14. Kesedihan di Rumah Sakit

72.8K 7.6K 3.6K
                                        

بسم الله الرحمن الرحيم

"Ternyata benar, dinding rumah sakit lebih sering mendengar doa yang tulus daripada dinding rumah ibadah."

Lentera Takdir—

—Lentera Takdir—

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Akhh...A-Astaghfirullah..," lirih Farzan memegangi hoodienya yang sudah berlumuran darah hingga akhirnya ia tak kuasa dan terjatuh ke tanah dengan matanya yang perlahan memejam sempurna.

"PELAKU MELUKAI IPDA FARZAN!"

DORR!

Sebuah tembakan diluncurkan tepat mengenai punggung pelaku yang berusaha kabur. Ia pun seketika terkapar di tanah setelah menerima tembakan itu. Entah bagaimana kondisinya, yang jelas pelaku tidak bergerak beberapa saat. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, para anggota langsung mengamankan pelaku.

"Amankan pelaku dan panggil ambulan untuk Ipda Farzan!" titah Komandan Andika.

"Siap, laksanakan, Komandan!"

Komandan Andika duduk di samping Farzan, beliau tampak sangat khawatir. Komandan Andika juga mengecek detak jantung Farzan. Beliau bernapas lega karena jantungnya masih berdetak.

"Farzan, bertahan sebentar lagi ya.."

"Angkat Ipda Farzan, bawa ke depan."

"Siap, Komandan!"

Beberapa anggota pun dengan segera mengangkat tubuh Farzan dan membawanya ke depan. Sesampainya di teras rumah, mereka membaringkan tubuh Farzan.

"Komandan, bagaimana Ipda Farzan?" tanya Devan panik.

"Dia tertusuk pisau cukup keras," jawab Komandan Andika lemah.

"Kurang ajar! Siapa yang berani melukai Ipda Farzan?!" emosi Devan membara. "Mana pelakunya?" Devan dengan wajah memerah dan tangannya yang mengepal.

Dhafi yang melihat itu bergegas menahan Devan. "Pelakunya sudah diamankan. Lo jangan kebawa emosi. Lihat Ipda Farzan. Kita harus bawa dia ke rumah sakit."

Devan menjatuhkan tubuhnya tepat di sisi Farzan. "Ya Allah...Ipda Farzan bertahan ya. Ipda Farzan harus kuat.."

Tak lama kemudian suara sirine ambulan terdengar membelah kerumunan warga yang sudah memenuhi halaman rumah pelaku.

Para anggota bergegas mengangkat Farzan ke brankar dan dibawa ke ambulan oleh petugas. Devan dan Dhafi ikut masuk menemani Farzan di dalam ambulan. Sementara Komandan Andika mengejar dengan mobil.

Farzan, maafkan saya. Karena menolong saya, kamu jadi terluka seperti ini, gumam Komandan Andika merasa bersalah.

******

Lentera Takdir (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang