17. Benteng Cina

83 4 0
                                        

Happy Reading 🌻

Alysa sudah kembali mengganti setelannya kembali, setelan yang di gunakan saat mereka baru saja tiba di rumah sakit tiga hari yang lalu, untungnya kini baju itu sudah di laundry hingga bercak darah kemarin sudah menghilang dengan sempurna.

Setelah berada tiga hari di rumah sakit, dokter memberi izin mereka untuk pulang. Alysa yang kini sudah jauh lebih baik, sedangkan Rakha masih harus menjalani check up rutin selama seminggu sekali.

"Ekhem,"

Alysa berbalik, menatap pria yang kini baru saja keluar dari toilet, sama halnya dengan Alysa. Rakha juga kembali mengenakan setelan kemarin.

Melihat Rakha yang kini belum mengancingkan bajunya, Alysa lansung reflek menutup rapat matanya. Itu pemandangan memalukan.

"Kenapa gak di kancing?" Ucap Alysa histeris saat tanpa sengaja melihat hal tersebut.

Reaksi itu terlihat sangat berlebihan di mata Rakha."Lebay,"

Mata Alysa berotasi malas, apa pria itu bahkan tidak malu memperlihatkan badannya untuk sembarang orang. "Pake baju lo,"

"Ck, bantuin kancingin baju gue,"

Reflek Alysa perlahan membuka matanya, meniliti penampilan Rakha dari ujung kaki hingga kepala, Pria itu bisa mengganti celananya sendiri tapi kenapa tidak dengan mengancingkan baju. "Lo bisa pake celana tapi gak bisa pake baju?"

Rakha menghela nafas lelah, jika bukan karena tidak ada yang bisa di minta tolong Rakha tidak akan memaksakan tangannya yang patah hingga memerah untuk berusaha memakai celananya sendiri. "Lo mau pakein celana gue?"

"Gue gak cabul,"

"Buruan kancingin baju gue,"

Meski sedikit terpaksa Alysa berjalan mendekati Rakha yang masih setia berdiri di posisinya. Dua langkah lagi mendekati Rakha, Alysa menarik nafasnya dalam-dalam. Gawat, jantung Alysa tampaknya berdetak dua kali lebih cepat.

Dari jarak segitu Alysa bisa melihat badan atletis milik Rakha, tidak. Alysa tidak ingin terlihat layaknya wanita aneh sekarang, terlebih itu bukan sesuatu yang boleh dilihatnya.

Dengan memejamkan matanya, Alysa Mulai dari atas mengancingkan baju Rakha satu persatu. Alysa tampak terkejut jika tangannya tanpa sengaja mengenai badan Rakha.

Menyadari jika sejak tadi gerak-gerik Alysa tampak aneh, Rakha sedikit menundukkan kepalanya, mengsejajari tepat di depan wajah Alysa. Ternyata wanita itu menutup matanya, hal itu memunculkan pertanyaan di kepala Rakha.

Setelah dirasa selesai, Alysa perlahan membuka matanya, retina coklat. Itu hal yang pertama kali dilihatnya saat membuka mata. Tanpa di sadari jantung keduanya berdetak dua kali lebih cepat.

"Apaan sih lo?" Tanya Alysa tajam, karena tidak nyaman dengan posisi itu.

Rakha kembali menegakkan badannya, bersamaan dengan itu Alysa berbalik ke arah ranjangnya, kembali mengecek apakah barangnya masih ada yang tertinggal atau tidak.

Sambil menunggu Alysa merapikan barangnya, Rakha mendudukkan dirinya di atas ranjang, mata Rakha melirik ke arah nakasnya, dirinya lupa ingin memberikan sesuatu pada Alysa. Untung saja saat Reno menjenukkan dirinya kemarin, membuat Rakha bisa menitip barang itu.

Tangan Rakha terulur mengambil benda itu di nakasnya, dan berpindah posisi ke ranjang Alysa.

Alysa menyerngit saat Rakha menyodorkan jam tangan padanya, entah apa maksud pria itu, tapi Alysa memiliki jam tangan sekarang. "Jam tangan? Gak perlu repot-repot, gue punya,"

Alysa (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang