22. Tentang Cinta

89.6K 6.4K 1.8K
                                        

بسم الله الرحمن الرحيم

"Tidak semua hubungan harus dimulai karena cinta. Tapi yang terpenting adalah ridho Allah. Jika Allah sudah ridho, maka mudah bagi Allah menghadirkan cinta di dalamnya. Percuma saling mencintai jika hubungannya saja Allah tidak ridho. Maka cintanya sia-sia dan kisahnya hanya zina."

—Arshaka Farzan Ghaziullah El-Zein—

Lentera Takdir by Alfia Ramadhani

*******

Di keheningan dan kesunyian malam, Farzan terbangun dari lelap tidurnya. Tidak ada suara alarm atau suara yang menganggu tidurnya. Farzan memang sudah terbiasa bangun di waktu-waktu ini. Waktu sepertiga malam terakhir, saat Allah turun ke langit dunia untuk mengabulkan doa-doa hamba-Nya yang memohon. Oleh karenanya, sepertiga malam menjadi waktu yang mustajab untuk berdoa.

Saat kebanyakan orang masih terlelap dalam tidurnya. Maka waktu ini membuktikan, siapakah manusia yang benar-benar masih bergantung dan selalu membutuhkan Allah sehingga ia bersujud dan menangis di atas sajadahnya dalam berdoa dan memohon ampunan.

Farzan tersenyum, biasanya ia langsung bangun untuk bergegas mandi dan shalat malam. Namun kali ini tidak, Farzan masih tetap di posisinya. Mengusap-usap tangan yang melingkar di pinggangnya. Ia masih tidak menyangka, di sisinya ada seorang perempuan yang tertidur sambil memeluknya.

"Masyaallah...Rasanya nggak mau bangun kalau di depan mata ada pemandangan secantik ini," ujar Farzan sambil menatap perempuannya yang masih tertidur lelap. Sesekali ia mengusap pipi perempuannya lembut.

"Tidur aja cantik, gimana kalau bangun, hm?" Farzan menoel-noel pipi Aliza. "Eh, maaf, Sayang," sambungnya terkekeh pelan. Untung saja tidak sampai membangunkan Aliza.

Farzan ingat, saat ini Aliza sedang berhalangan. Ia akan membiarkan perempuannya tetap tidur. Jadi ia harus pelan agar tidak membangunkan. Perlahan-lahan Farzan melepaskan pelukan sang istri dan membenarkan posisi tidurnya. Sebelum meninggalkan tempat tidur, Farzan melayangkan kecupan di kening Aliza.

"Kalau kehidupan ini hanya tentang dunia dan keindahannya, mungkin aku akan tetap di sampingmu dan menatap wajahmu sampai matahari terbit nanti. Tapi kehidupan dan keindahan dunia ini hanya sementara, yang kekal adalah akhirat. Sedang aku tidak mau kita hanya bersama di dunia. Tapi aku ingin kita bersama sampai surga-Nya. Dan semua itu tidak akan bisa diraih tanpa Allah. Jadi, di sepertiga malam ini aku akan berdoa untuk kita. Semoga Allah selalu menjaga dan membersamakan kita sampai di surga-Nya," ujar Farzan lirih dan pelan tepat di hadapan Aliza. Ia tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke kening Aliza.

Cup.

Sebelum beranjak, Farzan menarik selimut Aliza sampai menutupi ke lehernya. Kemudian laki-laki itu beranjak ke kamar mandi dan bersiap shalat malam.

Farzan merasakan sesuatu yang berbeda dalam shalatnya kali ini. Hatinya terasa lebih tenang saat yang ia sebut dalam doa adalah nama perempuan yang sudah halal baginya. Ini bukan lagi pertarungan tentang sebuah nama. Karena Farzan sudah memenangkannya. Sekarang tugasnya adalah tetap menyebut nama Aliza dalam setiap doa, sebagai kekasih pilihan Allah. Agar Allah selalu menjaganya dimanapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun saat Farzan tidak mampu menjangkaunya.

Farzan juga berdoa untuk dirinya sendiri. Ia mengibaratkan rumah tangganya sebagai pesawat. Maka ia berdo'a agar Allah menuntunnya untuk menjadi pilot yang handal dalam mengarungi fase kehidupan yang pasti harus melewati badai ini. Agar bisa selamat membawa perempuannya sampai bandara yang tepat, yaitu surga-Nya.

Lentera Takdir (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang