Happy Reading 🌻
Akhirnya, Alysa dan Rakha memutuskan meninggalkan mobilnya di bengkel. Dari penjelasan teknisi, kemungkinan mobil baru bisa diambil dua hari lagi. Antrian panjang, keterbatasan tenaga teknisi, dan pemeriksaan menyeluruh membuat prosesnya lama.
Matahari sore masih menyinari jalanan, tapi tidak seterik ketika mereka tiba di bengkel sebelumnya. Udara mulai terasa hangat dan lembut, meski panas perjalanan tol sebelumnya masih menyisakan lengket di kulit.
“Tadi lo ngapain lewat tol? Itu jauh dari cafe,” tanya Rakha, matanya masih mengikuti jalan di depan mereka.
“Jengukin anak temen kuliah gue yang sakit,” jawab Alysa, suaranya tenang tapi jelas.
“Temen lo?” Rakha menegaskan, matanya menatap Alysa dengan sedikit rasa penasaran.
Alysa mengangguk. “Dia juga produsen pastry di cafe gue. Biasanya kalau bikin menu baru, dia yang supply.”
Rakha mengangguk, tampak memahami, tapi tidak lama kemudian ponselnya berdering. Nama ibunya muncul di layar.
Ibu is calling.....📞
“Halo Rakh? Kamu di mana?” suara ibunya hangat terdengar.
“Di jalan, Bu. Kenapa?”
“Di jalan? Mau ke mana?”
“Engga, lagi di sekitaran rumah aja.”
“Oh, ibu kira kamu kerja hari ini. Kan libur?”
“Iya, Bu. Libur. Kenapa?”
“Nanti malam ke rumah ibu ya, makan malam di sini.”
Rakha tersenyum tipis mendengar nada ibunya yang hangat. “Tumben banget.”
“Tumben banget karena kamu pindah,” balas ibunya.
“Iya, iya, Bu,” jawab Rakha cepat.
“Oke, ibu tunggu di rumah,” kata ibunya, lalu sambungan terputus.
Alysa menoleh ke Rakha, matanya menatap penasaran. “Kenapa?"
Rakha melirik sebentar, tersenyum tipis. “Engga, nyokap gue ngajak makan malam aja.”
Alysa mengangguk, kemudian menatap jalanan di depan. “Berhenti di bank depan cafe gue aja.”
“Bank?” Rakha terdengar heran.
“Ngapain?” tanyanya lagi.
“Bayar tagihan, semoga belum tutup deh,” jawab Alysa sambil menatap arus kendaraan.
“Bayar tagihan? Tagihan apa?” Rakha masih penasaran.
Alysa memutar bola matanya, sedikit tersenyum. “Lo kira di umur 24 tahun akhir ini gue bisa punya mobil dan cafe kalau nggak nyicil gimana?”
Rakha mengernyit, terkejut tapi segera tersenyum. “Jadi rumah, mobil, dan cafe lo itu nyicil semua?”
“Rumah punya ortu gue, mobil nyicil, cafe nyicil,” jawab Alysa dengan nada datar tapi tegas.
Rakha mengangguk pelan, sedikit syok tapi cepat menyesuaikan diri. “Kenapa? Lo nggak mau sama orang yang punya cicilan?”
Rakha menggeleng cepat. “Mulai sekarang tipe gue yang punya cicilan,” ujarnya sambil tersenyum bercanda. Alysa menoleh, menggeleng pelan sambil tersenyum aneh.
Mereka turun dari mobil dan disambut satpam bank.
“Selamat sore, Bapak/Ibu. Ada yang bisa saya bantu?” sapanya sopan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alysa (On Going)
Fiksi RemajaAlysa tidak lagi jatuh cinta, baginya hal tersebut hanya membuang waktunya saja. Namun siapa sangka jika takdir ternyata merestui mereka. "Jangan jatuh cinta sama gue," "Tapi gue mau," Sepasang teman Sma yang kini kembali berjumpa di yogyakarta, beb...
