30. Nahkoda, Laut dan Cuacanya yang Berubah-ubah

74.9K 5.7K 1.8K
                                        

بسم الله الرحمن الرحيم

"Laki-laki adalah nahkoda dan perempuan adalah laut dengan segala cuacanya yang berubah-ubah. Jika seorang nahkoda tidak bisa bertahan dengan laut dan segala cuaca yang akan dilalui, bagaimana mungkin sebuah kapal akan sampai ke pelabuhan dengan selamat?"

Arshaka Farzan Ghaziullah El-Zein—

Udara diluar berkabut, dingin menusuk kulit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Udara diluar berkabut, dingin menusuk kulit. Daerah pantai yang biasaya panas kini berhawa dingin. Samar-samar terdengar suara alunan murrotal dari ponsel yang diletakkan di nakas samping tempat tidur.

Dalam ruangan yang gelap ini, tampak dua insan sedang tertidur lelap di balik selimut. Namun beberapa saat kemudian, keduanya sama-sama bergerak, hingga yang mulanya tidur terlentang, kini saling berhadapan sambil mengumpulkan nyawa yang sempat pergi kepada Rabb-nya.

"Sudah bangun, hm?" Farzan dengan suara rendah dan pelannya sambil menatap Aliza.

Aliza mengangguk.

"Tidurnya nyaman, hm?

Aliza kembali mengangguk.

Farzan tersenyum, "Baca doa bangun tidur dulu ya."

Kedua insan itu hening beberapa saat untuk membaca doa.

"Mas, memangnya kalau kita lagi tidur, ruh kita perginya kemana?" tanya Aliza tiba-tiba.

"Ke dalam genggaman Allah," jawab Farzan.

Aliza mengerutkan dahinya bingung. "Maksudnya, Mas? Berarti setiap tidur sama aja kita meninggal dong, kalau ruh kita ada di genggaman Allah?"

"Jadi gini Sayang, dalam Al-Qur'an Surah Az-Zumar ayat 42, Allah berfirman," Farzan diam sejenak dan mulai membaca ayat yang disebutnya.

ٱللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَٱلَّتِى لَمْ تَمُتْ فِى مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ ٱلَّتِى قَضَىٰ عَلَيْهَا ٱلْمَوْتَ وَيُرْسِلُ ٱلْأُخْرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Artinya, Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir."

"Jadi Sayang, saat kita sedang tertidur, ruh atau jiwa kita memang berada dalam genggaman Allah. Allah akan menahan ruh yang sudah ditetapkan kematiannya dan mengembalikan ruh kepada tubuh yang belum tiba waktu kematiannya. Maka dari itu, membaca doa bangun tidur adalah bentuk syukur karena Allah masih mengembalikan ruh kita dan memberi kesempatan untuk kita mengumpulkan amal lebih banyak lagi," jelas Farzan.

Lentera Takdir (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang