Bahkan di kehidupan yang lalu dia tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya. Keduanya telah mati akibat perang dan kini hal itu terulang kembali yang membuatnya sedikit mengeluh dengan takdirnya.
Ingin rasanya dia merasakan hidup damai di kelilingi orang orang tercintanya. Namun dia paham itu hanyalah angan angan. Berharap semua itu akan terjadi kepadanya di situasi perang ini adalah sebuah kesia-siaan.
Terus merenung sembari menyaksikan pemandangan luar yang terus berubah. Mereka telah memasuki kawasan ibu kota kekaisaran yang terlihat ramai oleh warga yang sedang beraktifitas. Mata birunya menatap setiap bangunan yang berjejer rapih serta lalu lintas ibu kota yang lumayan padat.
Memasuki area halaman istana kekaisaran yang luas di penuhi bunga bunga yang dirawat dengan rapih.
"Kita sudah sampai"
Philia segera turun dari mobil dan di suguhkan pemandangan istana megah berwarna putih.
Kaki mungilnya Berjalan pelan ke arah gerbang sembari melirik kanan dan kiri. Para tentara terlihat menjaga tempat itu dengan ketat.
2 orang penjaga bersenjata lengkap menghampirinya dengan wajah garang.
"Ada keperluan apa anda memasuki area kekaisaran?"
Philia mengeluarkan surat undangan yang memiliki ciri khas segel kekaisaran.
Penjaga itu memeriksanya dengan seksama. Paham akan isinya mereka berdua memperbolehkanya masuk. Seorang tentara wanita tanpa basa basi segera mengeledah tubuhnya.
"Aman"
Philia segera di antar menuju ruang tunggu untuk tamu, itu adalah ruangan mewah yang cukup luas. Suasana disana cukup nyaman untuk melakukan sebuah diskusi. Walaupun ruangan itu bukan di peruntukan bagi tamu khusus, Philia merasa bahwa dirinya di perlakukan secara berlebihan.
Beberapa cemilan tersedia disana yang segera dia cicipi tanpa permisi.
"Wow, ini enak"
Pertama kalinya dia menikmati sebuah hidangan mewah ini. Berbanding terbalik dengan Keberadaanya di garis depan yang hanya di fasilitasi seadanya. Bibirnya kini penuh dengan kue kue yang manis serta minuman dingin yang beraneka rasa.
Kakinya terus mengetuk ngetuk lantai, tanganya telah menahan berat kepalanya yang mulai mengantuk. Philia telah menunggu lama disana dan tidak ada siapapun yang masuk setelah dia. Merasa bosan untuk menunggu Philia mulai berdiri dari duduknya di sofa. Berjalan jalan melihat lihat isi ruangan yang tampak mewah.
"apa mereka mengerjaiku?, tidak ada siapapun disini atau mungkin mereka lupa?"
ucap Philia sembari melepas sepatu hak tingginya. Menurutnya lantai di sana cukup bersih untuk menggunakan sepatu. apalagi dia sudah mulai pegal memakainya, itu adalah pertama kalinya dia berjalan mengunakanya. Philia merasa lebih baik berjalan di lautan lumpur dari pada harus memakainya selama berjam jam.
Seorang pelayan tiba tiba masuk di ikuti seorang keluarga kekaisaran. kedatanganya yang tiba tiba mengharuskan Philia untuk memakai kembali sepatunya dengan panik. Itu adalah Pangeran Frederick yang berumur 30 tahun memakai sebuah jas mewah berwarna hitam. Wajahnya terlihat sedikit suram dengan rambut panjang yang di ikat rapih.
"Maaf telah menunggu lama" ucapnya dan segera duduk di bangkunya. matanya menatap heran kepada gadis di depanya yang sedang berdiri memakaikan sepatunya dengan tergesa gesa.
"apa yang sedang kau lakukan?" lanjutnya dengan heran
Philia hanya tersenyum memperlihatkan gigi putihnya
"Ini adalah....pengecekan peralatan" ucapnya dan segera duduk.
teh mulai di tuangkan untuk mereka berdua namun Philia berharap itu kopi. Frederick segera meneguknya dengan elegan matanya terus menatap gadis di depanya yang dua tahun lebih tua dari putranya.
"aku telah mendengar tentangmu, benar benar tidak menyangka seseorang yang punya kapasitas sihir melebihi standar yang aku buat berasal dari seorang gadis, serta aku telah mendengar pertempuran di Florida" ucap Frederick menatap Philia dengan serius
"Itu benar benar menyeramkan, tidak ku sangka kau akan melakukan semua itu, mungkin pihak militer menggangapnya sebagai sebuah prestasi dan akan memberikan sebuah promosi untukmu, namun sayangnya itu hanya bisa di lakukan setelah kau menjalani pendidikan di akademi militer tinggi" lanjutnya
"aku benar benar tersanjung"
"aku tidak sedang memujimu, yang kau lakukan hanyalah menghambat kekaisaran untuk melakukan gencatan senjata, pihak musuh pasti tidak akan pernah memaafkan ini"
Philia paham akan hal itu, yang dia lakukan hanyalah memperpanas api dendam yang telah berkobar selama bertahun tahun tetapi dia memiliki alasan kuat untuk itu dan bukan melakukanya untuk kesanangan belaka.
"namun aku tidak marah akan hal itu, sesuatu seperti ini sering terjadi di peperangan, membunuh atau terbunuh adalah peraturan dalam perang, mereka yang memutuskan untuk terjerumus kedalamnya harus siap dengan semua konsekuensinya, teman, sahabat, keluarga,anak atau istri harus dengan lapang dada menerima sebuah kematian, membawa masalah pribadi kesana adalah sebuah lelucon"
"aku setuju dengan itu"
Frederick tersenyum sambil meneguk tehnya
"jadi apa kau tau kenapa kau di undang?"
Philia mengelengkan kepalanya
"mungkin hanya dugaan tapi sepertinya ini berkaitan dengan sihir"
"yah kau benar, Rencananya setelah ini kami akan membuat sebuah pelatihan khusus untukmu serta menciptakan sebuah alat yang akan cocok dengan kemampuanmu "
"apakah ini adalah perintah atau permintaan?" ucap Philia memastikan, karena dia merasa berat hati melakukanya, melakukan semua itu melelahkan dia hanya ingin duduk damai tapi di lain sisi dia tertarik dengan alat yang akan di buat khusus untuknya.
"Saat ini situasi di Front barat semakin genting, keberadaan sosok misterius di kubu sekutu semakin membuat pertahanan disana terdesak, Seorang penyihir yang kebal dengan semua serangan serta memiliki kekuatan magis yang besar membuat moral pasukan turun, aku tidak tahu pastinya tetapi militer kekaisaran saat ini mengajukan kepada divisi penyihir lebih tepatnya sebuah unit yang aku buat untuk segera mungkin menyiapkan penangkal untuk itu, aku sedikit putus asa tetapi keberadaan laporan tentangmu memberiku sedikit pencerahan"
"Aku paham tetapi seseorang yang mampu menahan semua serangan adalah sebuah hal yang gila, apa pangeran pikir diriku mampu menghadapinya?"
"untuk itu kami akan benar benar menyiapkanmu untuk itu, aku tidak tahu pasti berapa waktu yang kita butuhkan tapi yang pasti ini harus selesai secepat mungkin sebelum Front barat benar benar di tarik mundur,"
"kurasa kita punya lebih banyak waktu untuk itu, walaupun individu itu kuat tetapi melawan semua kekuatan kekaisaran dan wilayah yang luas adalah sebuah kegilaan"
"yah kau benar, tapi jangan lupakan pasukan besar di belakangnya yang terus bergerak maju"
Philia mengela nafas, dia pikir ini adalah suatu kesampatan baik, tetapi justru sebaliknya dia malah di lemparkan menuju kandang singa.
"mau tidak mau kau harus mengikutinya, sudah tidak ada pilihan lain, "
Philia menganguk dengan wajah enggan
"jadi kapan kita akan memulainya?"
"Satu minggu dari sekarang setelah kami membentuk tim khusus untukmu"
"Aku benar benar menantikanya, tapi jika berkenan itu di laksanakan mulai besok"
Ucap Philia berharap dapat terbebas dari hukuman bersih bersihnya yang membuatnya malas, apalagi membersihkan toilet pria.
"aku tau rencanamu, kau pikir Luis tidak memberikan laporan rinci tentangmu yang membuat masalah disana"
Philia mulai terkekeh, dia lupa bahwa Pangeran Frederick adalah ketua dari divisi penyihir
KAMU SEDANG MEMBACA
NEMESIS The Demon from Empire
Fantasykehadiranya dalam medan perang menjadi sebuah Terror tersendiri bagi musuh musuhnya. Seorang Tentara ternama berenkarnasi menjadi seorang gadis berambut perak dengan dianugrahi sihir yang besar. Dengan pengalaman dan ilmu di kehidupanya yang lalu m...
