Happy Reading 🌻
Alysa duduk di kamarnya, bersandar di kasur, mata menatap langit-langit. Ingatannya terus berputar pada ucapan Rakha sore tadi. Kata-kata itu mengganggunya, menimbulkan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. dirinya tidak ingin percaya bahwa itu adalah ungkapan cinta, tapi entah kenapa, bagian dari dirinya ragu.
"Dia pasti cuma asal nyeplos," gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri sendiri. Namun hatinya tetap berdetak cepat, menandakan bahwa kata-kata Rakha menancap lebih dalam daripada yang disadari.
Alysa menutup matanya sejenak, membayangkan momen-momen lain bersama pria itu, konyol, menyebalkan, dan terkadang menyenangkan. Alysa tahu, menghindari perasaan ini bukan jalan keluar yang sempurna, tapi setidaknya memberinya waktu untuk berpikir dengan kepala dingin.
Pria itu benar-benar menyebalkan. Masalah rekaman yang seharusnya cukup membuatnya gusar belum selesai, tapi Rakha malah kembali memenuhi pikirannya dengan hal lain, hal yang seharusnya bisa diabaikan. Alysa menarik napas panjang, menekankan dagu pada lututnya, mencoba menenangkan diri, tapi rasa campur aduk itu tetap bertahan. dirinya sadar, menghadapi Rakha tidak pernah sesederhana yang dibayangkan mulai hari ini.
Di sisi lain Rakha masih berdiri di balkon, tatapannya tidak lepas dari jendela kamar Alysa. Hatinya berdebar, campur aduk antara resah dan ingin mendekat. dirinya ingin segera menegur, ingin memastikan Alysa baik-baik saja, tapi sesuatu menahannya, rasa takut salah langkah atau membuat perempuan itu semakin menjauh.
Perasaan itu membuatnya gelisah. dirinya tidak mengerti sendiri kenapa kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya. "Gue nggak akan ngelakuin itu ke orang lain, apalagi ke orang yang gue suka," Ucpan itu begitu asing di telinganya sendiri. Rakha tahu dirinya bukan tipe orang yang gampang mengungkapkan perasaan, dan tiba-tiba kata itu meluncur tanpa di sadari.
Kini, Rakha senantiasa menatap Alysa dari jauh, rasa bersalah ikut menyelimutinya. dirinya ingin menjelaskan, ingin memperbaiki, tapi di saat yang sama takut membuat keadaan menjadi lebih rumit. Setiap gerakan Alysa di dalam kamar seolah memperjelas jarak yang diciptakannya sendiri, dan Rakha hanya bisa berdiri di sana, terombang-ambing antara dorongan hati yang ingin mendekat dan logika yang menahannya untuk tetap menunggu.
Rakha menunduk sebentar, menutup mata, mencoba menenangkan diri. Tapi ucapan yang keluar dari mulutnya sore tadi terus berulang di kepalanya. Rakha benar-benar tidak mengerti dari mana keberanian itu datang, dan kenapa kata-kata itu terasa begitu penting hingga harus mengatakannya. Rasa sukanya pada Alysa campur aduk dengan rasa takut, takut mengecewakan, takut membuatnya tersinggung, takut bahwa Alysa akan semakin menjauh jika dirinya salah langkah.
****
Keesokan paginya, Alysa terbangun sebelum matahari sepenuhnya muncul. Tubuhnya lelah, mata berat, tapi dirinya sama sekali tidak tidur nyenyak, malam tadi pikirannya masih berputar, ucapan Rakha dan semua kejadian kemarin memperparah insomnianya. Alysa menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi kantuknya tidak kunjung datang.
Dengan wajah yang masih setengah ngantuk, Alysa bangkit dari kasur. Pikirannya langsung tertuju pada kafe, mengingat kemarin dirinya pulang lebih cepat, meninggalkan beberapa persiapan yang belum terselesaikan. Kini, pagi buta itu dirinya harus membuat kue, menata bahan, dan menyiapkan segalanya agar kafe siap buka tepat waktu.
Alysa melangkah keluar dari rumahnya, masih setengah mengantuk, dan membuka pintu mobilnya. Jalanan pagi itu sepi, hanya beberapa kendaraan yang melintas pelan. Udara dingin menusuk kulit saat dirinya menyalakan mesin, dan uap hangat napasnya terlihat samar di kaca mobil. Lampu jalan memantul di aspal basah, memberi kesan kota yang baru mulai bangun dari tidur panjangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alysa (On Going)
Teen FictionAlysa tidak lagi jatuh cinta, baginya hal tersebut hanya membuang waktunya saja. Namun siapa sangka jika takdir ternyata merestui mereka. "Jangan jatuh cinta sama gue," "Tapi gue mau," Sepasang teman Sma yang kini kembali berjumpa di yogyakarta, beb...
