37. Exit Tol

6 0 0
                                        

Happy Reading 🌻

Pagi itu Rakha terbangun tanpa alarm.

Matanya terbuka pelan, masih ada sisa kantuk, tapi pikirannya sudah lebih dulu sadar. Dirinya menatap langit-langit kamar beberapa detik sebelum akhirnya duduk di tepi kasur, mengusap wajahnya pelan.

Rumahnya masih hening. Cahaya matahari baru masuk tipis lewat sela gorden, belum terlalu terang, tapi cukup untuk menandakan hari sudah benar-benar dimulai.

Rakha berjalan ke kamar mandi. Air dingin menyentuh wajahnya, membuatnya sepenuhnya terjaga. Sikat gigi, berkumur, lalu menatap cermin sebentar tanpa alasan jelas. Seolah memastikan dirinya benar-benar bangun.

Rakha Keluar dari kamar mandi, langkahnya santai menuju ruang tamu. Tangannya otomatis meraih ponsel di meja, kebiasaan yang selalu ia lakukan sebelum benar-benar memulai hari.

Di dapur kecil, Rakha mengambil dua lembar roti tawar. Tidak dipanggang. Tidak ditambah apa-apa. Hanya roti polos yang langsung digigit sambil berjalan kembali ke ruang TV.

Layar ponselnya menyala.

Ada satu notifikasi pesan. Dari Alysa.

Rakha berhenti mengunyah. membuka pesannya.

Alysa: Anterin aja ke cafe, gue punya kunci cadangan, thanks.

Rakha melihat waktu pengiriman pesan itu. Tiga puluh menit yang lalu. Dirinya menoleh refleks ke arah jam dinding.

“Pantes…” gumamnya pelan.

Masih dengan roti di tangan, Rakha berjalan ke arah jendela ruang tamu. Tirai ia buka sedikit. Pandangan pertamanya langsung tertuju ke halaman rumah Alysa di sebelah.

Mobilnya sudah tidak ada.

Halaman itu terlihat kosong, tenang, seperti tidak ada aktivitas apa pun. Rakha berdiri beberapa detik di sana, memperhatikan rumah itu tanpa sadar. Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.

“Pagi-pagi banget,” ucapnya pelan pada diri sendiri.

Rakha kembali ke sofa ruang TV, duduk santai. Roti di tangannya kembali digigit. Di meja ada koran pagi yang sudah terlipat rapi, biasanya ditaruh satpam di teras setiap subuh.

Rakha mengambil koran itu, membukanya lebar-lebar di depannya. Suara kertas yang dibuka memenuhi ruang yang sunyi. Roti di tangan kanan. Koran di tangan kiri. Ponsel tergeletak di sampingnya.

Rutinitas yang sangat biasa.

*****

Waktu sudah beranjak lebih siang dari jam normal Alysa membuka kafe.

Rakha memarkir mobilnya pelan di depan kafe itu, tapi bahkan sebelum mesin dimatikan, ada rasa ganjil yang sudah lebih dulu naik ke dadanya.

Mobil Alysa tidak ada di sana.

Padahal dari pesan pagi tadi, Alysa sudah berangkat tiga puluh menit sebelum Rakha bangun. Harusnya wanita itu sudah sibuk di balik kasir, sibuk menyapa pelanggan, atau mondar-mandir di dapur kecilnya.

Rakha turun tetap tenang. Terlalu tenang malah. Dirinya mengunci mobil, melangkah masuk. Bel pintu berbunyi pelan saat membuka pintu kaca.

Aroma kopi langsung menyergap hidungnya. Suasana di dalam terlihat normal. Mesin kopi bekerja. Beberapa pelanggan duduk santai. Musik pelan mengalun.

Tapi Alysa tidak ada.

Pandangan Rakha otomatis menyapu seluruh ruangan. Ke arah kasir. Ke arah dapur. Ke meja pojok yang biasa Alysa tempati kalau sedang istirahat.

Alysa (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang