25 | Mencari Tahu Lebih Banyak

2.8K 265 6
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

"Sekarang tujuan kita ke mana?" tanya Zulkarnain.

"Kamu kembalilah ke kantor Desa. Kami bertiga harus menemui Bu Riana dan Putrinya. Ada hal yang harus aku gali dari kedua wanita itu," jawab Risa, kembali memimpin jalannya penyelidikan.

Zulkarnain pun langsung menekuk wajahnya karena tahu bahwa kali ini dirinya jelas takkan bisa memaksa ikut. Risa jelas tahu betul langkah yang tepat untuk membuat Zulkarnain bungkam, yaitu membawa Meilani pergi jauh dari sisinya dan tidak tahu kapan akan kembali ke Desa Banyumanik.

"Kapan kembali lagi ke sini, Sa?" Zulkarnain ingin memastikan.

"Entah besok, entah lusa. Kami akan kembali tinggal dulu di rumah kost seperti biasanya," ujar Risa, sengaja ingin menyiksa Zulkarnain.

Meilani hanya berusaha menahan tawa saja saat Risa memberikan jawaban seperti itu pada Zulkarnain. Dandi tidak mau ikut campur, karena menurutnya Risa berhak memberikan jawaban apa pun yang dia mau.

"Kok mendadak begitu, Sa?" Zulkarnain ingin sekali melancarkan protes.

"Rumah itu adalah rumah milik Nyai Kenanga, Zul. Bukan milikku. Kalau sudah jadi milikku seutuhnya, baru akan aku tempati bersama Mei sebelum dia menemukan rumah permanen yang akan dia beli. Sudah, ya, kami pergi dulu. Assalamu'alaikum," pamit Risa, sambil menaikkan kaca mobilnya agar tertutup rapat.

"Wa'alaikumsalam," jawab Zulkarnain dengan suara lemas.

Dandi melambaikan tangannya pada Zulkarnain, lalu dengan cepat melajukan mobilnya untuk mengikuti mobil milik Risa yang sudah duluan pergi meninggalkan Desa Banyumanik. Meilani akhirnya tertawa terbahak-bahak di dalam mobil setelah benar-benar jauh dari Desa Banyumanik. Risa hanya tersenyum-senyum saja saat melihat kelakuan Meilani yang tampak seperti remaja kasmaran.

"Kamu tega banget loh, Sa. Zul bisa stress nanti kalau kamu sering-sering membuat dia galau gara-gara enggak membawaku kembali ke Desa Banyumanik," ujar Meilani.

"Biarkan saja dia stress. Siapa suruh dia mendekati kamu menggunakan cara seperti anak remaja. Kalau dia memang serius mau terus berada di sisimu, maka dia harus menikahi kamu. Bukan hanya sekedar mendadak menjadi remaja baru mengalami masa puber kembali," tegas Risa.

Meilani yang sudah merekam ucapan Risa pada voice note pada aplikasi WhatsApp, segera mengirim voice note itu kepada Zulkarnain. Ia berusaha sekali menahan-nahan tawanya ketika perjalanan itu berlangsung, karena takut membuat Risa curiga terhadapnya.

ZUL
Ah ... ternyata Risa tahu kalau aku sedang berusaha mendekati kamu? Hm ... susah sekali berarti kalau mau berbohong di depan Risa, ya? Oke ... aku akan bicarakan pada keluargaku tentang keinginanku menikahi kamu. Tunggu saja kabar baiknya dan katakan pada Risa untuk tidak kaget kalau ada yang mendadak datang ke rumah Nyai Kenanga untuk melamar kamu.

Meilani pun semakin gigih menahan tawa agar tidak perlu ada yang lolos dari mulutnya meski hanya sedikit. Risa sedang benar-benar fokus pada jalanan di depan, jadi ia jelas tidak mau membuat perhatian sahabatnya itu teralihkan untuk melempar ponsel miliknya ke jalanan.

MEI
Suka-suka kamu sajalah, Zul. Intinya aku enggak akan berharap terlalu jauh, soalnya aku sudah bosan kecewa sejak masih kecil. Aku kerja dulu. Nanti kita ngobrol lagi kalau aku kembali ke Desa Banyumanik dua hari ke depan.

Meilani pun segera menyimpan ponselnya ke dalam saku dan duduk dengan tenang sambil menatap ke depan.

"Bagaimana dengan perasaanmu sendiri terhadap Zul? Apakah kamu juga menaruh rasa terhadapnya?" tanya Risa.

"Entahlah, Sa. Kamu tahu sendiri kalau aku paling malas memikirkan soal perasaan. Aku malas berurusan dengan kekecewaan, jika yang aku hadapi masih belum pasti. Kalau ada kepastian, baru aku akan tanya pada hatiku, apakah aku juga memiliki perasaan padanya atau tidak," jawab Meilani, sama seperti yang biasanya Risa dengar.

Mobil itu akhirnya berbelok ke pelataran parkir sebuah hotel. Mobil milik Dandi terlihat menyusul di belakang dan akhirnya parkir tepat di samping mobil milik Risa. Mereka bertiga masuk ke hotel tersebut dan meminta diantar ke kamar yang ditempati oleh Riana dan Alika. Ketika mereka tiba di kamar yang dituju dan berbasa-basi sebentar dengan Riana, akhirnya mereka benar-benar membicarakan hal paling inti yang ingin diketahui oleh Risa.

"Apa yang aku ketahui soal Mbah Tejo?" Riana pun terdiam selama beberapa saat. "Tidak banyak sebenarnya yang aku ketahui. Hanya beberapa hal saja yang pernah diceritakan oleh Almarhum Suamiku. Misalnya ... tentang Mbah Tejo yang dulunya adalah orang paling kaya di Desa Banyumanik, lalu soal Mbah Tejo yang begitu disegani oleh seluruh warga Desa Banyumanik. Itu saja. Tidak ada hal lain lagi."

Dandi dan Meilani pun menatap ke arah Risa yang sejak tadi tidak menatap ke arah Riana ketika mengajukan pertanyaan. Tatapan Risa justru terarah kepada Alika yang sejak tadi diam saja di belakang Ibunya.

"Apakah Bu Riana keberatan jika Alika yang menceritakan soal Mbah Tejo kepadaku?" tanya Risa, terdengar seperti meminta izin.

Riana pun menoleh ke arah belakang dan menjatuhkan tatapannya pada Alika. Alika pun balas menatap Ibunya sambil menggigit bibir bagian bawahnya.

"Lika, ada hal yang kamu ketahui tentang Mbah Kakungmu?" tanya Riana, yang tampaknya tidak tahu apa-apa.

Alika pun mengangguk pelan di hadapan Ibunya.

"A--aku sering tidak sengaja mendengar pembicaraan Mbah Kakung saat sedang belajar di ruang belajarku, Bu. Su--sudah sejak SMA aku sering sekali mendengar semua rahasia yang hanya dia bagi pada Mbah Putri," jelas Alika.

Riana pun kini menatap ke arah Risa kembali.

"Lalu, bagaimana anda bisa tahu kalau Putriku tahu sesuatu soal Mbah Kakungnya?" heran Riana.

"Aku sudah terbiasa mengamati gerak-gerik seseorang yang memiliki rahasia. Bahkan, terhadap Kakek dari Almarhum Suami anda pun aku sudah mengamatinya sejak pertama kali kami berhadapan. Hanya saja ... aku butuh suatu hal yang bisa membuktikan atau menguatkan kecurigaanku terhadap Mbah Tejo," jelas Risa.

Riana akhirnya meminta Alika mendekat kepadanya. Alika pun berpindah duduk tepat di samping Ibunya.

"Ceritakan, Sayang. Apa pun yang kamu tahu tentang Mbah Kakungmu, silakan ceritakan pada Ibu Polisi itu. Jangan lagi kamu pendam-pendam sendiri," saran Riana.

Alika pun langsung menatap ke arah Risa, bukan ke arah Meilani ataupun Dandi. Gadis itu tampaknya memang hanya ingin memberitahukan yang ia tahu kepada Risa.

"Mbah Kakungku sengaja pergi dari Desa Banyumanik bertahun-tahun lalu bersama Mbah Putriku bukan untuk merantau, Bu Risa. Merantau hanyalah alasan yang dia buat kepada kedua orangtuanya agar diizinkan pergi dari Desa Banyumanik. Mbah Kakungku takut akan sesuatu dan dia bilang pada Mbah Putriku, bahwa dia tidak mau kalau sampai Nyai Kenanga benar-benar membalas dendam kepadanya serta kepada anak-cucunya seperti sumpah yang sudah Nyai Kenanga ucapkan terakhir kali. Itu yang sering sekali aku dengar berulang-ulang dari Mbah Kakungku, Bu Risa," tutur Alika, tanpa menutup-nutupi apa pun.

* * *

TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang