12. Laki-laki Pemberani dan Perempuan Mahal

77.3K 7.4K 2.8K
                                        

بسم الله الرحمن الرحيم

"Laki-laki paham agama itu memang cukup seram. Tidak pernah memberi kabar, tiba-tiba datang menemui ayah. Tidak pernah membisikkan gombalan, tapi tiba-tiba dengan lantang mengatakan pada ayah ingin melamar."

—Aliza Humeyra—

"Karena saya tahu kamu perempuan mahal tidak perlu kata gombalan, hanya perlu laki-laki yang berani mendatangi ayahmu. Dan saya ingin menjadi laki-laki pemberani itu."

—Arshaka Farzan Ghaziullah El-Zein—

Hari Minggu, Farzan tidak berangkat ke kantor karena tidak ada tugas yang harus ia kerjakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari Minggu, Farzan tidak berangkat ke kantor karena tidak ada tugas yang harus ia kerjakan. Pagi-pagi sekali Farzan sudah rapi dengan kaos navy dan celana training hitamnya sambil membawa botol tupperware berisi air putih dingin dalam genggamannya.

"Shobahul khoir, Bundaku yang paling cantik," ujar Farzan seraya berjalan menghampiri bundanya yang sedang memasak.

"Shobahannur, Nak," balas Bunda yang seraya membalik ayam goreng di dalam wajan. "Hm, anak bunda pagi-pagi sudah rapi dan wangi. Mau kemana?"

"Mau ke lapangan batalyon, Bun," jawab Farzan.

"Oh, mau main bola?" tanya bunda lagi.

"Nggak, Bun. Itu..Farzan mau olahraga tipis-tipis supaya nanti badannya jadi lebih rileks dan nggak grogi waktu ngomong sama calon mertua," jawab Farzan senyum-senyum.

Bunda Syafiya yang mendengar itu refleks tertawa kecil. "Aduh..aduh. Yang sebentar lagi mau ketemu calon mertua. Yaudah, semangat ya olahraganya. Nanti kalau sudah langsung pulang biar Bunda masakin makanan kesukaan kamu."

Farzan mencium punggung tangan bundanya, tak peduli sang bunda belum cuci tangan. Farzan tetap memaksa walaupun bunda sempat mengizinkan dia untuk langsung pergi.

"Bunda memang yang terbaik. Kalau gitu Farzan berangkat dulu ya, Bunsay."

"Hei, itu panggilan sayang Ayah buat Bunda. Kamu jangan ikut-ikut, nggak kreatif sekali," celetuk Ayah Athar yang sedang mengarah ke dapur.

"Kabuurrrr, pawangnya ngamuk," ujar Farzan seraya berlari keluar dari dapur.

"Syaf, anak kamu itu," ujar Ayah Athar menunjuk Farzan yang sudah hilang dari pandangan.

"Mirip kamu, Mas. Suka usil dan bikin kesel," balas Bunda Syafiya. "Kayaknya takut nggak diakui anak, makanya sifatnya sama. Definisi buah jatuh tak jauh dari pohonnya," Bunda terkekeh.

"Yaudah iya salah Mas. Perempuan nggak pernah salah," Ayah Athar hanya bisa pasrah.

"Nggak gitu, aku nggak nyalahin Mas-"

Lentera Takdir (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang