Happy Reading 🌻
Pukul 08:00 pagi Rakha sudah duduk diatas kasurnya, menerawang ke luar jendela yang kini. Tidak ada bisa dilakukannya, jika berjalan ke taman bekas luka dan lebam di perutnya akan sakit jika bergerak, membaca buku pun dirinya akan kesulitan karena hanya bisa menggunakan sebelah tangannya.
Rakha menghembuskan nafasnya pasrah, yang bisa dilakukan hanya berbaring dan berbaring.
"Sarapannya pak," Rakha mengangguk sebagai jawaban.
Pintu ruang inap kembali terbuka, kini memperlihatkan dokter wanita yang masih tampak cantik meski sudah berumur, bersama beberapa perawat di belakangnya memasuki ruangan."Permisi pak Rakha, Bu Alysa. Saya mau chek up harian,"
Rakha mengangguk, membenarkan posisi tidurnya."Iya silahkan,"
"Maaf saya lihat tangannya ya pak," Dokter perlahan melihat kondisi tangan Rakha yang masih setia di balut gips.
"Masih sering nyeri?"
Rakha mengangguk sebagai jawaban. "Kadang,"
"Obatnya di minun rutin ya pak,"
"Dan jangan terlalu banyak bergerak dulu dan untuk sementara waktu gipsnya jangan terkena air dulu," Rakha menyimak dengan fokus apa yang dikatakan dokter.
"Boleh berbaring pak, saya cek kondisi lebam dan luka di perutnya,"
Rakha lansung saja membenarkan posisi bantalnya dan berbaring, dokter mulai mengecek lebam di perut Rakha dengan teliti.
"Hari ini ada keluhan?"
"Luka saya kadang nyeri dok,"
Dokter mengangguk paham dengan keluhan Rakha."Baik, lukanya rutin di bersihkan oleh perawat ya,"
"Ini rutin di kompres air hangat 10 menit sehari ya, jangan terlalu banyak bergerak juga, banyakin istirahat. Untuk posisi tidur beberapa hari kedepan tetap seperti yang saya bilang kemarin ya, pak, sedikit ditinggikan untuk meredakam pembengkakan,"
"Untuk nyeri itu nanti saya kasih gel bisa di oleskan dua kali sehari ya saat pagi dan malam,"
"Bu Alysanya masih tidur ya pak?"
"Tolong di bangunkan ya pak, nanti kalo sudah bangun kami datang lagi,"
Rakha beranjak dari kasurnya mendekati kasur Alysa, wanita itu kini masih terlelap di alam mimpinya. Rakha memperhatikan wajah Alysa lekat, wanita itu tampak damai saat tertidur.
Perlahan Alysa mengerjapkan matanya, menangkap dua bola matanya yang kini menatapnya, membuat Alysa tersentak sebelum sepenuhnya sadar. "Ngapain lo?"
Rakha memundurkan dua langkahnya kebelang, seolah malu tertangkap basah tengah menatap Alysa."Muka lo kaya kebo tidur," Rakha lansung berbalik dan kembali duduk di ranjangnya.
"Bangun, dokter yang minta,"
Alysa perlahan mengedipkan matanya beberapa kali sebelum mendudukkan dirinya di atas ranjang sembari menatap sekelilingnya."Dokternya mana?"
"Masih diluar,"
Beberapa menit menunggu. Dokter yang tadi memeriksa Rakha kembali masuk ke ruangan tersebut, memberikan wejangan yang tidak jauh beda dengan yang tadi dengar Rakha. Selesai dengan sesi check up di pagi hari, Alysa beranjak dari ranjangnya menuju ke kamar mandi untuk sekedar mengguyur tubuhnya yang sudah sangat tidak nyaman sejak semalam.
Tubuh Alysa yang diguyur air hangat lansung kembali segar namun sesekali wanita itu tampak meringis saat air dan sabun mengenai lukanya, meski semalam hanya tidur empat jam ternyata mandi dapat membuat tubuhnya kembali segar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alysa (On Going)
Dla nastolatkówAlysa tidak lagi jatuh cinta, baginya hal tersebut hanya membuang waktunya saja. Namun siapa sangka jika takdir ternyata merestui mereka. "Jangan jatuh cinta sama gue," "Tapi gue mau," Sepasang teman Sma yang kini kembali berjumpa di yogyakarta, beb...
