29. Jadi Gimana?

26 0 0
                                        

Happy Reading 🌻

Rakha duduk di satu kursi yang berada tepat di depan kafe, menunggu lebih lama dari yang seharusnya. Jemarinya tidak henti bergerak, pandangannya sesekali melayang ke depan. Gelisah itu tidak mau pergi, entah karena dirinya akan terlambat, atau karena rekaman yang masih terlintas di benaknya, percakapan yang terus berjalan tanpa disadarnya itu.

Rakha menyerah, pria itu akhirnya berdiri. Menunggu tidak lagi bisa ditoleransi, jam di ponselnya terus bergerak, dan keterlambatan mulai terasa nyata. dirinya tidak bisa berlama-lama di depan kafe itu pekerjaannya tidak akan menungnya atau penerbangan akan terlambat hanya karena kepentingannya

"Kita lansung ke bandara pak?"

"Iya pak, lansung aja,"

Taksi yang dinaiki Rakha melaju menjauh dari kafe itu, membawa dirinya menuju bandara dan pekerjaan yang menantinya. Di balik jendela mobil, kota bergerak seperti biasa, sementara ada sesuatu yang tertinggal, kata-kata yang tidak sempat diucapkan, dan perasaan yang tak pernah benar-benar selesai.

Aneh. dirinya sendiri tidak mengerti mengapa dirinya begitu gelisah, bahkan marah pada wanita itu. Perasaan ini terasa asing, seolah bukan dirinya yang biasa, bukan sosok yang tenang dan selalu tahu harus bersikap bagaimana.

Melihat taksi yang ditumpangi Rakha berlalu meninggalkan kafe miliknya, Alysa kembali menjalankan mobilnya mendekat. Sejak tadi, dari kejauhan, dirinya mengamati pria itu duduk di depan kafe yang masih tertutup rapat, menunggu dengan gelisah, seolah yakin Alysa akan muncul kapan saja. Katakan saja dirinya pengecut, karena memilih bersembunyi di balik jarak dan kaca mobil, menghindari tatapan dan penjelasan yang belum sanggup
didengar.

Wanita itu turun dari mobil dengan langkah berat. Kunci berputar di pintu kaca kafe, bunyinya terdengar nyaring di tengah pagi yang sunyi. Ruangan itu menyambutnya dengan dingin dan gelap, seolah ikut memahami kekacauan di dadanya.

Alysa berhenti sejenak di ambang pintu. Untuk sesaat, membenci dirinya sendiri, karena lebih memilih menghindar daripada berani terluka sekali lagi. Lalu melangkah masuk, membiarkan pintu kaca menutup di belakangnya, memisahkan dirinya dari Rakha... dan dari keberanian yang belum juga dimiliki

Di dalam kafe yang masih sepi, Alysa berdiri beberapa saat tanpa bergerak. Pintu kaca sudah tertutup rapat, namun bayangan Rakha seolah masih tertinggal di luar sana. Alysa meletakkan kunci di meja kasir, lalu menghela napas panjang, seakan baru sekarang dadanya benar-benar mengizinkan lelah itu muncul.

Lampu-lampu belum dinyalakan seluruhnya. Cahaya temaram cukup untuk menyingkap kursi-kursi yang tersusun rapi dan meja-meja yang masih dingin. Alysa berjalan perlahan, jemarinya menyentuh sandaran kursi terdekat, mencoba menenangkan diri lewat gerakan sederhana yang biasanya memberinya rasa aman.

Namun pagi itu berbeda. Sunyi di kafe terasa terlalu luas, terlalu jujur. Pikirannya kembali pada rekaman itu, pada potongan suara yang masih terngiang di kepalanya. Ia duduk di salah satu kursi, menunduk, menatap lantai.

Alysa memejamkan mata sejenak. Ada amarah yang belum tuntas, ada kecewa yang belum menemukan bentuk, dan di antara semuanya, rasa bersalah karena memilih menghindar. Sendirian di kafe miliknya, dirinya akhirnya mengakui satu hal, diam pun ternyata tidak membuat segalanya menjadi lebih mudah.

Di tengah memejamkan mata, langkah kaki seseorang, bersamaan dengan bunyi lonceng tanda pintu terbuka, membuat Alysa mengalihkan perhatiannya. Wanita itu menoleh. Pandu kini berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan senyum sumringah, terlalu cerah untuk suasana yang sejak tadi menekan dadanya.

"Good morning," sapa Pandu untuk mengawali paginya. Alysa selalu takjub, entah dari mana pria itu mendapatkan energinya, terutama di pagi yang terasa begitu berat baginya.

Alysa (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang