20

6.5K 668 17
                                        

Kesadaranya mulai kembali kepadanya setelah berjam jam terlelap karena efek samping dari kehabisan mana. Memperlihatkan sepasang mata biru yang jernih seperti genangan air yang memantulkan keindahan. Menatap ke arah sekitarnya yang penuh dengan para prajurit kekaisaran yang sedang tertidur dengan penuh balutan perban.

Itu adalah Tenda darurat milik Unit Medis yang menampung para Prajurit yang terluka. Philia terduduk diam di atas ranjangnya menatap kedua tanganya yang sudah terbalut perban. Mencoba kembali mengingat pertempuran yang hampir merenggut nyawanya.

"Aku masih hidup" Ucapnya lemah yang keluar dari bibir imutnya.

Rambut peraknya yang biasanya di ikat rapih kini berantakan dan mulai jatuh terurai ke tanganya. Itu adalah rambut perak yang indah dengan sedikit ikal di ujungnya. Dia bertanya tanya tentang apa yang terjadi kepadanya setelah terjun dengan bebas.

Bagaimana kondisi Heiar, Weish dan regunya. Apakah mereka masih selamat melewati pertempuran itu. Matanya terlihat sayu memikirkan hal buruk yang menimpa regunya. Mereka semua mungkin menyebalkan tetapi mereka tetaplah rekanya.

Dua orang pria memasuki tenda sambil membawa gelas minuman. Philia segera menatap mereka, itu adalah Heiar dan Gustaf yang berniat melihat kondisi komandan mereka.

"Komandan apa kau sudah sadar " ucap Heiar terkejut

Philia hanya tersenyum ramah. Kedua orang itu segera mendekatinya sambil terus menerus memandangi gadis di depanya yang sedang terduduk lemas di atas ranjang dengan rambut panjang yang tampak lembut dan terurai bebas.

"apa yang kau lihat" Ucap Philia bingung

"Tidak biasanya Komandan membiarkan rambutmu tidak terikat" Ucap Heiar

"ya kau benar benar tempak seperti perempuan" lanjut Gustaf

"apa yang kau katakan, aku memang perempuan" Ucap Philia heran

"Tapi kelakuanmu tidak menunjukan itu" ucap Gustaf dengan nada mengejek, Heiar yang berada di sampingnya segera menendang kakinya khawatir mereka berdua akan di banting oleh sosok di depanya.

Philia benar benar merasa lega melihat orang orang yang dia khawatirkan masih dalam keadaan sehat. Namun Philia tau bahwa keduanya masihlah merasa Syok telah melewati perang mengerikan ini. Mau tidak mau mereka harus menerimanya, dalam perang membunuh atau terbunuh adalah hal yang biasa. Jika ingin bertahan mereka harus mengesampingkan perasaan dan kemanusiaan.

Philia telah memahami dan melalui itu semua, membuatnya akan menjadi sangat kejam jika berhadapan dengan musuh musuhnya.

"Apa kau mau Komandan" ucap Heiar sambil mengasongkan segelas kopi yang masih utuh dan panas.

Philia menatap gelas itu dengan girang, itu adalah minuman kesukaanya aroma kopinya langsung masuk ke dalam hidungnya dan membuatnya ingin segera mencicipinya. Namun Philia tersadar bahwa dia belum memakan apapun dan meminum kopi akan berakibat buruk bagi lambungnya.

"Tidak terima kasih" ucap Philia menolak tawaran itu dengan wajah kecewa.

"ngomong ngomong bagaimana kondisimu?" Tanya Heiar dengan khawatir

"aku baik baik saja, hanya sedikit pusing karena efek dari kehabisan mana" jawab Philia sembari memegangi kepalanya.

"kau benar benar menguras habis manamu komandan, pantas saja kondisimu seperti ini"

"mau bagaimana lagi nyawaku di pertaruhkan"

Heiar menundukan pandanganya dia merasa bersalah akan hal itu. Dia merasa gagal dalam memancing musuh dan efek dari itu hampir membunuh komandanya.

NEMESIS The Demon from EmpireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang