38

4.7K 563 49
                                        

The Capital of the Grasia kingdom

Iris duduk menatap cermin menggunakan gaunya sembari disisir lembut oleh pelayan pribadinya. Dirinya hendak beristirahat setelah melihat matahari terbenam, Seperti biasa Pelayanya dengan setia akan membantunya melepas semua atribut kerajaan setelah menjalani hari harinya menjadi seorang putri.

"Rambutmu selalu indah Putri, walaupun anda telah mengalami hari yang berat" ucap Neila mencopot pernak pernik dalam rambut pirang Iris.

"Tentu saja, ini berkatmu yang selalu merawatnya" ucap Iris membuat Neila tersanjung.

"Apa Kita akan memenangkan perang ini?" tanya Neila memasang wajah khawatir

"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, selagi ada Leandro semuanya akan aman" ucap Iris meyakinkan. 

 Neila mulai tersenyum mendengar nama pria itu, dia paham perasaan majikanya selama ini. Karena dia selalu memperhatikan keduanya sejak masih kecil. Neila mulai terkekeh pelan sembari menutupi mulutnya.

"Apa yang kau tertawakan?" tanya Iris kebingungan melihat pantulan pelayanya dari cermin.

"Anda benar benar lucu putri, aku selalu memperhatikan tubuhmu dan baru baru ini kau selalu memasang sebuah cincin di jari manismu, apa itu cincin pertunangan dengan kesatriamu" ucap Neila menggoda majikanya.

 Iris mengankat tanganya memandangi jari manisnya yang diselimuti cincin indah. Bibirnya mulai tersenyum dan itu menjawab semua pertanyaan pelayanya.

 "Sudahlah, kau istirahat saja lagi pula hari sudah gelap" ucap iris meleos berjalan ke arah balkon kamarnya yang berada di lantai 3. Itu mengarah ke wilayah Norway tempat kakanya dan pujaan hatinya berjuang.

"Putri ini sudah malam, angin dingin makin kencang sebaiknya anda segera masuk" ucap Neila membujuk majikanya sembari menyelimuti tubuhnya dengan mantel.

Tok tok tok

Ketukan pintu kamar yang membuat keduanya melirik. Gadis berusia 15 tahun itu mulai memasuki kamar tidur Iris sambil berwajah cemberut. 

"Kakak, mari makan aku sudah lapar" 

Iris menatap adiknya gemas, baru baru ini hubungan dia dan adiknya mulai membaik. Dengan tenang Alcira berjalan ke arah kakanya yang sedang berdiri di balkon. memeluk kakanya dengan manja setelah semua kelas yang dia jalani. Neila merasa terhibur melihat kelakuan kedua saudara di depanya.

"Sedang apa kau disini kak?"

"hanya mencari udara segar"

"Para pelayan sudah menyiapkan makanan, ayo turun bersama" 

"Baik" ucap iris mengangguk

 Sebuah kilatan cahaya mulai memenuhi langit membuatnya seakan seperti matahari pagi. Ketiga orang yang berada di balkon segera tercengang menatap ke arah utara tempat cahaya itu berasal.

"apa itu" 

orang orang yang menyaksikan itu tertegun menatap cahaya silau dari kejauhan. beberapa menit kemudian seluruh ibu kota mengalami gempa ringan membuat semua warga berlarian keluar dengan panik. 

"Ayo putri masuk ke bawah meja" Teriak Neila panik setelah bangunan istana bergetar

Ketiganya segera berlindung di bawah meja besar sambil berdoa kepada tuhan. Alcira memeluk kakanya dengan wajah ketakutan dan Iris hanya bisa terdiam tidak bersuara. Jantungnya berdetak cepat melihat suatu kejadian asing yang menimpanya.

 "Kakak itu berasal dari Norway, apa kekaisaran akan menyerang kita?" ujar Alcira sembari tidak tahan menahan tangisanya.

"Bagaimana dengan kak Artuk?" Lanjutnya

Iris hanya bisa memeluk adiknya itu seakan menenangkanya namun hatinya juga sama sama merasa khawatir dengan sesuatu yang terjadi di Norway. Gempa mulai berhenti dan Orang orang perlahan tenang. menatap langit cerah yang bersumber dari Norway sambil terus merasa khawatir dan ketakutan. 

