Tepat dua minggu sudah Zidan melarikan diri dari penjara, bahkan hingga hari ini mereka masih mencari keberadaan pria itu. Entah kemana Zidan pergi, jejaknya hilang bak di telan bumi.
Mendengar kabar Zidan yang kembali beraksi membuat kedua orang tua pria itu ikut terkejut, entah itu acting atau nyata tidak ada yang tau.
Anggota kepolisian kini tampak memantau keadaan di sekitar rumah keluarga Zidan. "Ton ini kalo Zidan liat gue sama Leo yang ada di malah kabur,"
"Lo berdua pake masker,"
"Gini banget jadi intel,"
Leo menatap Galang tajam, sejak tadi pria itu hanya mengomel tanpa henti namun tangannya tidak bergerak menyelesaikan pekerjaan mereka. "Lo bisa buruan gak nyabuninnya, tangan gue udah perih banget kena ni sabun,"
"Iyaa bawel lo,"
Galang lansung segera menyabuni piring demi piring yang ada di hadapannya. "Nih tu bilas yang kinclong,"
Kepala dan kuping Anton seolah akan mendidih sebentar lagi akibat dua pria di belakangnya yang tidak berhenti membicarakan ini dan itu sejak tadi tanpa jeda.
"Bisa jangan berisik gak?" Ucap Anton tajam memperingati keduanya.
Bukannya menutup mulutnya, Leo kembali menanyakan hal lain pada Anton. "Lagian kenapa gak temen sesama polisi lo aja yang nyuci ni piring sih?"
"Gak ada yang mau,"
Galang menyerngit heran, mempertanyakan pada dirinya kenapa dirinya mengiyakan tawaran cuci piring tersebut. "Lah terus kenapa kita mau ya?"
"Lo sih udah gue bilangin juga malah ayo ayo aja, ini bukan intel film action yang ada di otak lo,"
"Ya gue gak nyangka kalo bakal jadi tukang cuci piring,"
"Sst berisik lo,"
"Anjing baju gue robek ntar,"
"Btw baksonya enak gak? Gue laper,"
"Makan mulu otak lo,"
"Enak banget si Gavin sama Diga, kerja gak perlu nih beginian,"
"Tau gitu gue tes pns dulu, biar jadi mantu idaman"
"Emang lo belum jadi menantu idaman?"
"Belum, masa kata emaknya gua tukang stim?
"Emang salah?"
"Ya enggak sih,"
🌼🌼🌼🌼
Alysa memarkir mobil milik Bunda dengan rapi, baru saja kemarin dirinya mendarat di jakarta. Wanita itu kini menghadiri pertemuan santainya bersama sahabat lamanya di Sma dahulu. Setelah memastikan mobilnya terkunci, Alysa kembali meneruskan langkahnya menuju pintu cafe, hingga kehadiran seseorang yang baru saja terlihat dibalik pintu menghentikan langkahnya.
Wanita di hadapan Alysa tampak menatap tajam ke arahnya dari ujung mata, mata wanita itu meneliti Alyda dari ujung kepala hingga kaki.Alysa menyadarinya tanpa harus memutar kepalanya untuk menghadap ke arah wanita itu.
Seketika hati Alysa terasa sesak, reflek mengepalkan tangannya. Tanpa berbalik atau pun menyapa meski mereka saling mengenal Alysa lansung kembali menegakkan kepalanya dan berjalan lurus ke depan hingga masuk ke dalam cafe.
"Permisi ada yang bisa saya bantu pesanannya?"
"Ice americano doubel short ,cake cokat 1
"Maaf kak?"
Alysa menatap barista itu datar, seolah tidak ingin kembali mengulangi kalimatnya. "Oh iya kak, totalnya 68.000,"
Tangan Alysa terulur mengeluarkan dompetnya dari tas, segera membayar pesananya. "Baik, ditunggu pesanannya ya kak," Ucap kasir tersebut setelah memberi uang kembalian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alysa (On Going)
Teen FictionAlysa tidak lagi jatuh cinta, baginya hal tersebut hanya membuang waktunya saja. Namun siapa sangka jika takdir ternyata merestui mereka. "Jangan jatuh cinta sama gue," "Tapi gue mau," Sepasang teman Sma yang kini kembali berjumpa di yogyakarta, beb...
