26

5.8K 517 21
                                        

Western Front, Norland City

Langit yang seharusnya cerah dan biru telah menjadi kemerahan oleh asap tebal yang mengepul akibat ledakan dahsyat yang menghantam bangunan-bangunan sekitarnya. Siang yang seharusnya penuh cahaya matahari kini terasa seperti malam yang penuh dengan kegelapan yang mencekam. Suara ledakan berkepanjangan menggema di seluruh penjuru, seolah-olah tidak pernah berhenti, menghantam pihak Kekaisaran seperti belati tajam menusuk jiwa mereka.

"Tutupi dirimu, cepat! Ambil posisi bertahan!" teriakan para perwira Kekaisaran berdesakan di antara deru ledakan. Mereka berjuang keras untuk memimpin pasukan mereka menuju bunker dan parit pertahanan. Para tentara Kekaisaran bergerak tergesa-gesa, cemas karena ledakan-ledakan ranjau darat yang tiba-tiba membuat mereka sadar akan serangan infantry Kerajaan Grasia yang sudah dekat.

Saat mereka berlari menuju tempat perlindungan, mereka bisa merasakan getaran dari ledakan yang mengguncang tanah di bawah kaki mereka. Asap dan debu meliputi langit-langit bunker, menciptakan atmosfer yang semakin suram dan mencekam. Di dalam hati mereka, ketakutan dan keputusasaan bergelayut seperti bayangan yang tidak pernah hilang.

Para prajurit Kekaisaran bersiap-siap untuk pertempuran yang lebih intens lagi, menyadari bahwa mereka harus berjuang habis-habisan untuk bertahan hidup di tengah badai ledakan yang mengerikan ini.

"Tembak...!!"

Muntahan peluru pecah seketika, mengisi udara dengan dentuman kekerasan yang menggema di seluruh medan pertempuran. Di tengah riuh rendah baku tembak yang mencekam, nyawa-nyawa pun segera menjadi taruhan. Beberapa tank bergerak maju untuk memberikan perlindungan kepada pasukan infantry yang merangsek maju dalam upaya putus asa untuk merebut kembali kendali.

Sebuah proyektil sihir, yang seperti datang dari langit sendiri, tiba-tiba turun dengan kecepatan mematikan dan menghantam bunker milik Kekaisaran yang kokoh. Bunker itu runtuh dengan hebatnya, menimpa para tentara yang tak berdaya di dalamnya.

Teriakan kesakitan terdengar dari bawah timbunan reruntuhan. Salah seorang tentara tertimbun di bawah berton ton tumpukan bangunan, separuh tubuhnya terperangkap dan tak bisa bergerak. Darah mengalir dari luka-luka di wajahnya, dan matanya penuh dengan ketakutan dan putus asa.

"Akh... tolong!" teriaknya dengan nafas yang terengah-engah.

Saat dia mencoba untuk menyingkirkan puing-puing yang menindihnya, rasa sakit yang luar biasa merayap ke seluruh tubuhnya. Ia mengigit bibirnya dengan keras, mencoba untuk menahan rasa sakit yang melanda. Nafasnya berdesir naik turun, mencoba untuk menenangkan pikirannya yang kacau.

"Eldrik, tolong aku," ucapnya dengan suara lemah, memandang rekan sebarisnya yang masih berdiri dengan senapan mesinnya.

Eldrik dengan cepat berlari mendekat, meskipun bahaya masih mengancam di sekitarnya. Ia memulai usaha putus asa untuk mengangkat puing-puing yang menimpa rekan seangkatannya. Meskipun penuh tekad, batu-batu besar itu tetap tidak bergerak, dan setiap usaha mereka terasa sia-sia. Namun, Eldrik tidak akan menyerah. Ia berusaha keras meskipun tangannya terluka parah, karena mereka adalah saudara dalam pertempuran yang tidak pernah meninggalkan satu sama lain di saat genting seperti ini.

"Cepat! Mundur dari serangan penyihir musuh!" Teriak seorang tentara sambil berlari mendekati rekan-rekannya, memberi kabar dan kemudian bergegas untuk memberikan peringatan kepada yang lain.

"Sudah, tinggalkan aku. Pergi sekarang!" desak seorang prajurit lainnya, wajahnya dipenuhi ketegasan meskipun matanya memancarkan keputusasaan.

"Tidak, aku tidak akan pergi sampai kau ikut!" balas yang lain dengan tekad dalam suaranya.

"Cepatlah, pergi! Tidak ada lagi harapan bagiku."

Saat kata-kata terakhir itu terucap, sebuah ledakan mengerikan sekali lagi mengguncang mereka dari atas. Ledakan itu mendorong Eldrik terpental jauh, kepala dan pendengarannya berdengung hebat. Ia merenungkan sekitarnya dengan pandangan buram, merasa beruntung masih hidup setelah ledakan itu menghancurkan sekelilingnya. Bebatuan dan puing-puing bangunan hancur berserakan, termasuk potongan tubuh rekannya.

NEMESIS The Demon from EmpireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang