8

8.2K 806 9
                                        

Gedung pusat komando Academy 52
Ruang kerja Letnan Adolf

Letnan Adolf duduk diam di depan meja kerjanya. Di depanya adalah tumpukan data pribadi dari 42 anak yang lolos seleksi sihir. Akhir akhir ini dia lumayam sibuk mengurus data data yang di minta oleh pihak Departemen.

Dibantu dengan seorang gadis yang dia didik khusus selama 3 tahun ini membuat pekerjaanya selesai lebih awal. Sekarang dia hanya perlu menunggu pihak Departemen untuk datang dan mengambil data data yang mereka minta.

Itu hanyalah data stastistik dari nilai akademik dan atletis mereka serta hasil test Psikologi dan kelakuan mereka selama kegiatan di Academy berlangsung.

Adolf menyesap cerutunya dan menghembuskanya dengan nafas lega.
Tahun tahun ini setelah kehadiran sosok Philia di kantornya membuat semua pekerjaan disana menjadi lebih cepat, ruang kerjanya yang biasanya berantakan tidak terurus sekarang menjadi tertata dan tersusun rapih.

Dia benar benar tidak menyangka anak seperti dia yang berasal dari panti memiliki bakat untuk menjadi sekertarisnya. Kemampuanya itu benar benar tidak sesuai dengan umurnya dan Itu jauh melampaui standar siswa Academy. 

Adolf sering kali merasa bersalah telah membebani Philia dengan tugas tugas yang seharusnya di selesaikan olehnya. Seharusnya dia menjadi seorang mentor untuknya dalam belajar tetapi karena kecepatan belajar miliknya yang tidak masuk akal membuat Adolf mengeleng kepalanya. Sudah tidak ada pelajaran akademis yang dapat dia ajarkan, Philia telah menguasai semuanya dalam tahun pertama.

Adolf telah membuat kamar khusus untuknya 3 tahun lalu dan itu di buat di dalam gedung pusat komando tepatnya di lantai satu di ujong lorong sebelah kanan. dia membuatnya karena Philia menolak keras untuk tinggal di asrama putri. Adolf telah menanyakan alasanya tapi dia hanya diam tidak menjawab apa apa.

Bahkan sampai saat ini Philia selalu menyibukan diri di dalam Ruangan kerjanya, dia benar benar tidak memahaminya. kenapa dia tidak bergaul dengan siswa siswi lainya, Adolf tidak pernah melarang akan hal itu. dari penyelidikan tentangnya dia tidak pernah mengalami bully di pantinya atau mendapat suatu kekerasan yang membuatnya memiliki trauma mental.

Adolf menghisap kembali cerutunya dan menghembuskanya sambil menatap Philia yang sedang duduk meminum secangkir kopi di atas sofa. tangan kirinya memegang sebuah buku telunjuknya mulai mengganti halaman demi halaman sesekali meneguk kembali kopi dengan elegan.

Adolf mulai tersenyum lucu melihat keseharianya yang seperti itu setiap hari, setelah pekerjaan beres dia selalu menyibukan diri dengan buku buku yang ada di sana. 

Philia melirik ke arah pria besar yang kini terus menatapnya.

" Apa ada yang salah.." tanya Philia karena merasa tidak nyaman di tatap seperti itu.

" tidak, apa kau benar benar akan menghabiskan waktumu menyendiri di sini"

"aku tidak sendiri, di sini juga terdapat seorang Letnan yang sedang menghisap Cerutu" ungkapnya sembari terus melanjutkan aktifitas membacanya.

Philia mungkin terasa sedikit kurang sopan untuk menanggapi seorang berpangkat Letnan bertanya kepadanya. Dia merasa sedikit kesal dengan Adolf karena dulu mengancamnya dengan membawa nama Suster Lida. tetapi dilain sisi dia juga berterimakasih untuknya yang telah memberikan akomodasi kepadanya. 

Philia sekarang menjadi bisa lebih merawat dirinya dan perutnya selalu terisi bahkan sebelum dia merasa lapar. bahkan akhir akhir dia selalu di perlakukan seperti anaknya sendiri. membeli keperlukan gadisnya dengan uang pribadinya.

"Maksudku, cobalah bergaul dengan orang orang seusiamu"

Philia menutup bukunya dia mulai menatap ke arah lapang dari balik jendela.

NEMESIS The Demon from EmpireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang