23. Safe distance

72 0 0
                                        

Happy Reading 🌻

Suasana cafe yang tampak masih sejuk oleh angin pagi tampak memanjakan mata dan menerpa kulit, kombinasi yang tepat dengan secangkir kopi panas atau coklat panas di pagi hari.

Pagi ini kursi di cafe milik Alysa tampak hampir semua terisi penuh membuat wanita itu juga ikut turun melayani pelanggan. Alysa merapikan meja yang berada diluar cafe, namun pergerakannya terhenti saat melihat Rakha yang baru saja keluar dari cafe yang berada tepat di depan tokonya.

Mata Alysa tertuju pada pria itu yang kini menenteng secangkir kopi dari cafe itu, ingatan Alysa kembali ke dua hari yang lalu dimana kata-kata tajam Rakha yang membuat hubungan keduanya kini memburuk, entah apa yang membuat pria itu begitu marah akan dirinya. Tidak ingin terlalu lama terjebak dalam pikirannya, Alysa lansung kembali melanjutkan pekerjaannya dan kembali masuk ke dalam.

"Al,"

"Hm?" Alysa melirik sekilas, menunggu apa yang ingin dikatakan Pandu.

Pandu mengigit bibir bawahnya, tampak ragu untuk memulai pembicaraannya. "Kenapa ndu?" Ucap Alysa menatap pandu dengan hangat.

Pandu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. "Soal kemarin gue minta maaf ya,"

Alysa menarik senyum dibibirnya. Senyum hangat, ekspresi yang jauh lebih baik dari kemarin. "Gue juga kemarin kasar sama lo ndu, sorry ya," Ucap Alysa yang diangguki Pandu. Melihat Alysa yang kembali hangat membuat pandu menghela nafas lega.

"Gue nyebelin banget ya kemarin?" Tanya Alysa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, jujur saja itu membuatnya merasa tidak enak.

"Lumayan?" Tawa keduanya pecah saat mendengar jawaban Pandu. Pria itu memang tidak pernah berbohong sepertinya, kecuali soal perasaan.

"Btw lo kemarin kemana al? Tumben gak ke cafe?"

"Ke jakarta,"

Pandu menyerngit heran karena Alysa akan ke jakarta saat ada sesuatu terjadi, meski Pandu tidak mengharapkan dugaannya benar. "Everything okay?"

Alysa mengangguk. "Iya aman kok,"

Rasa penasaran Pandu belum juga terjawab, jawaban wanita itu tampak mengambang tidak jelas arahnya. "Terus? Tumben banget ke jakarta. Jengukin nyokap bokap lo?"

"Salah satunya, sekalian jengukin temen gue yang sakit juga," Pandu mengangguk mengiyakan sebagai jawaban.

Ditengah perbincangan hangat, perhatian keduanya teralihkan pada pelanggan yang sejak tadi memanggil keduanya. Alysa lansung saja berjalan mendekati meja tersebut dengan cepat.

"Ada yang bisa saya bantu bu?" Tanya Alysa ramah.

"Saya minta tambahan hot creamy lattenya satu ya,"

Alysa mengangguk sebagai jawaban, menunggu pesanan lain yang mungkin diinginkan pelanggannya. "Ada lagi bu?"

"Itu dulu aja mba," Alysa kembali mengangguk dan berjalan kembali ke arah kasir.

"Meja 12 hot creamy lattenya 1,"

Barista yang mendengarkan instruksi Alysa lansung mengangguk mengiyakan, mengambil gelas untuk menyiapkan pesanan yang dikatakan Alysa hingga pesanan tersebut siap disediakan.

Pandu otomatis lansung mengambil nampan yang ada di sampingnya untuk mengantarkan minum kepada pelanggan itu, namun pergerakannya terhenti saat Alysa mengambil alih nampan tersebut.

"Gue aja al,"

"Gak papa gue aja," Ucap Alysa yang berjalan perlahan sembari sesekali menunduk memastikan kopi panas yang terlalu penuh itu tidak tumpah dan mengenai dirinya.

Alysa (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang