Happy Reading 🌻
Siang itu café berjalan dengan ritme yang lambat. Bukan sepi, tapi juga tidak ramai. Hanya cukup hidup untuk membuat ruangan tetap terasa bernapas. Mesin kopi sesekali mendesis pelan, bunyi sendok beradu dengan gelas terdengar halus dari arah bar, dan musik akustik yang diputar Sarah mengalun rendah, nyaris seperti latar yang sengaja dibuat agar orang bisa tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Alysa berdiri di balik meja kasir dengan cangkir kopi di tangannya. Uapnya sudah hilang sejak tadi, tapi ia masih sesekali mengangkatnya ke bibir hanya untuk melakukan sesuatu. Hanya untuk memberi tubuhnya kegiatan kecil di tengah pikirannya yang terlalu aktif.
Di luar jendela, matahari siang jatuh miring ke trotoar. Cahaya putihnya memantul di kaca, membuat bayangan meja dan kursi di dalam café tampak memanjang di lantai. Waktu terasa berjalan lambat. Terlalu lambat.
Mobil lo udah selesai dari bengkel?" tanya Sarah dari dekat rak roti, suaranya memecah sunyi yang tipis.
"Belum. Baru bisa diambil besok," jawab Alysa tanpa benar-benar menoleh. Tangannya tetap sibuk menyusun struk, meski pikirannya tidak benar-benar ada di situ.
"Berarti tadi pagi lo berangkat sama Rakha?"
Alysa melirik sekilas, lalu mengangguk kecil. Gerakan yang terlalu cepat, seolah ingin topik itu lewat begitu saja.
Sarah tersenyum tipis, senyum yang tahu lebih banyak dari yang di katakan. "Gue ikut seneng, Al."
Alysa mengernyit pelan. "Untuk?"
Sarah menutup etalase roti, lalu bersandar santai di meja kasir. "Gue bukan anak kecil yang gak bisa lihat lo sama Rakha itu sebenernya apa."
Refleks, tangan Alysa naik ke tengkuknya. Garuk pelan. Salting yang tidak bisa disembunyikan. "Keliatan ya?"
"Iya," Sarah tertawa kecil. "Dan gue cuma seneng lo punya orang yang bisa lo andelin."
Kalimat itu tidak keras. Tidak dramatis. Tapi entah kenapa, menempel di kepala Alysa lebih lama dari yang seharusnya.
Bisa diandalkan.
Aneh. Kata-kata itu justru membuat dadanya terasa sempit. Bukan karena tidak setuju. Tapi karena takut. Takut kalau dirinya terlalu bergantung. Takut kalau suatu hari, sandaran itu tiba-tiba hilang.
Bel pintu café berbunyi.
Ting.
Suara kecil itu terdengar lebih nyaring dari biasanya.
Alysa mendongak dengan senyum otomatis. Senyum ramah yang sudah jadi kebiasaan. Senyum yang sudah di pakai berkali-kali untuk pelanggan yang datang dan pergi tanpa makna.
"Selamat siang, kak. Bisa saya bantu pesanannya?"
Alysa masih menunduk ke iPad, siap mencatat. Lalu mendongak kembali. Dan senyumnya sempat tertahan sepersekian detik.
Wanita itu berdiri tepat di depan kasir dengan ekspresi hangat. Rambutnya rapi tergerai, ujungnya jatuh lembut di bahu. Blus putih bersih dipadukan dengan rok hitam simpel, tas kulit kecil menggantung di lengannya. Penampilannya tidak berlebihan, tapi cukup untuk menarik perhatian.
"Hai. Kamu Alysa, kan?"
Butuh waktu sangat singkat bagi Alysa untuk merapikan ekspresinya lagi. "Iya," jawabnya tipis. "Gak nyangka kita ketemu lagi di sini."
Dan itu jujur.
"Iya. Kemarin Rakha bilang pas aku di rumah orang tuanya kalau kamu punya café di sini. Jadi aku pikir, gak ada salahnya nyoba."
KAMU SEDANG MEMBACA
Alysa (On Going)
Novela JuvenilAlysa tidak lagi jatuh cinta, baginya hal tersebut hanya membuang waktunya saja. Namun siapa sangka jika takdir ternyata merestui mereka. "Jangan jatuh cinta sama gue," "Tapi gue mau," Sepasang teman Sma yang kini kembali berjumpa di yogyakarta, beb...