"Putri apa kau tidak apa apa" Teriak penjaga yang berlari memasuki kamar 

"Kami baik baik saja" 

"Mari cepat ikuti aku, dikhawatirkan serangan selanjutnya akan datang" ujar Penjaga itu menggiring semua orang di kamar itu untuk masuk ke dalam bunker perlindungan.

"Apa itu tadi?" tanya iris sambil terus mengikuti penjaga itu. 

Nafasnya masih tidak teratur dan mencoba menenangkan dirinya.

"Aku tidak tau pasti, tapi itu seperti sebuah ledakan dari arah Norway" 

Iris semakin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak panik. Langkahnya terjatuh dan nafasnya tidak karuan. Menatap ke arah cincin pemberian Leandro dan mulai menitikan air mata. Tidak menunggu moment itu sang Penjaga dengan panik segera menggendong Iris dan berlari ke arah bunker.

"kakak, Leandro" ucap iris pilu.

***

Para tentara kekaisaran yang mencoba beristirahat kembali terbangun dengan paksa setelah sebuah kilatan cahaya menyilaukan mereka yang berada di Arlern. Dengan sigap semuanya berlarian mengambil senjata mereka dan mulai memasuki parit parit pertahanan. 

Gempa mulai menyusul di ikuti suara ledakan keras yang membuat orang orang disana menutup telinga mereka. Para petinggi mulai berlarian keluar menyaksikan kejadian itu. Beruntung jarak mereka berada jauh dari pusat ledakan. 

"Apa itu ulah gadis itu?" ujar jendral kekaisaran yang menonton dengan tenang sambil menghisap cerutunya. Bibirnya tersenyum mengingat keberanian prajurit wanita itu. 

Luis yang baru saja mengetahui bahwa bawahanya telah pergi menyerang musuh, dia merasa kesal tidak bisa benar benar mengaturnya. kenapa bawahanya yang satu ini selalu saja menimbulkan masalah dan sekarang sebuah ledakan luar biasa meledak di Norway setelah kabar bahwa Gadis itu terbang dengan sembrono.

"PHILIA.." Teriak Luis dipenuhi jengkel dan khawatir atas keselamatanya dan dengan cepat menyusul ke Norway sembari memasang Barrier sihir dengan kuat.

Para prajurit Grasia dan Libya yang tersisa setelah ledakan pemusnah itu meledak, segera berlarian dan berlindung di antara parit parit yang lumayan dalam. ratusan prajurit yang melihat ledakan itu terjadi mengalami kebutaan.

 Sebuah Jamur api raksasa mengepul ke langit menyingkirkan apapun yang dilaluinya. Dengan sekejap mengubah ladang Buah magis menjadi hamparan tanah. 

Karena itu adalah proyektil yang di buat oleh mana membuat efek radiasi yang dihasilkan perlahan memudar dalam beberapa jam. Tetapi kehancuran yang dihasilkan tidak akan kembali seperti semula.

Sebuah cahaya setitik bola pingpong jatuh ke tanah.

Itu adalah sebuah jari dengan dihiasi cincin yang masih menempel. Bahkan di detik detik kematianya Leandro masih sempat untuk memusatkan semua mananya untuk menciptakan pelindung berlapis lapis pada jarinya. Merasa jika mananya tidak akan cukup untuk menahan semua ledakan ini yang akan menghantam tubuhnya.

Tergeletak bebas dihamparan tanah sebagai bukti dari rasa cintanya kepada seorang gadis yang dinantinya. 

Jauh di atas Norway Philia yang berada di langit segera memasukan sisa sihirnya ke dalam barriernya untuk mengurangi efek gelombang kejut yang luar biasa. Membuatnya terhempas jauh ke barat dan mendarat darurat diantara pepohonan yang rimbun.

"Ini gawat" 

Bergesekan dengan tanah yang kasar membuat alatnya rusak menghantam batu. 

"akhh" 

Beruntung kakinya masih terbalut potongan potongan besi dari mesin terbangnya, jika tidak itu akan benar benar habis terkikis. tubuhya masih utuh dan hanya mengalami pendarahan ringan. Efek gaya dorongnya mulai habis kini tubuhnya berhenti tepat di depan sebuah sungai. Keadaanya sudah kacau sembari terus menahan rasa sakit di bahu kananya, tanganya mengusap bawah hidungnya dari noda merah. Matanya sudah benar benar berat dan perlahan memejamkan matanya.

NEMESIS The Demon from EmpireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang