19 | Balas Dendam

3K 267 15
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

Rumsiah mendengar semua itu dari dalam rumahnya bersama dengan Asih dan Yatno yang sedang bertamu, untuk membicarakan soal Risa. Asih dan Yatno memang sudah sepakat akan menemui Rumsiah pagi itu, setelah semalam mereka melihat sendiri wajah Risa yang benar-benar tidak ada bedanya dengan wajah Nyai Kenanga. Namun mereka tidak menyangka sama sekali kalau akhirnya akan melihat perdebatan di jalanan dan di depan rumah Rumsiah, antara Risa, Kahlil, Romi, dan Zulkarnain. Mereka juga tidak menyangka kalau Zulkarnain pernah turut andil membantu Kahlil untuk memfitnah Risa saat mereka masih SMP.

"Ya Allah ... cucuku itu selalu saja ikut-ikutan dengan perbuatan buruknya Kahlil! Entah bagaimana caranya aku bisa menghadapi Cah Ayu itu sekarang," keluh Rumsiah, merasa malu jika sampai harus bertemu dengan Risa.

"Cucuku juga sama saja seperti cucunya sampeyan. Tapi mau bagaimana lagi, Mbah Rumsi? Sampeyan 'kan sudah dengar sendiri, bahwa Cah Ayu itu memang mau datang ke sini untuk bertemu dengan sampeyan. Mau tidak mau ... siap tidak siap ... sampeyan memang harus bertemu dengan dia," ujar Asih, mencoba menenangkan Rumsiah.

Tak lama kemudian, Romi masuk ke dalam rumah milik Rumsiah dan langsung menerima tatapan kesal dari Neneknya. Romi sadar bahwa nanti dirinya akan langsung dimarahi oleh Rumsiah, karena Rumsiah jelas tidak bisa terima karena Romi pernah ikut dalam rencana jahatnya Kahlil terhadap Risa.

"Risa mau bertemu, Mbah. Dia mau ...."

"Langsung minta dia masuk! Kamu sebaiknya tidak ada di ruang tamu rumah ini dan tidak boleh ikut mendengarkan pembicaraan kami semua! Pulang ke rumah orangtuamu dan tunggu waktunya sampai aku yang mendatangi kamu di sana!" perintah Rumsiah, tak main-main.

Romi jelas hanya bisa mengangguk patuh atas perintah yang Rumsiah berikan. Ia mempersilakan Risa dan yang lainnya untuk masuk, sementara dirinya segera pulang ke rumah orangtuanya.

"Assalamu'alaikum," ucap semua yang datang bertamu.

"Wa'alaikumsalam, Nak. Mari masuk. Silakan duduk," sambut Rumsiah dengan sangat ramah.

Rumsiah segera ke dapur untuk membuat minuman. Zulkarnain tampak salah tingkah karena ternyata di rumah Rumsiah saat itu ada Kakek dan Neneknya yang sekarang tengah menatapnya dengan penuh rasa sebal. Ia tahu bahwa dirinya akan dimarahi mengenai perkara ikut-ikutan memfitnah untuk membantu Kahlil putus dari Risa. Selain itu, mungkin dirinya akan dimarahi juga karena kini ia berani duduk di antara Meilani dan Risa, padahal ia adalah orang yang memiliki salah besar pada salah satu dari kedua wanita itu.

"Kamu mau apa berada di sini bersama mereka bertiga? Pulang sana! Aku malu punya cucu yang suka membantu tukang fitnah seperti Kahlil!" tegas Yatno dengan keras.

Zulkarnain pun hendak berdiri dari tempatnya duduk saat itu, namun kedua tangannya segera ditarik kembali oleh Meilani dan Risa hingga dirinya batal angkat kaki dari rumah Rumsiah.

"Tunduk," ujar Risa, sambil mengarahkan kepala Zulkarnain untuk benar-benar tunduk di depan Kakek dan Neneknya. "Kalau dimarahi dan diusir oleh orangtua itu jangan malah betul-betul angkat kaki. Minta maaf dan akui kesalahanmu."

Asih langsung menahan diri untuk tidak tertawa saat melihat secara langsung hal yang tadi Rumsiah ceritakan tentang Risa. Wanita itu jelas benar-benar sama persis dengan Nyai Kenanga, bahkan caranya bicara, bersikap, serta caranya mengajari orang lain benar-benar sama persis. Tidak ada yang bisa membedakan dan bahkan orang lain akan berpikir kalau Risa adalah anak dari Nyai Kenanga saking miripnya.

"Ma--maafkan aku, Mbah. A--aku be--benar-benar tidak ta--tahu, ka--kalau waktu i--itu ...."

"Tenggorokanmu keselek biji kedondong atau bagaimana? Bicara sama orangtua kok gagap-gagap?" heran Meilani, sambil melirik ke arah Zulkarnain dengan sengit. "Padahal dulu waktu kamu membantu Kahlil menyudutkan Risa dan bicara kasar padanya, kamu sama sekali tidak gagap loh, Zul."

Dandi pun langsung menutup wajahnya dengan sebelah tangan untuk menahan senyum agar tidak terlihat oleh siapa pun. Dandi kini paham tentang mengapa Risa bisa betah sekali berada di samping Meilani selama belasan tahun, meski mereka acapkali bertengkar dan adu mulut. Meilani jelas adalah seseorang yang benar-benar cocok untuk melengkapi Risa dalam urusan menusuk-nusuk hati seseorang dan memperkeruh suasana, seperti yang Risa sukai selama ini.

"Jangan minta maaf pada kami. Minta maaf pada orang yang kamu sakiti. Bahkan kalau perlu, kamu harus memulihkan nama baik dia di depan semua orang yang pernah percaya dengan fitnahnya Kahlil," ujar Asih.

"Mohon maaf, Mbah," sela Risa, sopan. "Sayangnya hal itu tidak akan bisa dilakukan sampai tuntas, oleh Kahlil, Romi, ataupun oleh Zul sendiri. Karena sekarang, sudah ada beberapa orang di antara teman-teman satu angkatan kami yang meninggal dunia. Dan sayangnya mereka harus meninggal dengan tetap mempercayai bahwa aku ini adalah wanita tukang selingkuh yang suka jual diri di belakang Kahlil."

Zulkarnain semakin merasa bersalah karena diingatkan tentang isi fitnah yang ia katakan bersama Romi dan Kahlil bertahun-tahun lalu. Ia menoleh ke arah Risa dan mendapat tatapan sinis dari wanita itu.

"Kenapa? Kamu mau tanya apakah aku sengaja menggunakan kesempatan saat ini untuk membalas dendam padamu, tepat di depan Mbah Kakung dan Mbah Putrimu? Kalau memang itu yang kamu pikirkan, biar aku beri tahu padamu jawabannya. Iya. Aku saat ini memang sengaja membalas dendam padamu di depan Mbah Kakung dan Mbah Putrimu. Karena saat aku keluar dari pintu itu nanti, aku tidak akan lagi pernah membahas kesalahanmu karena aku sudah memaafkan kamu di depan mereka berdua. Kamu harus bersyukur karena aku membalas dendam dengan cara seperti ini. Kalau aku ingin menuruti amarahku yang sudah aku pendam bertahun-tahun, maka mungkin kamu sudah aku buat malu di depan seluruh warga Desa Banyumanik ini dan kubuat hancur karirmu yang cemerlang itu sampai tidak ada lagi yang tersisa selain coreng hitam di wajahmu. Paham, kamu?"

Rumsiah meletakkan nampan berisi minuman dan cemilan di meja ruang tamu, saat Asih dan Yatno masih terdiam sambil menatap ke arah Risa.

"Mbah Rumsi ... sampeyan yakin kalau dia bukan Nyai Kenanga?" tanya Yatno.

"Kalau dia adalah Nyai Kenanga, maka seharusnya dia sudah terlihat tua dan mulai keriput, Mbah Yatno. Usia Nyai Kenanga itu malah lebih tua tiga tahun dari usia Istri Sampeyan," jawab Rumsiah.

Risa pun langsung menatap ke arah ketiga orangtua tersebut saat mendengar nama Nyai Kenanga disebut-sebut. Ia menunjukkan wajahnya yang sangat serius, ketika akan memulai pembicaraan dengan para orangtua yang mengenal Nyai Kenanga tersebut.

"Kebetulan sekali, kedatanganku ke sini memang untuk bertanya soal Nyai Kenanga. Aku ingin tahu semuanya tentang Nyai Kenanga," ujar Risa, mengutarakan niatnya dengan sangat jujur.

* * *

TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang