14. The end of Devigos?

118 2 0
                                        

Happy reading 🌻

DORRR!!!!!

Rakha menangkis tangan Zidan namun Satu anak peluru itu berhasil menembus daun telinga Alysa. Wanita itu mematung, jantungnya berdetak dua kali lipat sekarang. Perlahan air mata Alysa mengalir di pipinya. Rasa sakit di kupingnya bahkan tidak terasa, tertutupi oleh rasa takutnya sekarang. Jika bukan karena Rakha nyawanya kini sudah hilang.

Dengan sigap Rakha mengarakan pistol Zidan ke atas, menghabiskan sisa peluru yang ada pada pistol itu. Tapi Zidan lebih dulu mengurungkan niat Rakha sebelum pelurunya habis. Zidan menghantam hidung Rakha dengan sikunya.

"Jadi selingkuhannya lo apa dia?" Tunjuk Zidan dengan ujung pistol pada kedua pria itu.

Mata Rakha melirik ke bawahnya sekilas. Dirinya masuk secara terburu-buru, tidak menyadari kehadiran orang lain yang kini terkapar di bawahmya dan Alysa yang meringis tidak berdaya, meringkuk sembari memegang kupingnya, keadaan wanita itu jauh dari kata baik-baik saja sekarang.

Sorot mata Rakha jatuh pada pipi Alysa yang mulai membiru, sudut bibirnya terluka. "Lo apain dia hah?"

"Mau gue bunuh, karena lo juga disini gue selesain semuanya,"

"And you'll be first," Zidan kembali menodongkan pistolnya ke arah Rakha.

Sebelum Zidan menekan pelatuk, Rakha menendang pistol yang ada ditangan Zidan hingga terhempas jauh.

"I don't think so," Rakha dengan gesit, maju dua langkah. Melempar tumbukannya ke rahang Zidan, bergantian kiri dan kanan, tidak lupa memukul perut bagian bawah pria itu.

Zidan tidak terima hanya dirinya yang menerima pukulan, menahan tangan Rakha, membalas tumbukannya, mengenai rahang Rakha, tanpa jeda Zidan terus-terusan membogem Rakha ditempat yang sama. Jika terus berada di posisi itu, tenaga dan konsentrasi Rakha akan memudar.

Rakha menendang Zidan tepat di perutnya dengan sekuat tenaga, membuat keduanya tersungkur ke belakang. Keduanya kembali bangkit, Rakha berjalan dengan cepat, melambungkan tendangannya ke kepala Zidan, tepat sasaran, lawannya kini terkapar di lantai. Rakha mendudukkan dirinya diatas Zidan, kembali menghujani pria itu dengan tumbukan.

Zidan membalikkan posisi. Menarik leher Rakha dengan kedua tangannya hingga posisinya berganti di atas. Alysa berusaha bangkit dari posisinya dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Mengambil gitar yang berada tidak jauh darinya, berjalan mendekati Zidan. Melayangkan gitar itu, tapi pergerakannya tertahan saat zidan menyadari kehadirannya.

"Lo kira gue bakal lengah hah?" Zidan meninggalkan Rakha, belum genap dua langkah, Rakha memeluk kaki Zidan kuat. Pria itu meronta minta di lepaskan, Alysa lansung saja mengambil kesempatan itu untuk melakukan hal yang tertunda tadi, gitar itu berhasil mendarat di kepala Zidan. Tapi kabar buruknya, pria itu tidak tumbang meski darah bercucuran di kepalanya.

"Anjing," umpat Alysa. Wanita itu refleks berjalan mundur, bisa di pastikan jika kini Zidan akan membalasnya dengan lebih sadis.

Tidak lagi terpancing dengan kecohan Alysa, Zidan kembali fokus pada Rakha. Penghalang terbesarnya saat ini adalah Rakha, lebih baik menghancurkan Rakha terlebih dahulu.

"Kenapa? Lo gak bisa bunuh gue karena orang lain?" Pertanyaan Alysa menghentikan pergerakan Zidan, pria itu berbalik menatap Alysa. "Lemah," Ucap Alysa dengar smirk di bibirnya.

Tangan Zidan kini berlumuran darah, begitupun Alysa, Pandu dan Rakha. Pria itu kembali berjalan mendekati Alysa.

"Berapa kali gue bilang, lo atau kalian semua bukan tandingan gue,"

"Lo mau tau apa yang ngehancurin manusia di dunia?" Alis Zidan terangkat sebelah, menunggu kelanjutan kalimat yang akan dikatakan Alysa. "Keangkuhan,"

Alysa sejak tadi terus berbicara panjang lebar, padahal dirinya sendiri sudah sangat berantakan sekarang. Entah wanita itu sedang melindumgi kedua temannya atau tengah mengulur waktu kematian mereka.

Alysa (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang