Romansa - Spiritual - Abdi Negara
Arshaka Farzan Ghaziullah El-Zein adalah seorang Perwira Polisi berpangkat Ipda. Terlepas dari profesinya, Farzan juga merupakan laki-laki yang memiliki pemahaman agama baik dan hafidz quran.
Suatu kejadian membuat...
Sebelum baca, coba kasih vote dulu. Tenang, vote gratis kok💜
Kalau sudah vote, yuk lanjut baca!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah mengantar Aliza dan memastikan perempuannya itu sampai masuk ke tempat kajian, Farzan pun bergegas kembali melajukan motor menuju ke rumah ayah bundanya. Tidak ada alasan khusus, semenjak menikah beberapa hari lalu dan tinggal bersama istrinya, Farzan kini mulai merindukan kehangatan rumah beserta keluarganya itu.
Sesampainya di Batalyon Garuda Hitam, Farzan memasuki gerbang sembari menyapa ramah prajurit yang sedang bertugas. Ia juga berpapasan dengan Gibran dan Ubay dan berbicara sebentar dengan mereka. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya sampai memasuki halaman rumah dinas.
"Assalamualaikum, Bundaaa," Farzan mengucap salam sembari memarkirkan motornya. Kemudian ia bergegas masuk ke rumah sambil memanggil-manggil sang bunda.
"Bunda..Oh Bunda. Bundaku tersayang yang paling cantik sedunia, anak Bunda yang ganteng, tampan, cakep, kasep, handsome, dan jamil jiddan ini datang," seru Farzan menyelonong masuk.
Seperti biasa, bukan Farzan namanya jika bicaranya irit, buktinya mengucapkan kata tampan saja harus dengan beberapa sinonim dan bahasa, padahal maknanya sama saja.
"Waalaikumu—" Belum selesai menjawab salam, Bunda Syafiya kaget karena tiba-tiba mendapat pelukan dari putra keduanya itu. "Waalaikumussalam," Bunda mengulangi jawaban salamnya.
"Bunda gimana kabarnya? Sehat, kan? Akhir-akhir ini banyak kegiatan Persit nggak? Kalau iya Bunda pasti capek. Sini Farzan pijitin." Farzan mengajak bundanya duduk.
Bunda Syafiya belum sempat menjawab, Farzan sudah mulai memijati lengannya.
"Makasih ya, Nak. Alhamdulillah Bunda sehat. Udah ah nggak usah dipijitin. Masa baru datang langsung pijitin Bunda, harusnya disambut," Bunda Syafiya menyingkirkan tangan Farzan dari lengannya. "Istri kamu mana? Kok kamu sendirian?" tanya bunda kemudian.
"Aliza lagi ke kajian, Bun. Farzan tadi anterin, nanti siang jemput. Selagi nunggu, Farzan pulang ke sini. Nggak nyangka, udah seminggu aja ninggalin rumah," jawab Farzan.
Bunda Syafiya mengangguk. "Hm, jadi ceritanya anak gantengnya Bunda ini lagi kangen rumah?"
"Kangen Bunda sih lebih tepatnya," jawab Farzan sambil nyengir kuda. "Jadi sekarang mau tidur di pangkuan Bunda. Boleh ya, Bun?" Farzan mengedip-ngedipkan matanya. Membuat Bunda Syafiya geleng-geleng kepala karena putranya itu tampak gemas.
"Boleh. Sini, sini, Nak," jawab bunda tersenyum.
Farzan pun ikut tersenyum dan mulai merebahkan tubuhnya dengan kepala dipangkuan bunda dan tubuhnya di sofa. Seketika rasanya nyaman, apalagi saat bunda mengusap-usap rambutnya.