36

4.4K 548 161
                                        

Pihak kekaisaran telah kalah dalam serangan mereka ke Norway. Para petinggi militer kesal mereka sedikit lagi bisa menang kalau saja God Knight itu tidak datang mereka pasti bisa memenangkan pertempuran. Melihat para penyihir Grasia telah berhasil ditumpas dan membuka pertahanan mereka. God Knight dengan cepat datang dan memborbadir sektor kekuatan penting kekaisaran.

Sekarang Kekaisaran mengalami kerugian karena telah kehilangan banyak personielnya. Begitu juga sebaliknya pihak sekutupun sudah sangat lemah. Beberapa petinggi berencana untuk memulai serangan lagi kepada pihak musuh. Namun petinggi yang lain menolak itu, jika masih ada sosok God Knight di kubu mereka kekaisaran tidak akan pernah bisa menang. Apa lagi penyihir mereka sekarang tinggal sedikit.

Pihak kekaisaran hanya tinggal memiliki 18 penyihir yang masih selamat dan itu dalam keadaan terluka. Luis yang selamat dari pertempuran itu menyarankan untuk menunggu bantuan datang, melihat para bawahanya telah banyak yang gugur.

Para Tentara Kekaisaran yang terluka memenuhi tenda tenda medis untuk diobati dan Tentara yang masih sehat bekerja keras untuk mengumpulkan mayat dari rekan mereka. Memasukanya ke dalam peti dan menguburkanya dengan terhormat sebagai pahlawan negara.

Luis yang sudah beres menghadiri rapat segera mengunjungi tenda medis untuk melihat kondisi bawahanya yang masih selamat. Matanya menatap sendu kepada mereka yang tergeletak dalam ranjang pasien. Kenapa menjadi seperti ini, Luis tidak pernah mengharapkan kematian untuk anak anak didiknya.

Berjalan menghampiri mereka. Para penyihir yang tersisa mulai bangkit dan memberikan hormat.

"Sudah tidur saja" ucap luis mengerti kondisi mereka sembari memberikan isyarat tangan.

Perhatianya kini tertuju pada gadis perak yang diam tidak memberikan hormat kepadanya. Dia terduduk di ranjangnya sambil memeluk lututnya dengan lemas. Kepalanya menempel pada lututnya memperlihatkan Mata biru yang menatap kosong sekitarnya sembari memasang ekspresi bersalah.

"Bagaimana kondisimu" tanya luis membuat Philia meliriknya lesu

"Hanya luka ringan" ucap Philia dingin

"Baguslah, jasad regu 3 semuanya telah ditemukan dan sudah dimakamkan"

Philia semakin merasa bersalah karena kelemahanya mereka semua tewas. Andai saja dia lebih teliti lagi dalam membuat rencana bisa dipastikan mereka bisa hidup. Mereka telah berlatih bersama dan kini Regu 3 hanya menyisakan Heiar dan Weish yang terbaring penuh luka.

Ditambah pihak Kekaisaran mengalami kekalahanya, membuat Philia merasa pengorbanan regunya berakhir sia sia.

"Ini semua salahku, kalau saja aku dapat menahanya lebih lama" ucap Philia yang makin mempererat pelukanya seakan membenci dirinya sendiri.

"Kau sudah berusaha sebaik mungkin, tidak mudah untuk mengalahkan seorang God Knight, Menahanya selama itu merupakan sebuah prestasi, lagi pula tidak ada yang bisa kita lakukan untuk melawan seseorang yang kebal atas serangan"

"tapi mereka bergerak atas rencana yang datang dariku, jadi semua ini salahku"

"itu tidak benar, yang kau lakukan hanya memberikan saran, perintah dan keputusan ini murni dari para petinggi" ucap Luis berusaha menenangkan.

"Itu benar, bahkan kami semua regu tiga bergerak atas dasar keinginan kami untuk mengikutimu" ucap Heiar yang berusaha bangkit dan turun dari ranjangnya Setelah kaki kanannya mengalami cedera dan tidak bisa digerakan untuk sementara.

"Itu benar komandan" ucap Weish yang menyimak obrolan mereka

Namun semua itu tidak membantu Philia menenangkan hatinya. Perubahan tubuhnya telah membawa emosinya jauh ke dalam perasaanya. Mengingat kembali kenangan singkat bersama regunya yang terbilang berharga. Ini adalah sesuatu yang ditakutinya melebihi apapun, tawa mereka terngiang ngiang di dalam memorinya yang terus berputar masuk ke dalam perasaanya. Wajah tembem Gustaf tidak akan bisa lagi dia melihatnya.

"Kalo begitu aku pergi dulu, semoga lekas sembuh" ucap Luis segera meninggalkan tenda

Philia tidak bisa menerima ini, Pria berambut putih itu harus dia singkirkan. Jika tidak Kekaisaran tidak akan pernah bisa menemui kemenangan dan Pengorbanan regunya akan sia sia. Dengan penuh tekad Philia turun dari ranjangnya berjalan cepat ke arah ruangan para petinggi.

"Tolong beri izin" ucap Philia memohon kepada orang orang disana untuk mengizinkanya melakukan sebuah serangan kepada musuh.

"Apa kau gila, kita baru saja kalah"

"Apa kau mau mati, disana masih ada God Knight"

"Aku tau, biarkan aku menebus kesalahanku" ucap Philia tegas matanya menatap dengan penuh keseriusan. Beruntung Luis tidak ada disana jika tidak dia akan benar benar memarahinya.

Seorang Jendral yang sedari duduk di bangkunya memandang Philia heran. Dia sudah tau kemampuan Philia dan tidak mungkin baginya untuk bergerak tanpa rencana. Sang Jendral menjadi penasaran kenapa Philia benar benar berani mengambil keputusan itu, apa lagi dia berencana terbang ke arah musuh seorang diri yang jelas itu adalah misi bunuh diri. Mata birunya memancarkan keseriusan dan tekad yang bulat mengingatkan kembali Sang Jendral dengan sosok Kaisar sebelum dia sakit keras.

"Aku mengizinkanya" ucapnya membuat suasana disana pecah

"apa maksud anda Jendral?"

"Tidak ada salahnya memberi serangan kejutan untuk musuh, lagi pula" ucap Jendral berjalan ke arah Philia yang sedang berdiri tegap.

"Kau tau resikonya bukan!"

"Aku tau dan siap menerimanya"

"baiklah kalau begitu, Jalankan rencanamu"

Philia mulai berjalan keluar ruangan, Bergerak mempersiapkan alat alatnya. Memakaikanya dan menyuntikan mananya secara berlebihan dan segera melesat ke langit. Luis yang menyaksikan sesuatu terbang segera mempertanyakan itu dan pergi mencari tau.

***

Leandro meratapi semua Kesatrianya sekaligus sahabatnya yang sudah terkubur di dalam tanah. Mereka telah berjuang untuk negaranya dan menjadi seorang pahlawan. Kini pihak Grasia telah berhasil menghalau kekaisaran dan memenangkan pertempuran walau korban telah banyak berjatuhan.

Leandro menyalahkan dirinya, jika saja dia dapat menghabisi penyihir yang menghalaunya lebih cepat. Mungkin korban bisa di minimalisir dan sahabatnya tidak akan mati. Tapi semuanya telah berlalu dan dia harus menerima takdir yang berjalan.

Berjalan ke sumber air untuk membersihkan tubuhnya dari bekas darah yang memenuhi setiap kulitnya. Menguyurnya menyapu bau amis dan noda merah yang sudah mulai mengering. Leandro sedikit tercengang melihat dadanya terluka dan merasakan perih disana.

"Apa karena serangan terakhir itu?" itu adalah luka yang didapatnya akibat serangan terakhir Philia yang meledak tepat di dadanya.

Mengingat lagi sosok gadis perak itu Leandro menjadi penasaran tentangnya. Rambut Perak panjangnya mengingatkan dia kepada sosok wanita dari utara. Namun itu hanya masa lalu yang sudah dia tidak pedulikan.

Membasuh wajah tampanya dan menyusutnya menggunakan lap kering.

"Serangan musuh!!" Teriak prajurit mengagetkan orang orang disana dan segera mempersiapkan diri dengan senjata mereka.

Leandro mendengar itu segera berlari tergesa gesa. Dia tidak menyangka Kekaisaran masih berani untuk melakukan sebuah serangan. Mendekati Prajurit yang berteriak Leandro segera meminjam teleskopnya dan melihat Seorang penyihir terbang ke arah mereka. Leandro mengenal penyihir itu dia adalah seseorang yang dilawanya tadi pagi dan kini dia terbang dengan senjata lengkap pada waktu senja. Rambut peraknya berkibar dan terlihat jelas dari puluhan kilometer menggunakan teleskop jarak jauh.

"Hanya seorang" ucap Leandro pelan

"Semuanya tenang dia hanya seorang" Teriak Leandro menenangkan para tentara

Dia segera memasang sihirnya dan segera melesat ke udara guna menghadang musuhnya.

NEMESIS The Demon from EmpireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang