Terduduk diam dengan serius menatap ke arah Luis yang sedang menjelaskan kerja dan proses sihir. Para unit penyihir mematung terus memperhatikan Luis tanpa ada yang berani mengoceh menggangu alur pelajaran.
Mereka akan benar benar di hukum jika Luis mendengar sebuah kata keluar dari mulut mereka.
"Itu adalah sebuah bola energi, memadatkanya dan membentuk model tiruan dari sebuah reaksi atau material, jadi itu benar benar memungkinkan kalian membuat sebuah serangan yang menyamai sebuah ledakan dari proyektil dari sebuah Altillery, itu adalah rapalan tingkat tinggi"
Ucap Luis sembari memberikan gambaran di papan tulis.
"Itu juga jika kalian mampu, semakin tinggi sihir yang kalian rapal maka semakin boros mana yang kalian miliki, jika kalian benar benar menghabiskan mana kalian maka efek sampingnya akan kalian rasakan" lanjut Luis sembari menatap ke arah Philia.
Philia hanya terkekeh, itu benar benar seperti dimasukan ke dalam mesin cuci dan diputar dengan kecepatan tinggi.
"Jadi kalian harus benar benar mengontrol mana kalian setidaknya sisakan beberapa digit sampai kalian turun ke permukaan dan meminum pil penetral mana" ucap Luis mengakhiri kelas.
Para penyihir mulai bertebaran untuk istirahat dan makan siang.
Mengambil nampan makanan yang telah di siapkan kantin yang terlihat sudah siap untuk di bagikan. Itu adalah semangkuk kentang yang sudah di kukus dengan beberapa potong daging yang di campur dengan sayuran.
Philia duduk di bangku pojok menikmati makananya tanpa ada seseorang yang berniat bermusuhan denganya. Orang orang tampak terlihat menjauhinya karena takut melihat kejadian kemarin. memasukan potongan kentang dengan beberapa daging ke dalam mulutnya yang kecil. Dia harus benar benar memotongnya kecil kecil untuk benar benar memakanya. Memakanya dengan perlahan dan menikmati hidangan yang terbilang mewah untuknya.
"Komandan apa kami boleh duduk di sebelahmu" Ucap Heiar dan Weish yang tengah berdiri sambil membawa nampan makanan.
Philia menganguk setuju, segera kedua orang itu duduk di sampingnya.
"apa kau tadi mengerti penjelasan Letnan Luis" ucap Weish sambil memakan makananya.
"yah kurang lebih aku mengerti, lagi pula kita sudah praktek langsung di lapangan saat misi di Florida, kita hanya tinggal menambah Volume sihir kita menjadi lebih besar" Ucap Heiar
"oh sesimpel itu kah"
"Itu kurang tepat" ucap Philia menyela pembicaraan.
Kedua lelaki itu segera memandang ke arahnya
"Itu tidak semudah hanya dengan menambah Volume sihir kalian, itu juga membutuhkan keterampilan kalian membuat replika dari sebuah proyektil yang akan dilesatkan, karena itu kalian harus benar memahami kerja dari sebuah peluru, memadatkan materialnya untuk membuatnya menjadi kuat, atau mengisi sihir peledak yang membuat jangkauan serangan menjadi lebih luas" lanjutnya
Kedua orang itu mulai mencerna omongan Philia perlahan sambil terus mengunyah makananya.
"apakah kau bisa mencontohkanya komandan" ucap Weish terlihat tidak paham dengan pembicaraan.
"tentu saja, habiskan makanan kalian dan mari pergi ke lapang, waktu istirahat masih panjang, lagi pula ada sesuatu yang ingin aku coba"
Mereka segera membereskan aktifitas mereka di kantin dan segera mengikuti Philia berjalan ke lapangan. Memasang alat sihir mereka dan mulai mengambil senapan serbu dari tempat penyimpanan.
"lihat baik baik"
Philia mulai memasukan sihirnya ke dalam senapanya, itu adalah Aurora berwarna hijau yang menyinari sekelilingnya. Philia melesatkan pelurunya namun itu melesat dengan sangat lambat dan berhenti di tengah jalan.
"apa kalian paham, aku meminimkan jumlah ledakan dan memadatkan materialnya membuat massanya menjadi lebih berat. itu mungkin lambat tapi memiliki kekerasan yang lumayan"
"jadi maksudmu kita bisa mengatur jumlah massa dan reaksi yang di lesatkan"
Philia mengangguk
"Tapi hati hati, itu membutuhkan kontrol sihir yang lumayan tergantung seberapa besar mana yang kalian masukan"
Keduanya menganguk paham dan segera mencobanya. Merapal sebuah mantra tingkat tinggi yang di arahkan menuju lapangan luas.
Boooooom
itu meledak dengan dashyat. Weish tampak berkeringat dia benar benar berusaha mengontrol alatnya yang tengah memanas sampai titik peringatan. Kedua pria itu melebarkan mulutnya dengan bahagia.
"Kalian berhasil, tapi kalian harus berlatih lagi terutama kau Weish, bisa dalam bahaya jika kau melakukan hal barusan dalam posisi di udara, alatmu bisa meledak karena ketidakstabilan alatmu itu"
Keduanya menganguk paham
"tadi apa kau berniat mencoba sesuatu komandan" Ucap Heiar penasaran
"ya, tapi aku tidak yakin"
"ayolah kami penasaran"
Philia menatap alat miliknya, memastikan apakah alatnya mampu bertahan dari sesuatu yang akan di rapalnya, terlibih lagi apakah tidak apa apa melakukanya di dalam kamp.
"Hei kalian berdua, apa ada pemukiman di belakang kamp ?" tanya Philia memastikan
"Tidak ada, itu hanya lapangan pasir luas yang membentang puluhan mil"
Philia tersenyum dia segera meminta Weish dan Heiar menyerahkan semua Serum mana miliknya dan menyuntikan semuanya sekaligus membuat suhu termometernya berada pada suhu normal.
"Komandan apa kau gila menyuntikan semuanya sekaligus"
"Benar sebenarnya apa yang akan kau buat"
"Sudah lihat saja" Ucap Philia dengan senyuman gilanya.
Dengan segera melesat ke udara dan mengarahkan senapanya jauh jauh. Dia tidak ingin dampaknya sampai pada kamp. Mencoba mengatur nafasnya perlahan dan menenangkan pikiranya. Apa ini akan benar benar bekerja, tapi ini benar benar sangat beresiko. Philia pikir dia sudah gila akan mencobanya tanpa persiapan apapun. Tapi rasa penasaranya terus menghantuinya, dia paham akan konsekuensi tidakanya dan akan meminimalisir kekuatanya.
"maaf telah membawa dosamu ke sini Oppenheimer"
Philia mulai memasukan semua sihirnya ke dalam senapanya. Mereplika setiap bagian atom yang dia padatkan sampai tidak ada ruang di dalamya. Senapanya benar benar menjadi sangat berat. Termometernya yang selalu dingin dengan signifikat mencapai titik peringatan. Aurora berwarna warni mulai menyelimutinya di ikuti gemuruh hebat di udara yang terdengar oleh semua penghuni kamp. Udara di sekitarnya terlihat memanas seakan sebuah uap keluar darinya.
"Sial ini tidak akan sempat"
Philia terus mencoba mengatur nafasnya dan menenangkan pikiranya namun Orb miliknya sudah sangat panas dan hendak meledak.
"Komandan apa yang sedang kau buat" ucap Heiar terlihat khawatir melihat sesuatu yang akan di lesatkan Philia. Suara rapalanya saja benar benar membuatnya merinding.
Philia melihat rapalanya akan gagal segera melempar orb miliknya jauh jauh dan itu meledak dan mengeluarkan asap hitam pekat. Sihirnya telah gagal dan Orbnya kini rusak kini dia terbang bebas ke tanah.
"Komandan!!" ucap Heiar segera terbang menangkap Philia dan mengendongnya seperti seorang putri.
"apa yang terjadi, apa kau gila kau bisa mati !" Teriak Heiar
Philia hanya tersenyum mendengar teriakan bawahanya. Dia cukup berani untuk berteriak kepadanya yang kini berada tepat di depan wajahnya. Philia tau dia akan benar benar di beri hukuman oleh Luis karena merusak alat negara. Menghiraukan Heiar yang terus mengoceh di hadapanya Philia malah tertidur di dadanya.
"Disini nyaman juga" ucap Philia mengalihkan pembicaraan.
KAMU SEDANG MEMBACA
NEMESIS The Demon from Empire
Fantasykehadiranya dalam medan perang menjadi sebuah Terror tersendiri bagi musuh musuhnya. Seorang Tentara ternama berenkarnasi menjadi seorang gadis berambut perak dengan dianugrahi sihir yang besar. Dengan pengalaman dan ilmu di kehidupanya yang lalu m...
