Happy Reading 🌻
Taburan bintang beserta bulan yang terlihat bulat sempurna kini menghiasi malam dikota jogja, seakan cuaca malam ini mendukung semua orang untuk menghabiskan waktu diluar.
Alysa menunggu di depan sebuah gedung yang tampak klasik dari depan. Beberapa orang tampak mengantri di pintu masuk untuk menukarkan tiketnya, membuat Alysa semakin penasaran dengan isi bangunan tersebut hingga menarik banyak orang untuk datang. Dirinya menunggu seseorang sejak 15 menit, seseorang yang mengajaknya untuk menonton pameran itu bersama seperti yang dijanjikan mereka kemarin.
"Alysa," Panggil Rakha yang kini melambai ke arahnya sembari setengah berlari.
Reflek sang pemilik lama menoleh ke asal suara. Tanpa sadar bibir wanita itu membentuk lekungan, seolah bahagia akan kehadiran seseorang.
"Udah lama?"
Alysa menggeleng kan kepalanya. "Baru 15 menitan,"
"Mau masuk sekarang?"
Tangan Rakha terulur membukakan pintu terlebih dulu sebelum keduanya masuk dan menikmati deretan pameran budaya dari berbagai daerah yang ada di indonesia disana. Seolah tersihir, mata Alysa sejak tadi tidak luput memandangi berbagai warisan budaya di indonesia yang bisa dilihatnya dalam satu gedung.
"Lo sering ke pameran gini?" Rakha mengangguk mengiyakan pertanyaan Alysa sebagai jawaban.
Langkah keduanya mengitari setiap sudut ruangan di gedung itu, seolah tiap sudutnya tidak membuat mereka merasa jenuh. tiap langkah itu diisi dengan beberapa pengetahuan yang di miliki Rakha tentang budaya yang ada di indonesia. Aneh, pria itu terlalu banyak mengeluarkan kalimat hari ini, berbeda dari biasanya. Tidak ada yang mengerti tujuannya, untuk berbagi ilmu atau untuk tampak mengesankan seseorang.
Sorot mata Alysa berhenti pada pigura hitam kuno yang juga menghentikan langkahnya. Dua insan yang kini tampak berdiri dengan suntiang yang tampak asing sekaligus di matanya. Alysa mendekatkan pandangannya pada pigura tersebut, seolah akan masuk ke dalamnya.
Rakha menoleh ke belakang, seseorang yang sejak tadi setia berjalan seirama kini tampak hening, ternyata tertinggal di belakangnya. Rakha kembali membalikkan langkahnya menuju wanita itu.
"Gue baru tau ada suntiang bentukannya gini," Kalimat yang Alysa katakan saat langkah Rakha tepat berhenti di sampingnya.
Alysa menoleh sesaat pada lawan bicaranya. "Cantik ya?" Puji Alysa menatap suntiang itu tampak berbinar.
"Interested?" Tidak menunggu lama. Alysa mengangguk menjawab pertanyaan itu.
Rakha mengangguk. "Itu baju adat Aceh, provinsi paling utara di indonesia,"
Perlahan Alysa menegakkan badannya dan mengalihkan pandangannya dari pigura tersebut. Tampak semakin tertarik dengan topik pembicaraan tersebut. "Lo tau dari mana?" Pertanyaan aneh. Itu museun, tentu dimana pun menuliskan penjelaskan dari yang mereka pajang.
Tangan Rakha menunjuk sudut pigura dengan raut datar. "Read"
Alysa meringis sembari terkekeh ringan, dirinya yakin jika sekarang tampak bodoh dan aneh, siapa pula yang tidak membaca di dalam musen, mungkin hanya dirinya.
"That's where my parents come from," Jelas Rakha, tidak untuk tujuan apapun. Hanya sebagai informasi tambahan.
Mata Alysa mengerjap takjub. Lagi-lagi pria tersebut memberi fakta mengejutkan tentang hidupnya. Hari ini Alysa bahkan melihat pria yang berasal dari daerah yang bahkan dirinya tidak pernah tau.
"Adoptive parents, technically," Lagi-lagi pria itu memberi penjelasan
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
Alysa (On Going)
JugendliteraturAlysa tidak lagi jatuh cinta, baginya hal tersebut hanya membuang waktunya saja. Namun siapa sangka jika takdir ternyata merestui mereka. "Jangan jatuh cinta sama gue," "Tapi gue mau," Sepasang teman Sma yang kini kembali berjumpa di yogyakarta, beb...
