57 | Menolak Ditangkap

2.8K 231 29
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW

* * *

Zulkarnain membawa mobil milik Risa dan pergi bersama Meilani menuju ke rumah sakit. Risa sendiri pergi bersama Dandi, karena Dandi tidak ingin Risa mengemudi akibat paha kanannya yang masih terasa sakit setelah tertusuk bebatuan. Ambulans yang membawa jasad Nyai Kenanga melaju paling depan dan kedua mobil lainnya yang mengikuti menyusul di belakang.

"Semoga saja tidak ada hambatan ketika proses autopsi berlangsung. Aku ingin menuntaskan semuanya malam ini juga, Mas. Aku tidak mau lagi ada yang ditunda-tunda, terutama untuk menyeret laki-laki tua itu dari tempat ternyamannya," ujar Risa.

Tangan Dandi yang bebas dari kemudi segera meraih tangan Risa untuk digenggam dengan erat. Risa pun menoleh, sehingga ia bisa menatap wajah Dandi. Ia baru menyadari, bahwa saat itu adalah pertama kalinya ia menatap Dandi begitu lama, tanpa perlu takut akan terjadi salah paham ataupun merasa canggung. Pria itu kini telah menjadi suaminya dan artinya ia tidak perlu lagi takut untuk menatapnya, kapan pun yang ia inginkan.

"Insya Allah semua akan berjalan lancar, Dek. Kita sudah melakukan yang terbaik untuk menemukan jasad Nyai Kenanga. Jadi sekarang ini kita hanya perlu menyerahkan sisanya pada Dokter Ahli Forensik dan setelah hasil autopsinya keluar, maka kita akan segera bertindak terhadap Mbah Tejo. Kita akan menangkapnya, aku tidak akan menunggu hari esok untuk merealisasikan hal tersebut. Aku tidak akan membuatmu kecewa," janji Dandi.

Risa masih menatap ke arah wajah suaminya, mengamati setiap detail yang selama ini tidak pernah ia sadari meski sering bertemu.

"Boleh aku menanyakan sesuatu padamu, Mas?" pinta Risa.

"Iya, Dek. Tentu saja boleh. Tanyakanlah. Jika bisa kujawab, maka Insya Allah akan kujawab," Dandi menyetujui permintaan itu.

"Kalau boleh aku tahu, sejak kapan Mas Dandi menyukaiku? Kenapa tadi pagi Mas Dandi mendadak ingin menikahiku, seakan Mas Dandi sudah merasa terlalu lama menunggu aku? Maaf kalau aku mendadak menanyakan hal seperti itu. Aku hanya ...."

"Sejak pertama kali aku bertemu kamu di perpustakaan sekolah kita, Dek," jawab Dandi.

Pria itu sengaja memotong ucapan Risa yang sudah mulai mengarah ke arah pembahasan yang canggung seperti biasanya. Ia jelas tidak mau kalau Risa kembali merasa canggung terhadap dirinya, karena kini mereka sudah sah menjadi sepasang suami-istri.

"Apa, Mas? Sudah selama itu?"

"Ya ... selama itu, Dek. Aku jelas tidak mungkin mengatakan padamu soal perasaanku. Karena saat kita saling kenal pertama kali, kamu sedang memiliki hubungan dengan ...."

"Tidak usah sebut namanya, Mas," pinta Risa dengan cepat. "Dia adalah masa lalu yang tidak ingin aku bahas lagi seumur hidup, terutama setelah apa yang hampir dia lakukan padaku. Aku benar-benar tidak ingin mengingatnya lagi, bahkan jika itu hanya namanya yang aku dengar."

"Iya, Dek. Maaf, ya. Aku enggak ada niatan sama sekali mau membahas soal dia. Aku hanya ingin mencoba menjelaskan padamu tentang alasan kenapa aku ...."

Cup!

Sebuah kecupan mendarat begitu cepat di pipi kiri Dandi. Hal itu sukses membuat Dandi merasa kaget dan melirik sesekali ke arah Risa yang sudah tampak kembali menatap ke arah depan.

"Kok cuma sebentar, Dek? Kenapa tidak lebih lama kalau kamu memang mau cium pipiku? Ayo, coba ulangi lagi," pinta Dandi, mencari-cari alasan yang tidak klise.

"Nanti saja di rumah, Mas. Ikut belok seperti yang Zul lakukan, Mas. Kita sudah sampai di rumah sakit," Risa mencoba mengalihkan situasi.

"Aku akan menagih janji kamu saat sampai di rumah nanti," sahut Dandi, sambil berbelok mengikuti mobil yang Zulkarnain bawa.

Jasad Nyai Kenanga segera diautopsi ketika tiba di rumah sakit. Risa duduk di samping Meilani ketika mereka berempat menunggu di ruang tunggu rumah sakit tersebut. Gelas yang tadi diberikan oleh Romi sudah diserahkan kepada Dokter Ahli Forensik yang akan melakukan autopsi. DNA yang tertinggal pada gelas itu akan dijadikan perbandingan dengan DNA yang tertinggal pada jasad Nyai Kenanga.

Dua jam kemudian, akhirnya hasil autopsi diberikan oleh pihak rumah sakit. Keempat orang yang menunggu sejak tadi langsung membaca hasil autopsi tersebut bersama-sama. Perasaan mereka terasa sangat lega, ketika melihat angka kecocokan uji DNA yang terdapat pada jasad dan sampel DNA pembanding dari gelas bekas dipakai oleh Sutejo.

"Sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen cocok. Ayo, akan aku keluarkan surat perintah penangkapan untuk Mbah Tejo dan juga Istrinya sebagai kaki tangan pembunuhan, yang menutupi kejahatan Suaminya selama dua puluh lima tahun terakhir," ajak Dandi.

Risa akhirnya benar-benar membuktikan ucapannya, bahwa ia akan kembali lagi menginjakkan kaki ke rumah Sutejo meski pernah diusir oleh Sutejo secara langsung. Sutejo dan Juminah yang malam itu sedang duduk-duduk di teras rumah menatap tajam ke arah Risa, ketika melihat wanita itu datang bersama banyaknya anggota kepolisian yang berjalan di belakangnya.

"Mau apa kamu datang ke sini lagi, perempuan penganut ilmu hitam??? Sudah tidak punya malu kamu, hah???" bentak Sutejo, sambil berkacak pinggang.

Dandi dan Meilani terus mendampingi Risa yang tampaknya tidak peduli dengan bentakan dari Sutejo barusan. Risa langsung memperlihatkan surat penangkapan yang sudah berada di tangannya.

"Saudara Sutejo ... saudari Juminah ... kalian berdua ditangkap atas tindakan kejahatan yang kalian lakukan terhadap Almarhumah Nyai Kenanga. Jasad Almarhumah Nyai Kenanga yang diperkosa dan dibunuh oleh saudara Sutejo telah ditemukan dan telah dilakukan autopsi yang hasilnya menunjukkan, bahwa saudara Sutejo telah memperkosa Almarhumah Nyai Kenanga sebelum akhirnya membunuh dan menguburkan jasadnya secara tidak layak di taman bunga mawar putih belakang rumah milik Nyai Kenanga," tutur Risa, menjabarkan isi surat penangkapan tersebut.

Juminah langsung menoleh ke arah Sutejo sambil melayangkan tatapan marahnya.

"Kamu memperkosa Nyai Kenanga sebelum membunuhnya??? Jadi malam itu kamu bukan datang ke sana hanya untuk membunuhnya karena dia menolak kamu, tapi juga karena kamu sudah memperkosanya dan takut dia buka mulut, hah??? Jawab, Pak!!! Jawab!!!" tuntut Juminah.

"Diam kamu!!!" bentak Sutejo.

Laki-laki tua itu pun menatap tajam ke arah Risa.

"Aku tidak membunuh Nyai Kenanga!!! Itu fitnah!!!" teriak Sutejo.

Para Polisi yang tadi ada di belakang Risa langsung membekuk Sutejo dan Juminah, lalu memakaikan borgol pada kedua tangan mereka.

"Lepaskan!!! Aku tidak ada sangkut pautnya dengan kejahatan Suamiku!!!" teriak Juminah, berusaha melawan.

Risa pun langsung menghadapinya dan menatap marah kepada wanita tua tersebut.

"Maka seharusnya kamu tidak menyuruh Suamimu untuk menggali lebih dalam pada lubang yang digalinya! Maka seharusnya kamu tidak menendang jasad Nyai Kenanga malam itu, agar aku tidak perlu menyeretmu bersama Sutejo agar membusuk di penjara selama-lamanya!" desis Risa, meluapkan amarah dengan caranya sendiri.

Juminah merasa kaget saat mendengar Risa membeberkan perbuatannya dimasa lalu terhadap jasad Nyai Kenanga sebelum dikubur di bawah taman bunga mawar putih. Lidahnya mendadak kelu dan tak lagi bisa mengatakan apa pun, termasuk sebuah pengelakan. Sutejo dan Juminah pun diseret keluar dari rumah mereka menuju ke mobil Polisi yang sudah menunggu. Para warga Desa Banyumanik meluapkan amarah mereka dan mengucapkan caci maki kepada Sutejo yang ternyata adalah seorang pemerkosa dan pembunuh. Malam itu, tidak ada lagi yang bisa disembunyikan oleh siapapun. Semua benar-benar terbongkar. Semua benar-benar berakhir seperti yang seharusnya terjadi dua puluh lima tahun lalu, jika saja jasad Nyai Kenanga ditemukan.

* * *

TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang