Meilani, setelah mereka tidak lagi berada di tengah-tengah orang banyak. Ia jelas harus siap menerima hal itu, karena telah berani mengirimkan foto dari lukisan Nyai Kenanga yang tadi mereka lihat.

"Kamu masuk ke sana, Nak? Kamu masuk ke rumahnya Nyai Kenanga? Tidak terjadi apa-apa padamu saat masuk ke sana, 'kan? Kamu tidak terkena kutukan, 'kan?" Rumsiah tampak sangat khawatir.

"Iya, Mbah, alhamdulillah aku baik-baik saja dan tidak terkena kutukan apa pun. Aku tadi masuk ke sana untuk memeriksa sesuatu. Maka dari itulah aku menemukan surat yang ditulis oleh Nyai Kenanga untuk seorang pria bernama Panji S. Tapi aku tidak tahu apa kepanjangan huruf S yang ada di belakang nama pria itu, Mbah," jelas Risa.

"Satriaji, Nak. Nama lengkapnya Panji Satriaji," ungkap Rumsiah.

Dandi pun langsung membolakan kedua matanya setelah mendengar nama belakang yang Rumsiah sebutkan. Bahkan Risa dan Meilani pun langsung menatap ke arah Dandi untuk melihat ekspresi pria itu.

"Kenapa kalian berdua langsung menatap ke arah Pak Dandi?" tanya Zulkarnain.

"Nama belakang Mas Dandi adalah Satriaji," jawab Risa.

"Ya, itu benar. Satriaji adalah nama belakangku dan nama Kakekku memang Panji Satriaji," tambah Dandi.

"Kakeknya Pak Dandi pernah tinggal di Desa ini?" tanya Meilani.

Dandi menggelengkan kepalanya.

"Enggak tahu. Aku enggak pernah tanya-tanya soal asal-usul Kakekku sebelumnya," jawab Dandi.

"Ck! Jelas enggak mungkinlah kalau Kakeknya dia adalah orang yang sama dengan yang disebut oleh Nyai Kenanga di dalam suratnya. Memangnya yang memakai nama Panji Satriaji di dunia ini cuma satu orang?" sewot Kahlil.

Risa pun langsung melayangkan tatapan tajamnya ke arah Kahlil, setelah pria itu bicara dengan nada tidak sopan kepada Dandi.

"Siapa yang tanya pendapatmu? Diam saja! Jangan ikut campur!" tegas Risa.

Rumsiah pun langsung tertawa saat melihat cara Risa memarahi Kahlil. Semua orang kini kembali menatap ke arah Rumsiah.

"Bahkan cara kamu memarahi seseorang pun sama persis seperti cara Nyai Kenanga memarahi seseorang. Dulu semua warga di Desa ini sangat sering melihatnya memarahi seseorang, jika ada yang bicara tidak sopan terhadap orang lain terutama pada yang lebih tua," ujar Rumsiah, sambil memukul bahu cucunya berulang-ulang kali.

Romi meringis kesakitan, saat menerima pukulan dari Neneknya yang tampak senang karena bisa berbicara dengan Risa. Risa sendiri kini tampak jadi serba salah, karena menerima penilaian yang begitu blak-blakan dari orang yang baru ia kenal. Rumsiah kemudian dibawa pulang kembali oleh anaknya, sementara Romi kini kembali menjauh bersama Kahlil yang masih saja merasa cemburu terhadap interaksi antara Risa dan Dandi.

"Jadi bagaimana, sekarang? Apakah kita akan melanjutkan penyelidikan soal teror mawar berdarah itu meski Mbah Tejo tidak akan mengizinkan kita datang ke rumahnya lagi?" tanya Meilani.

"Ya, kita akan tetap melanjutkan penyelidikannya. Tidak peduli kalau Mbah tua itu mau mengamuk sekalipun. Aku merasa yakin tetap akan bisa menginjakkan kaki di rumahnya pada waktu yang tepat," jawab Risa, tak ragu-ragu.

"Jadi sekarang apakah sebaiknya kita kembali ke kantor?" tanya Dandi.

"Mm ... silakan saja kalau Mas Dandi dan Mei mau kembali ke kantor. Aku akan pulang," Risa kembali memberi jawaban sambil melangkahkan kaki dari tempatnya berdiri saat itu.

"Eh? Mau pulang? Mau pulang ke mana kamu, Sa? Kok malah menyerahkan kunci mobilmu ke tanganku?" heran Meilani.

Risa pun mengeluarkan kunci rumah milik Nyai Kenanga dan memperlihatkannya pada semua orang sambil terus berjalan.

"Aku mau pulang ke rumah Nyai Kenanga. Aku akan menginap malam ini di rumah itu untuk membersihkan halaman depan dan seluruh bagian rumah yang penuh debu."

Meilani pun segera mengejar langkah Risa dan kembali bergelayut manja di lengan sahabatnya itu seperti tadi.

"Hah? Kamu mau menginap di rumah Nyai Kenanga? Kamu serius, Sa? Butuh kupanggilkan tukang kebun, tidak?" tanya Zulkarnain, yang sebenarnya panik atas keputusan mendadak yang diambil oleh Risa.

"Tidak usah ditanya, Pak Zul. Langsung saja panggilkan tukang kebunnya," ujar Dandi.

Pria itu segera mengeluarkan uang untuk membayar tukang kebun yang akan dipanggil oleh Zulkarnain. Zulkarnain menerima uang itu dengan ekspresi bingung.

"Tukang kebun di rumahku tidak perlu dibayar loh sebenarnya, Pak Dandi. Dia sudah menerima gaji bulanan dariku," ujar Zulkarnain.

"'Kan kali ini dia akan bekerja di rumah yang bukan rumah Pak Zul. Jadi sebaiknya dia diberi uang bayaran yang berbeda."

Kasminah mendengar jelas obrolan itu, bersama Kahlil dan Romi yang masih berdiri di depan pagar rumah Kahlil. Mereka bertiga juga tampak sangat kaget dengan keputusan yang diambil oleh Risa, bahwa dirinya akan menginap di rumah milik Nyai Kenanga.

"Dari tadi aku sebenarnya mau tanya satu hal. Kok bisa ya, Risa tidak terkena kutukan saat masuk ke area rumah milik Nyai Kenanga? Dan juga yang lainnya termasuk Zul, kok bisa mereka sesantai itu menanggapi tentang Risa yang akan menginap di sana malam ini?" heran Romi.

Risa masuk ke dalam rumah milik Nyai Kenanga untuk kedua kalinya hari itu bersama Meilani. Dandi dan Zulkarnain kini sedang sibuk mengarahkan tukang kebun yang Zulkarnain panggil untuk membersihkan halaman depan rumah tersebut. Risa membuka pintu depan lebar-lebar agar udara yang masuk jauh lebih banyak. Sosok Nyai Kenanga yang sedang duduk dan tersenyum di kursi ruang tamu tampak menatap ke arah Risa.

"Sa, bagian mana dulu yang mau dibersihkan?" tanya Meilani.

"Aku akan bersihkan teras depan dan ruang tamu ini, Mei. Kamu bersihkan saja ruang tengah dan dapur. Terakhir baru kita bersihkan kedua kamar yang ada di rumah ini," jawab Risa.

"Oke, Komandan! Siap, laksanakan!" tanggap Mei, lebih semangat daripada Risa yang tadi membuat keputusan.

Risa hanya bisa terkikik geli saat melihat tingkah Meilani yang selalu saja konyol jika berada di hadapannya. Ia segera mengambil sapu yang tadi ditemukannya di bagian dapur rumah itu. Risa mulai menyapu semua debu yang memenuhi lantai, sementara dirinya terus saja ditatap oleh sosok Nyai Kenanga yang terus tersenyum ke arahnya.

"Dek Risa, pagarnya mau dicat ulang atau tidak?" tawar Dandi, seraya menatap Risa begitu dalam dari teras rumah tersebut.

* * *

TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang