24. Chek up

85 0 0
                                        

Happy reading 🌻

Rakha mengerjapkan matanya beberapa kali saat sinar matahari perlahan dari luar jendela masuk ke indra penglihatannya. Pagi ini Rakha tengah bersiap untuk kembali ke rumah sakit untuk chek up mingguan, dimana kemungkinan besar yang dikatakan dokter minggu lalu gips ditangannya boleh di lepas minggu ini. Tanpa menunggu lama Rakha lansung saja bangkit dari kasurnya setelah mengumpulkan kesadaran sepenuhnya.

Pria itu lebih dulu turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Tidak ingin repot Rakha memilih untuk sarapan roti bakar dan selai kacang. Namun sebelum menyuapkan makanan ke mulutnya, pandangannya teralihkan dengan tumpukan sampah di tempat sampah.

Rakha menghela nafasnya dan mengambil plastik sampah tersebut untuk membuang sampahnya ke luar.

"Pagi pak," Rakha mengangguk membalas sapaan pak Tono. Sebelum membuang sampah Rakha terlebih dahulu berjalan mendekati pria baruh baya itu.

"Pak minta tolong panasin mobil saya boleh?" Pinta Rakha sopan.

Pak Tono lansung menganggukkan kepalanya. "Boleh mas, kuncinya mana?"

"Di dalem pak," pak tono mengamgguk dan lansung melangkah masuk ke dalam rumah Rakha untuk mengambil kunci mobil tersebut sesuai instruksi dari Rakha.

Rakha kembali melangkahkan kakinya menuju tempat sampah untuk membuang sampahnya, namun langkahnya terhenti saat melihat Alysa yang baru juga tiba disana, mata keduanya bertemu, tatapan Alysa yang mengisyaratkan sakit juga sedih sedangkan Rakha hanya menatapnya datar, lebih tepatnya pria itu menatap tangan Alysa yang kini diperban.

Tidak ingin terlalu lama dalam situasi menegangkan itu, Rakha lansung melempar sampah miliknya dan berbalik kembali ke rumahnya.

Alysa tersenyum getir menatap sampah yang dibuang Rakha barusan, menatap bungkusan makanan yang dibawanya kemarin masih terbungkus rapi itu artinya pria itu bahkan tidak menyentuh atau melihat makanan yang dibawa Alysa kemarin, entah apa yang terjadi dengan pria itu. Lagi-lagi itu menyakiti hatinya.

Rakha memasuki rumahnya, menyantap sarapan dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit sesuai janjinya.

"Mas Rakha mau ke rumah sakit ya?" Tanya Pak Tono basa-basi.

Rakha mengangguk mengiyakan. "Iya pak mau cek up,"

"Emang bisa nyetirnya mas? Kan tangan mas Rakha lagi sakit,"

"Saya panggil supir sewaan kok pak,"

"Mba Alysa tumben mas gak kesini, biasanya sehari 3 kali,"

Mendengar pertanyaan pak Tono membuat Rakha salah tingkah, tidak tau harus menjawab atau memberi alasan apa. "Lagi sibuk kali pak," Ucap Rakha mengelak.

"Mas jangan marah-marah loh ke mba Alysa, kasian,"

Rakha menyerngit, tidak mengerti maksud pak Tono. "Kasian?"

Pak Tono mengangguk mengiyakan. "Kemarin dia balik-balik dari sini nangis terus nunduk aja,"

Rakha tampak menutup rapat mulutnya, memberikan otaknya sejenak untuk berfikir. 'Dia nangis?'

Melihat tidak ada jawaban dari Rakha. Pria itu hanya menatap kosong kedepan membuat pak Tono bingung."Mas? Mas Rakha," Ucap Pak Tono sembari menepuk bahu Rakha pelan.

"Hah?"

"Jangan bengong mas, ntar ke sambet loh,"

"Yasudah saya ke depan dulu ya mas,"

Bersamaan dengan kepergian Pak Tono, sosok pria paruh baya lainnya yang datang berjalan menghampiri Rakha, mungkin itu supir sewaan yang tadi dipesannya.

Alysa (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang