36. Nothing Special

8 0 0
                                        

Happy Reading 🌻

Rakha menyeret kopernya keluar dari gate kedatangan dengan langkah tenang, seragam pilotnya masih rapi melekat di tubuh meski jam terbang hari itu cukup panjang. Topinya sudah dilepas dan diselipkan di gagang koper. Bahunya tampak lelah, garis wajahnya jelas menunjukkan dirinya baru saja menutup penerbangan terakhir malam itu.

Tapi ada satu hal yang janggal.

Ekspresinya ringan.

Sejak pesawat mendarat, sejak roda koper menyentuh lantai lorong bandara, matanya tidak pernah benar-benar lepas dari layar ponsel.

Ibu jarinya bergerak pelan, mengetik. Berhenti. Membaca. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis, senyum kecil yang muncul tanpa disadari.

Senyum yang jarang.

Senyum yang… personal.

Reno, yang berjalan di sampingnya sambil menguap lebar, sudah memperhatikan dari tadi. Awalnya dirinya diam saja. Mengira Rakha sedang mengurus jadwal, atau pesan dari kru. Tapi lima menit. Sepuluh menit. Rakha masih seperti itu.

Fokus. Tenggelam. Seolah dunia di sekitarnya tidak penting.

Reno melirik lagi.

Rakha bahkan hampir menabrak troli bagasi karena terlalu fokus membaca pesan.

Reno langsung menyikut lengannya.

“WOI.”

Rakha mendongak kaget. “Apa?”

“Liat jalan.”

Reno menyipitkan mata. “Liat apaan sih di hp lo itu, Rakh? Kayak punya pacar aja chattingan terus.”

Rakha cuma melirik sekilas. Lalu mengedikkan bahu, santai, seolah pertanyaan itu angin lalu.

Tapi tidak menyangkal. Dan itu justru membuat Reno curiga.

“Itu jawaban apaan?” Reno menatapnya tajam. “Beneran punya pacar?”

Rakha menghentikan langkahnya sebentar. Mengangkat pandangan dari ponsel. Berpikir beberapa detik. Wajahnya terlihat mempertimbangkan jawaban.

“Bisa dibilang gitu.”

Reno langsung berhenti total di tengah lorong.

Beberapa orang sampai harus menghindarinya.

“WTF.” Reno menunjuk Rakha. “Ini beneran? Seorang Rakha? Punya pacar?”

Rakha kembali berjalan santai. “Emangnya kenapa?”

“Ini fenomena, Rakh. Peristiwa langka. Harus dicatat di kalender penerbangan.”

Rakha menyerngit. “Lebay.”

Reno mempercepat langkah, mensejajarkan diri lagi. “Gue kenal lo bertahun-tahun. Lo tuh tipe manusia yang bilang ‘gue sibuk’, ‘gue capek’, ‘gue males drama’, ‘gue nyaman sendiri’. Tiba-tiba sekarang… ‘bisa dibilang gitu’?”

Rakha tidak menjawab. Tapi senyum tipis itu muncul lagi saat layar ponselnya menyala.

Reno melihat jelas. Senyum itu bukan senyum basa-basi.

“Jadi siapa wanita tidak beruntung itu?” Reno mendesak.

Rakha menoleh tajam. “Sialan.”

Reno malah tertawa. “Gue serius! Siapa? Anak kru? Penumpang? Pramugari? Petugas imigrasi? Cleaning service? Kasir minimarket bandara?”

Rakha mempercepat langkahnya, menyeret koper lebih cepat, jelas tidak mau meladeni.

“Rakh! Ih jawab dulu napa sih!”

Alysa (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang