Happy Reading🌻
Mereka akhirnya tiba di penginapan yang menghadap langsung ke bibir pantai. Angin laut menyambut lebih dulu, membawa aroma asin yang lembut. Langit mulai berubah warna, jingga perlahan menelan biru, menandai matahari yang bersiap tenggelam.
Rakha dan Gavin duduk di luar, menghadap laut lepas. Keduanya diam beberapa saat, menikmati pemandangan tanpa perlu banyak kata.
Gavin melirik ke samping, menatap sahabatnya yang sejak tadi terlihat terlalu tenang. “Bener kan,” ucapnya akhirnya, “orang yang lo suka itu Alysa?”
Rakha tidak mengelak. Pria itu hanya mengangguk pelan.
Gavin mendengus kecil. “Lo berani nyelametin dia sampe tangan lo patah. Masa bilang ke dia aja nggak berani, Rakh?”
“Gue udah bilang.”
“HAH?” Gavin langsung menoleh, matanya melebar.
“Tapi ditolak.”
“HAH?!” Kali ini Gavin benar-benar menganga, jelas tidak siap dengan jawaban itu.
Gavin terdiam beberapa saat, masih mencoba mencerna ucapan Rakha. Angin laut berhembus lebih kencang, membuat rambut mereka bergerak acak. Suara ombak jadi latar yang konstan, menenangkan tapi juga terasa berat.
“Terus lo gimana?” tanya Gavin akhirnya, nadanya lebih pelan. “Nyoba jelasin lagi?”
Rakha menggeleng. “Dia minta waktu.”
Gavin menghela napas panjang, lalu bersandar ke kursinya. “Alysa emang tipe yang nggak gampang percaya. Bukan karena dia dingin, tapi karena dia capek.”
Rakha menatap laut lebih lama. dirinya paham. Terlalu paham, justru itu yang membuatnya memilih diam. “Gue nggak mau maksa,” katanya singkat. “Kalo dia butuh jarak, gue bisa nunggu.”
Gavin meliriknya, setengah heran, setengah salut. “Lo berubah, Rak.”
Rakha meliriknya sekilas, lalu kembali menatap laut yang mulai gelap. Wajahnya datar, seolah penolakan itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan, meski dadanya jelas tak sepenuhnya baik-baik saja.
Pintu penginapan terbuka dari dalam.
Leo muncul lebih dulu, kausnya sudah diganti, handuk masih melingkar di leher. Pandangannya langsung jatuh pada Rakha dan Gavin yang duduk bersebelahan menghadap laut.
“Idihhh, romantis banget,” celetuk Leo sambil mendekat. “Dua pria, satu senja.”
Gavin terkekeh, sementara Rakha hanya melirik sekilas.
Leo tanpa pikir panjang merangkul bahu Rakha. “Kenapa lo diem aja dari tadi? Abis kena ombak batin, ya?”
Rakha refleks menggeser tubuhnya, pelan tapi jelas. Rangkulan itu lepas begitu saja.
“Capek,” jawab Rakha singkat.
Situasi mendadak canggung.
Leo mengangkat alis, sedikit heran. Gavin yang menangkap perubahan itu langsung nimbrung, berusaha menormalkan suasana.
“Ya wajar lah. Perjalanan jauh. Lagi pula angin sini bikin kepala kosong.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Alysa (On Going)
Novela JuvenilAlysa tidak lagi jatuh cinta, baginya hal tersebut hanya membuang waktunya saja. Namun siapa sangka jika takdir ternyata merestui mereka. "Jangan jatuh cinta sama gue," "Tapi gue mau," Sepasang teman Sma yang kini kembali berjumpa di yogyakarta, beb...
