Happy Reading 🌻
Keduanya duduk di kursi tepat di belakang sopir. Jarak mereka hanya selebar satu sandaran tangan, tapi rasanya seperti dipisahkan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Alysa menatap ke depan, Rakha ke luar jendela. Tidak ada yang berinisiatif membuka percakapan.
Suara mesin mobil jadi satu-satunya pengisi ruang.
“Habis liburan, Mbak? Sama masnya?” tanya sopir, nadanya ramah.
“Iya, Pak,” jawab Alysa singkat.
Rakha hanya mengangguk kecil.
Mobil melaju beberapa menit sebelum tiba-tiba melambat. Getaran kecil terasa, lalu berhenti total. Alysa sedikit terdorong ke depan.
“Kenapa ya, Pak?” tanyanya.
Sopir menghela napas. “Kurang tahu, Mbak. Saya cek dulu.”
Begitu sopir turun, Rakha ikut membuka pintu. “Saya bantu lihat, Pak.”
Alysa memperhatikan dari balik kaca. Cara Rakha berdiri, tenang, sigap, membuatnya teringat betapa sering pria itu mengambil peran tanpa diminta. Selalu begitu. Selalu siap, bahkan ketika dirinya sendiri sedang kacau.
Rakha kembali dan mengetuk kaca. Alysa membuka pintu.
“Mesinnya bermasalah,” katanya. “Gue mau ke toko kecil seberang, beli air.”
“Gue ikut,” jawab Alysa spontan.
Mereka menyeberang jalan. Udara pagi masih dingin, asin laut menempel di kulit. Mereka berdiri sejajar, masing-masing memegang botol air mineral, menatap laut yang terlihat samar, tidak lagi biru cerah, tapi cukup luas untuk menampung pikiran yang terlalu penuh.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
“Lo bisa ngobrol ke gue,” ucap Alysa akhirnya. “Kayak biasanya.”
Rakha menoleh. “Gue dari tadi biasa aja.” Nada suaranya datar. “Lo yang enggak.”
Alysa tersenyum tipis, tanpa humor. dirinya tahu.
“Yang waktu itu lo bilang,” katanya pelan. “Itu bener?”
Rakha tidak perlu berpikir lama. “Yang soal rekaman?” Rakha berhenti sebentar. “Atau yang gue suka sama lo?”
Alysa menghela napas. “Dua-duanya.”
“Bener.”
Jawaban itu keluar ringan, seolah bukan sesuatu yang besar. Justru itu yang membuat Alysa tidak siap.
“Kita bisa nggak… balik kayak biasa aja, Rak?” katanya. “Let’s forget that.”
Rakha mengernyit, menatapnya lebih serius. “Lo minta gue pura-pura gak ngerasa apa-apa?”
“Kalau kita lebih dari temen,” Alysa menelan ludah, “we don’t make it.”
“Lo ngomong kayak orang yang udah lihat akhirnya,” balas Rakha.
“Lo pikir gue nggak pernah nyoba sama orang lain?” Alysa menoleh.
“Orang lain,” jawab Rakha. “Bukan gue.”
Alysa terkekeh lirih. “Lo keras kepala banget ya?"
“Dan lo terlalu sibuk nutup diri lo sendiri,” katanya tenang, tapi menusuk. “Lo narik diri lo jauh-jauh. Bangun benteng setinggi itu. Terus bilang nggak ada yang boleh masuk. Ujungnya lo ngerasa nggak pantas berdiri di samping siapa pun.”
Alysa menatap laut. “Karena emang gitu,” ucapnya pelan. “Gue nggak stabil. Nggak bisa ngontrol hidup gue sendiri. How can someone come into my life when I can’t even control my life?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Alysa (On Going)
Fiksi RemajaAlysa tidak lagi jatuh cinta, baginya hal tersebut hanya membuang waktunya saja. Namun siapa sangka jika takdir ternyata merestui mereka. "Jangan jatuh cinta sama gue," "Tapi gue mau," Sepasang teman Sma yang kini kembali berjumpa di yogyakarta, beb...
