Romansa - Spiritual - Abdi Negara
Arshaka Farzan Ghaziullah El-Zein adalah seorang Perwira Polisi berpangkat Ipda. Terlepas dari profesinya, Farzan juga merupakan laki-laki yang memiliki pemahaman agama baik dan hafidz quran.
Suatu kejadian membuat...
"Ketika takdirku dan takdirmu tertulis sama di lauhul mahfudz-Nya. Maka pasti akan ada waktu dimana kita akan dipersatukan, serumit apapun jalannya."
-Arshaka Farzan Ghaziullah El-Zein-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah tiga hari menjalani perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Jakarta, Farzan sudah diperbolehkan pulang dengan syarat masih harus banyak istirahat dan tidak melakukan aktivitas berat agar lukanya segera membaik pasca operasi. Dengan itu, Farzan mendapatkan izin untuk tidak masuk kantor beberapa hari.
Dan ini sudah hari kedua setelah Farzan keluar dari rumah sakit. Walaupun sesekali lukanya masih terasa nyeri, namun hari ini sudah lebih membaik daripada kemarin-kemarin. Farzan pun tidak ingin menunda waktu lagi untuk mendatangi rumah Komandan Andika demi mendengarkan jawaban Aliza atas lamarannya yang sudah tertunda beberapa saat.
Walaupun begitu, Farzan harus meminta izin kepada ayah dan bundanya. Awalnya ayah dan bunda sempat tidak mengizinkan, namun setelah berusaha merayu lagi, akhirnya ia diizinkan. Toh, tidak baik juga menunda terlalu lama, kasihan juga Aliza yang sudah siap dengan jawabannya.
"Oppa, yakin sudah kuat?" tanya Zana menghampiri Farzan yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin.
Farzan mengangguk. "Sudah," jawabnya seraya fokus meratakan minyak rambut untuk merapikan rambutnya.
"Serius lukanya sudah nggak sakit?" Zana masih khawatir. Ia bahkan meraba-raba bagian luka di perut Farzan yang tertutup kemeja batik itu.
"Serius. Sudah....jangan khawatir ya, Cantik," ujar Farzan menoleh pada kembarannya itu.
Zana mengangguk. "Sehat-sehat terus ya, Oppa. Hati-hati kalau bertugas. Aku nggak mau kehilangan Kakak untuk yang kedua kalinya."
Farzan tersenyum. "Siap. Lain kali pasti selalu hati-hati dan waspada," balasnya. Lalu Farzan merangkul Zana menuju ruang keluarga yang dimana ayah dan bunda sudah menunggu.
Ayah dan bunda sudah rapi dan serasi dengan pakaian nuansa biru, begitupun dengan Zana. Bahkan Farzan pun juga menggunakan kemeja batik nuansa biru. Memang sengaja menggunakan nuansa yang sama agar terlihat rapi dan serasi sekeluarga.
"Farzan, sini duduk dulu," titah ayah. Farzan pun menurut dan duduk di hadapan ayah.
"Nak, kamu sudah siap dengan konsekuensinya kan? Ditolak atau diterima, kamu harus siap!"
Farzan mengangguk. "Insya Allah Farzan sudah siap apapun jawaban dari Aliza nantinya, Yah," jawabnya. "Farzan sudah menyerahkan urusan ini pada Allah sebaik-baik pencipta takdir. Kalau Aliza memang tertakdir untuk Farzan, Allah pasti menggerakkan hati Aliza untuk menerima lamaran Farzan nantinya. Sebaliknya jika Allah memang tidak menakdirkan, maka Farzan yakin Allah punya rencana-Nya yang terbaik."