27. Happy Belated Birthday

134 4 0
                                        

Menit demi menit kian berlalu dengan cepat, tanpa disadari sudah sejak 5 jam yang lalu Alysa direpotkan dengan kegiatannya di dapur. Menuang tepung, gula, mencampur semua bahan yang ada di depannya sembari beberapa kali melirik ke arah buku resep di sampingnya.

"Morning all," Sapa seseorang yang memecah fokusnya.

Alysa memutar bola matanya malas mendengar sapaan pria itu, entah hanya basa-basi atau Pandu mengalami kebutaan saat ini, matahari kini sudah naik tepat diatas, menandakan siang hari."Udah siang kali ndu,"

"Lo ngapain di dapur siang-siang? Tumben," Tanya Pandu tanpa memperdulikan jawaban Alysa.

Senyum Alysa mengembang mendengar pertanyaan tersebut, tangan Alysa terhenti dari adonan di hadapannya, matanya menatap Pandu berbinar. "Tebak, apa isi otak gue sekarang,"

Pandu reflek menyerngit, tampaknya wanita dihadapannya berharap dirinya berubah menjadi dukun sekarang. "Gak keliatan. Kepala lo gak transparan," Jawab Pandu dengan watados.

Raut Alysa masih tampak sumbringah mendapat jawaban asal tersebut. "Gue lagi mau ngeluarin menu cupcake,"

"Buat apaan?"

Alysa menatap Pandu nanar, entah pria itu sadar atau tidak menanyakan hal tersebut. "Buat di jual dong pandu,"

"Gue butuh biaya besar untuk bangun cafe satu lagi," Pandu mengangguk menanggapi wanita itu.

Ditengah pembicaraan keduanya Sarah tampak muncul dari balik pintu, membuat keduanya serempak mengalihkan atensi dari balik pintu.

"Al ada yang nyariin," Ucap Sarah dari balik pintu.

"Siapa?" Tanya Alysa tanpa mengalihkan pandangannya dari adonan di hadapannya.

"Temen cowo lo yang biasa dateng ngopi,"

Tangan Alysa berhenti bekerja, berusaha memikirkan seseorang yang di maksud sarah. "Oh Rakha?" Tanya Alysa berusaha menebak.

"Gak tau, lupa gue namanya,"

"Okey ntar gue kedepan," Ucap Alysa yang diangguki Sarah.

Percakapan keduanya tidak luput dari tatapan mata Pandu, terlebih mendengar nama Rakha. Tidak bohong, jika hatinya sedikit terbakar sekarang. Entah apa tujuan pria itu selalu datang ke cafe.

"Lo boleh lanjut kerja ndu, gue mau kedepan sekalian bawa ini kedepan,"

Alysa membuka sarung tangan yang ada di tangannya, mengambil jejeran cupcake yang berada di atas nampan di hadapannya yang sudah selesai dan membawanya kedepan, menyusunnya diantara jejeran chocolate cake kebanggan cafenya, berharap cupcake itu juga sama larisnya seperti kue coklat tersebut.

"Menu baru al?"

Alysa mengangguk mengiyakan. "Tolong add ke buku menu sama mesin kasir ya,"

"Harganya?"

"Sama kaya coklat cake,"

Langkah Alysa berjalan mendekati salah satu meja yang berada, dimana pria dengan setelan casual yang tampak masih asik memainkan ponsel ditangannya tanpa menyadari kehadiran orang lain disana.

"Lo nyari gue?" Tanya Alysa. Membuat lawan bicaranya mendongak, mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Bukannya menjawab pertanyaan Alysa, Rakha malah kembali melemparkan pertanyaan. "Lagi sibuk?"

"Lumayan. Lo mau ngajak gue kemana kali ini?"

Rakha tampak melirik sesuatu dibelakang Alysa, lebih tepatnya ke arah kasir dimana Alysa tadinya muncul. Berusaha mencari alasan kesibukan Alysa. "Emang sibuk apaan sih?"

Alysa (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang