34. Lebih Dari Temen

15 1 0
                                        

Happy Reading 🌻

Rakha berdiri cukup lama di depan pagar rumah orang tua Alysa. Bukan karena dirinya tidak tahu harus berbuat apa, tapi karena terlalu banyak kemungkinan yang berputar di kepalanya sekaligus.

Lampu teras rumah itu menyala. Tirai jendela ruang tamu tertutup rapat. Suasana kompleks sudah mulai sepi, hanya terdengar suara televisi samar dari beberapa rumah dan sesekali motor melintas pelan.

Tangannya sempat terangkat ke arah bel.

Lalu turun lagi.

Bagaimana kalau yang keluar ayahnya Alysa? Bagaimana kalau ibunya? Bagaimana kalau mereka bertanya, “Malam-malam begini ngapain ke sini?”

Rakha mengusap wajahnya kasar. dirinya frustasi pada dirinya sendiri. Begitu mendengar Alysa dan Diga sempat beradu mulut, ada sesuatu yang langsung mengganjal di dadanya. Perasaan tidak enak yang tidak bisa  diabaikan. Dan sekarang, dirinya sudah ada di depan rumah perempuan itu… tapi justru tidak berani memastikan keadaannya.

Sementara itu,  Alysa baru saja hendak berjalan pulang ke rumahnya. Rambutnya masih berantakan. Kaosnya kusut. Wajahnya terlihat lelah setelah seharian menahan emosi.

Langkahnya terhenti begitu melihat sosok pria berdiri di depan pagar. menyipitkan mata, mencoba memastikan.

Tiga meter jarak itu terasa jauh sekaligus dekat.

“Rakha?”

Pria itu menoleh cepat. Tatapan mereka bertemu di bawah lampu jalan yang cahayanya temaram kekuningan.

Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling diam.

Rakha berjalan mendekat pelan. Matanya meneliti Alysa dari atas sampai bawah. Wajah perempuan itu jelas tidak baik-baik saja. Ada bekas emosi yang belum sepenuhnya hilang di sana.

Alysa mendadak kikuk karena ditatap begitu. Tangannya refleks merapikan rambutnya yang berantakan.

“Gue kira lo gak bakal datang ke restoran Neysa tadi,” ucap Alysa, mencoba membuka percakapan dengan nada senormal mungkin.

Rakha tidak langsung menjawab. Matanya masih meneliti wajah Alysa. “Lo sendiri kenapa dateng?”

“Karena diundang?”

Jawaban itu terdengar datar.

Rakha menatapnya lama. “Bukan karena seseorang?”

Alysa memejamkan mata sejenak. Ingatan memalukan di restoran tadi seperti diputar ulang paksa di kepalanya. Nada suaranya yang meninggi. Tatapan orang-orang. Hening yang tiba-tiba.

“Mereka masih ngomongin gue ya?” ucapnya pelan. “Gue pasti keliatan aneh banget. Harusnya gue diem. Harusnya gue gak usah datang sekalian. Mulut gue mendadak gak bisa direm.”

Rakha melihat cara Alysa meremas ujung bajunya sendiri.

“Are you okay?”

Hanya itu yang di tanyakan.

Alysa mengangguk kecil. “Okay… cuma malu.”

Rakha mengangguk pelan.  Tidak membahas kejadian itu lagi. Tidak menasihati. Tidak menghakimi.

Tangannya terulur, menarik tangan Alysa pelan.

“Di sini ada minimarket?”

Alysa mengangguk bingung. “Mau beli apa?”

“Es krim. Gue traktir.”

Alysa mendengus kecil. “Emangnya gue anak kecil?”

Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kompleks yang sepi. Lampu jalan berjajar rapi, menciptakan bayangan panjang di aspal. Tanpa sadar, tangan mereka masih saling bertaut, dan tidak ada yang merasa perlu melepaskannya.

Alysa (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang