Happy Reading 🌻
Tidak ada yang benar-benar berubah selama sebulan ini.
Kafe itu tetap sama, meja kayu di sudut dekat jendela, rak cangkir yang tersusun rapi di dinding, aroma kopi yang selalu tertinggal bahkan setelah jam operasional berakhir. Beberapa pelanggan tetap datang silih berganti setiap harinya, memesan minuman favorit mereka, duduk di kursi yang sama, lalu pulang seperti rutinitas yang sudah dihafal tubuh masing-masing.
Dan Alysa tetap seperti biasanya.
Menutup hari dengan menyiapkan cokelat cake untuk besok pagi, sebelum akhirnya ikut pulang bersama lelah yang tidak pernah benar-benar dikeluhkan.
Lampu-lampu kafe sudah mati sejak tiga puluh menit lalu. Papan bertuliskan close terlihat jelas di balik pintu kaca depan. Suasana di dalam kafe jauh lebih sunyi dari biasanya, hanya menyisakan bunyi kecil peralatan dapur yang sesekali bersentuhan.
Alysa masih fokus di dapur.
Sementara Rakha, sejak tadi, memperhatikannya dari ujung ruangan. Duduk diam di salah satu kursi, siku bertumpu di meja, matanya mengikuti setiap gerakan Alysa yang sibuk menimbang bahan.
“Kalo lo bosen, pulang aja duluan,” ucap Alysa tanpa menoleh.
“Gue gak bilang gitu,” jawab Rakha cepat.
Alysa berhenti sebentar, menoleh setengah badan. “Tapi gelagat lo gitu.”
“Perasaan lo aja kali.”
Alysa tidak menanggapi lagi. Kembali fokus pada adonan di mangkuk besar di hadapannya, mengaduk perlahan, memastikan teksturnya pas sebelum dituangkan ke loyang.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Lalu Rakha berdiri.
Langkahnya pelan mendekat ke dapur, berhenti di sisi meja kerja Alysa. Pria itu memperhatikan adonan cokelat yang masih diaduk dengan teliti.
“Gue harus bantu apa?”
Alysa melirik sekilas, lalu menunjuk ke arah bahan yang sudah ia siapkan di samping. “Ayak tepungnya dulu. Yang itu.”
Rakha mengangguk, mengambil saringan dan mangkuk lain. Gerakannya canggung di awal, terlalu hati-hati sampai tepung yang diayak justru tumpah sedikit ke meja.
Alysa menghela napas pelan, tapi ada senyum tipis yang muncul tanpa ia sadari. “Pelan-pelan aja.”
Dapur kecil itu yang biasanya terasa sempit dan penuh, malam ini justru terasa hangat. Bukan karena oven yang menyala, tapi karena dua orang di dalamnya bekerja berdampingan tanpa perlu banyak bicara.
Sesekali tangan mereka hampir bersentuhan saat mengambil alat yang sama. Sesekali Alysa harus menggeser posisi karena Rakha terlalu dekat tanpa sadar. Dan setiap kali itu terjadi, Alysa selalu pura-pura tidak menyadarinya.
Adonan selesai dituangkan ke loyang.
Alysa membuka oven, memasukkan loyang dengan hati-hati, lalu menutupnya kembali.
Bunyi *klik* oven yang menyala jadi satu-satunya suara yang terdengar beberapa detik.
Rakha bersandar di meja, menatap Alysa yang kini membersihkan sisa adonan di pinggir mangkuk.
“Kafe lo kalau udah tutup gini… rasanya beda ya.”
Alysa mengangkat alis. “Beda gimana?”
“Lebih sunyi aja,"
Alysa memalingkan wajahnya lagi, pura-pura sibuk merapikan alat. “Karena gak ada pelanggan yang rewel.”
Rakha tersenyum tipis, tapi tidak membantah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alysa (On Going)
Fiksi RemajaAlysa tidak lagi jatuh cinta, baginya hal tersebut hanya membuang waktunya saja. Namun siapa sangka jika takdir ternyata merestui mereka. "Jangan jatuh cinta sama gue," "Tapi gue mau," Sepasang teman Sma yang kini kembali berjumpa di yogyakarta, beb...
