Happy reading 🌻
Pukul 8 pagi Alysa sudah bangkit dari kasurnya, mencepol rambutnya asal. Langkahnya lansung turun ke dapur untuk mencari panggangannya yang entah dimana. Sialnya barang itu selalu hilang saat akan dibutuhkan.
"Perasaan alat bakar-bakaran gue disini deh," Ucap Alysa sembari merogoh laci dibawah dapurnya, namun benar saja. Alat itu menghilang entah kemana.
Sesaat Alysa tersadar jika dirinya memiliki tetangga. Mungkin Alysa harusnya memanfaatkannya sekarang. "Rakha punya gak ya?"
Ting tong
Bel rumah milik Alysa berbunyi beberapa kali, membuat sang pemilik rumah reflek menoleh ke arah pintu ditengah aktifitasnya mencari pemanggangnya, sorot mata Alysa menatap jam dinding yang kini menunjukkan pukul 8 pagi.
Langkah Alysa berjalan mendekati pintu, tidak lupa mengintip terlebih dulu melalui jendela di samping pintunya, dibalik jendela terlihat keempat sahabatnya kini tengah menatap pintu, layaknya menunggu pemilik rumah membukakan pintu dan mempersilahkan masuk.
Tanpa menunggu bel kedua berbunyi, Alysa memutar kunci dan menarik knop pintunya. "Kok lo masih pake baju tidur sih?" Protes Dinda menatap Alysa yang kini masih mengenakan piyama.
"Baru juga jam 8 pagi? Emang mau pada kemana sih?"
"Gelar karpet merah buat kita," Ucap Alana asal.
"Lo udah siapin belum alat bakar-bakarnya?"
Alysa menggeleng lesu, membuat keempat gadis dihadapannya menyerngit heran. "Kata lo kemarin ada Al?" Tanya Nadila.
"Ya ada, tapi gue lupa dimana naronya,"
Keempat wanita itu serentak mendadak lesu."Ya terus gimana dong? Pinjem tetangga lo aja deh kalo gak al," Tanya Nadila lesu.
"Pinjem tetangga gue?"
Keempatnya mengangguk setuju."Iyaa. Kalo beli baru tapi lo punya rugi kali," Ucap Dinda.
"Yaudah al sana pinjem deh,"
"Gue ganti baju dulu deh kalo gitu," Alysa yang akan berbalik ke kamarnya tertahan dengan keempat sahabatnya yang tampaknya ingin segera mendapatkan panggangan meski itu dibutuhkan nanti malam.
"Yaelah ngapain ganti baju sih? Tinggal 5 langkah dari rumah doang,"
"Ya tapi masa gue pake baju tidur?" Tanya Alysa yang kini memperlihatkan dirinya yang tampak tidak beraturan.
"Lu mau pinjem panggangan, bukan dinner. Lagian emang kenapa kalo tetangga lo liat bentukan lo gini?" Benar juga. Pertanyaan Neysya membuatnya mengerjapkan matanya beberapa kali, menyadari apa yang dikatakan wanita itu benar adanya.
"Yaudah oke gue pinjem sekarang,"
Alysa melangkah keluar dari rumahnya menuju ke rumah Rakha yang berada tepat disebelahnya untuk meminjam alat panggangan milik pria itu. Dirinya berharap pria itu memilikinya. Langkah Alysa semakin dekat, tidak lupa menyapa satpam yang ada di depan rumah pria itu.
Ting tong
Mendengar suara bel membuat Rakha mengalihkan atensinya, dengan santai sembari membawa secangkir kopi di tangannya pria itu berjalan mendekati pintu, penasaran dengan tamu yang menekan bel rumahnya sepagi itu.
Pintu rumah Rakha terbuka, memperlihatkan Alysa yang kini masih mengenakan baju tidur menatap ke arahnya.
Di hadapan Alysa kini terlihat Rakha yang sudah mengenakan seragam kerja lengkapnya, setelah gipsnya yang sudah dibuka sepertinya pria itu lansung akan bekerja hari ini. Tampak penampilan keduanya bak langit dan bumi kini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alysa (On Going)
Fiksi RemajaAlysa tidak lagi jatuh cinta, baginya hal tersebut hanya membuang waktunya saja. Namun siapa sangka jika takdir ternyata merestui mereka. "Jangan jatuh cinta sama gue," "Tapi gue mau," Sepasang teman Sma yang kini kembali berjumpa di yogyakarta, beb...
