Romansa - Spiritual - Abdi Negara
Arshaka Farzan Ghaziullah El-Zein adalah seorang Perwira Polisi berpangkat Ipda. Terlepas dari profesinya, Farzan juga merupakan laki-laki yang memiliki pemahaman agama baik dan hafidz quran.
Suatu kejadian membuat...
"Perempuan shalihah adalah dia yang menjaga diri ketika sedang tidak bersama mahramnya."
— Arshaka Farzan Ghaziullah El-Zein —
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Farzan menatap tempat di mana tumpukan batu bata diletakkan, dan sekarang sudah habis tak tersisa. Begitupun dengan kayu-kayu, pasir, semen yang semula memenuhi halaman, kini sudah bersih tak tersisa. Peralatan tukang yang biasanya berceceran tak beraturan pun kini sudah tidak ada. Para tukang sudah bekerja keras selama beberapa bulan ini. Mereka memang pandai menyulap bahan-bahan itu menjadi hunian yang nyaman bagi calon penghuninya.
"Mas Farzan, gimana kabarnya? Sudah lama nggak ke sini?" seorang kepala tukang menyapa Farzan dan menghampirinya saat laki-laki itu sedang menatap calon rumah barunya.
"Alhamdulillah baik, Pak. Bapak dan tim gimana?"
"Alhamdulillah kami baik, Mas. Pokoknya lancar. Mas Farzan nggak usah khawatir," jawab kepala tukang itu lagi.
"Mantap kalau begitu Pak," balas Farzan. "Oh iya, maaf saya akhir-akhir ini sibuk mempersiapkan pengajuan nikah kantor, jadi belum bisa ke sini. Do'akan besok saya sidang nikah, Pak. Semoga dilancarkan biar bisa sah di mata hukum kepolisian."
"Aamiin. Semoga dilancarkan ya, Mas. Dan bisa cepat menghuni rumah barunya. Sudah 95%, saya jamin setelah Mas menikah nanti bisa langsung ditempati," ujar kepala tukang.
Mendengarnya membuat Farzan semakin tidak sabar untuk menghadiahkan rumah itu kepada Aliza setelah mereka menikah nanti. Farzan memang sengaja membangun rumah untuk ia huni dengan istrinya kelak. Dan betapa beruntungnya saat calon istrinya adalah gadis yang ia kagumi.
Membayangkan tinggal di rumah ini bersama Aliza dan anak-anak mereka kelak saja, membuat Farzan berakhir senyum-senyum sendiri sampai tidak menggubris ucapan kepala tukang.
"Mas, jadi ini mau di cat apa?" tanya kepala tukang untuk yang ketiga kalinya setelah tidak direspon oleh Farzan.
"Oh iya, gimana, Pak?" Farzan tersadar dan menoleh.
"Pasti lagi ngebayangin yang indah-indah itu, Pak. Makanya ngelamun dan senyum-senyum sendiri," goda Zana yang baru keluar setelah melihat-lihat isi rumah bersama ayah dan bunda.
Ya, Farzan tidak sendiri. Ia datang bersama keluarganya juga untuk melihat perkembangan rumah barunya.
Pak kepala tukang terkekeh. "Nggak papa, Mbak. Namanya juga orang lagi kesemsem," celetuknya membuat semuanya tertawa. Berakhir dengan Farzan yang malu sendiri.
"Jadi rumahnya mau di cat apa, Mas Farzan?" tanya kepala tukang sekali lagi.
"Oh iya. Untuk sekarang biarkan putih polos saja, Pak. Nanti setelah menikah biar istri saya yang menentukan mau cat warna apa," jawab Farzan.