19. Panti Asuhan Kasih

80 3 1
                                        

Happy reading 🌻

Mobil yang dinaiki keduanya melewati gerbang besar yang menjulang tinggi ke atas dan kelihatan mulai usang, beberapa daun kering tampak berserakan di sekitar jalan masuk, pertanyaan di kepala Alysa kini lebih besar dari sebelumnya. Dirinya semakin tidak mengerti mengapa Rakha tiba-tiba mengajaknya kesana.

Mata Rakha tanpa sengaja melirik ke arah wanita di sebelahnya, raut bingung jelas terpancar dari wajahnya.

"Nanti gua jelasin di dalem," Tangan Rakha terulur menarik tangan Alysa masuk lebih dalam ke gedung di depan mereka.

Langkah demi langkah keduanya semakin memasuki gedung menyusuri gedung tua tersebut, hingga langkah keduanya serempak terhenti saat kehadiran wanita paruh dengan kursi roda di hadapan mereka, tidak lupa senyum hangat di wajahnya yang membuat siapapun ikut membalas senyumnya.

Langkah Rakha terlebih dulu mendahului, berjalan mendekati kursi roda tersebut dengan sedikit membungkuk untuk mensejajarkan dirinya. "Apa kabar nak?" Itu kalimat yang pertama kali dikeluarkan wanita paruh baya tersebut sembari mengelus kepala Rakha pelan.

Rakha tampak terkejut sebelum menetralkan kembali wajahnya dengan senyum tipis meski tidak terlalu terlihat. "Bu Lasmi inget aku?"

Bu Lasmi kembali tersenyum mendengar pertanyaan pria di hadapannya, baginya tidak ada yang berubah meski sudah 19 tahun tidak melihatnya, Rakha yang berusia 6 tahun tetap sama dengan Rakha yang ada di hadapannya. "Wajahmu gak berubah, mana mungkin lupa,"

Mata Bu Lasmi berotasi pada tangan Rakha yang kini tampak terbalut gips. "Tanganmu kenapa?"

Rakha tersenyum hangat, berusaha menenangkan Bu Lasmi yang kini tampak khawatir. "Cuma terkilir," Bohong Rakha.

"Sudah di obati?" Rakha mengangguk sebagai jawaban.

Alysa yang tampak mematung tidak tau harus berbuat apa, pasalnya kehadirannya disini tampak tidak berguna. Entah apa tujuan pria itu mengajaknya kesini. Mata Bu Lasmi kembali menyorot wanita yang berdiri di hadapan keduanya. "Pacarmu?" Todong Bu Lasmi.

Rakha tersenyum tipis dan bangkit dari duduknya, menarik tangan wanita yang ada di hadapan mereka. "Temen ku bu, namanya Alysa,"

Bu Lasmi mengembangnya senyumnya menyambut kehadiran Alysa di sana di balas anggukan kecil Alysa.

Ketiganya berjalan menyusuri gedung itu kembali, seolah Rakha kini tengah bernostagia, tidak lupa sesekali Bu Lasmi juga menjelaskan beberapa bagian kini yang sudah berubah dari bangunan tersebut.

Hingga Bu Lasmi menunjuk satu pigura kecil yang tergantung di sudut dinding. "Lihat itu ada siapa," Rakha sedikit terkekeh menatap pigura tersebut, dirinya yang tidak suka kamera sejak dulu terpotret dengan senyum kaku dalam pigura tersebut.

"Dari dulu emang anaknya gak suka foto," Ucap Bu Lasmi pada Alysa yang kini berada di sampingnya.

Ditengah perbincangan hangat ketiganya, seorang gadis berjalanan mendekati mereka, membuat ketiganya reflek menoleh.

"Ibu, waktunya minum obat," Bu Lasmi mengangguk mengiyakan.

"Sudah tua ada saja obatnya ya," kekeh Bu Lasmi setengah bercanda. "Yasudah ibu tinggal dulu ya," Sambung Bu Lasmi sembari meninggalkan mereka bersama gadis yang tadi menghampiri keduanya.

Alysa (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang