Berjalan di atas peta dunia raksasa yang memenuhi lantai ruangan. sambil menggerakan bidak bidak catur yang berdiri di atasnya. Nafasnya terus merasa sesak disertai rasa perih di dalam organ dalamnya. Menggerakan badanya dengan kaku sambil terus menahan rasa sakit yang luar biasa. Terutama di bagian kepalanya yang dia tutupi dengan sebuah topeng perak.
Usianya baru menginjak 25 tahun namun dirinya harus menderita kanker tulang yang tumbuh di kapala dan tulang belakangnya dengan ganas. Sesuatu yang terus tumbuh menusuk dirinya dari dalam seperti sebuah jarum yang tajam. Walaupun tidak bisa sekuat dulu saat dirinya sehat dan memimpin dengan bijak namun dirinya masih terus berusaha berjuang untuk negaranya dan orang orang yang hidup di dalamya.
Memberikan perintah dari dalam ruang pribadinya tanpa bisa melihat langsung lapangan atau dunia luar. Perawatan tenaga medis terbaik telah dikerahkan untuk mengobatinya namun itu hanya mampu untuk menghambat pertumbuhan tulangnya untuk sementara waktu.
tok tok tok
Kaisar perlahan melirik ke arah pintu yang di ketuk pelan. Meminimalisir gerakan tubuhnya untuk mengurangi efek rasa sakit dari tulang yang menusuk nusuk dagingnya.
"Masuk" ucapnya dengan parau dan lemah.
Para tenaga medis yang merada di dalam ruangan membukakan pintu memberikan jalan untuk seseorang yang hendak bertemu sang kaisar.
"Hormat yang mulia" ucapnya lembut sembari memberikan penghormatan
Dia adalah Panglima agung dari militer kekaisaran yang berjalan pelan dengan wajah gembira namun seketika menjadi prihatin melihat sosok yang dia layani dalam kondisi yang sangat memilukan.
"Duduklah Jendral Flousi" ucap sang kaisar dengan sopan sembari mengisyaratkan mengunakan tangan lemasnya mengarahkanya pada sebuah meja di pojok ruangan.
"Terima kasih"
Flousi segera duduk pada bangku yang telah di tunjukan. Dengan Simpati menatap ke arah kaisarnya yang mencoba duduk dengan hati hati. Walaupun dia menutupi wajahnya dengan topeng namun Flousi tau bahwa pria yang 15 tahun lebih muda darinya itu terus menahan rasa sakitnya. Dia bisa saja berdiam diri di tempat tidurnya tetapi Sang kaisar merasa itu tidak sopan untuk berhadapan dengan seorang tamu yang mengunjunginya.
Dia menghargai setiap orang yang berada di bawah kekuasaanya dan berkeinginan kuat untuk melindungi mereka semua dengan sisa sisa kehidupanya.
Keduanya saling berhadapan dan menatap serius.
"apa yang membawamu kemari jendral" ucap kaisar sembari meminum air bening menggunakan sedotan panjang.
"God Knight telah berhasil di lenyapkan" ujar Flousi memasang wajah bahagia karena dengan ini kekaisaran akan dapat dengan mudah membuat perjanjian dengan pihak Grasia.
Sang kaisar menghentikan minumnya dengan terkejut, Dari balik topengnya dia merasa Berduka sekaligus senang mendengar kabar itu. Namun wajahnya sudah tidak mampu untuk memasang ekspresi apapun karena tulang yang sudah tumbuh menembus kulit wajahnya seakan menolak untuk bergerak. Mencoba mengingat kembali Pria bernama Leandro yang dikenalnya saat dia remaja. Pria berambut putih dengan rasa nasionalisme yang tinggi, dia benar benar mengagumi kekuatanya, berfikir bahwa pria itu akan mati mendahuluinya melihat dirinya memiliki penyakit yang bisa saja membunuhnya kapan saja. Membuatnya merasa bersyukur dengan sebuah kehidupan yang masih diberikan kepadanya.
"Itu kabar yang luar biasa"
"Yah, dan kekuatan Grasia di kota Norland telah ditarik mundur ke ibu kota mereka, pasukan kita akan dengan siap menggempur kota itu dari dua arah jika mereka benar benar menolak perjanjian dan keluar dari kubu sekutu"
"Itu bagus, segera kirim utusan kesana"
"Baik"
"Lagi pula mereka tidak akan diam mendengar ini, apa lagi dengan kabar kematian God Knight"
"Maksud anda, negara negara di benua Genoa?"
"Yah, aku sudah mengenal watak para pemimpin mereka, mereka adalah kumpulan orang orang pengecut yang selalu menggunakan kekuatan media dalam berperang"
"Baru baru ini Libya telah memberikan pasukan mereka untuk membantu Grasia di Front Norway"
Kaisar melirik ke arah bidak catur yang berdiri di atas peta dan berada tepat di medan Norway.
"Mereka tidak mungkin mengirimkan pasukan mereka secara langsung, itu bukanlah tentara mereka melainkan para partisipan yang dipersenjatai, kemampuan mereka jauh di bawah rata rata dan hanya mengandalkan keberanian saja"
"Mereka adalah negara yang menggunakan keunggulan ekonominya untuk membeli sejumlah tentara terlatih" lanjutnya
Flousi mulai mengikuti lirikan tuanya, menatap ke arah peta besar dengan sejumlah rencana yang telah disiapkan.
"Anda terlalu bekerja keras yang mulia, biarkan kami para jendralmu yang mengatur ini, kesehatan anda jauh lebih penting"
Kaisar menatap Fluosi dengan tatapan serius.
"Biarkan aku berjuang untuk terakhir kalinya walaupun baru baru ini kekaisaran mengalami sejumlah kekalahan"
Itu semua karena penyakit tuanya, jika saja Sang kaisar sehat pasti dia akan memimpin kekaisaran munuju kemenangan. Kekaisaran telah bertahan dari berbagai rintangan yang melanda dan berhasil memenangkan peperangan di tengah tengah gempuran sekutu, itu karena mereka dipimpin langsung olehnya. Sampai dimana dia tidak mampu lagi untuk keluar ruangan yang mengharuskanya merawat tubuhnya dari penyakit.
"Sebentar lagi Frederick akan naik tahta" ucap kaisar mengingat kakanya yang selama ini menolak untuk menjadi kaisar dan hanya berfokus kepada sihir yang menjadi keahlianya. Apalagi sang kaisar yang selalu membujang karena sibuk dengan penyakitnya.
"Ku harap kalian melayaninya seperti kalian melayaniku"
"itu tidak benar yang mulia, masih banyak cara untuk mengobati penyakitmu"
Kaisar menunjuk ke arah kepalanya
"Di sini, sebuah tulang telah tumbuh kedalam dan dalam dua tahun akan benar benar menusuk otaku, aku tidak punya pilihan selain mempersiapkan rencana untuk kedepanya agar memudahkan kakaku dalam memerintah"
"Tolong jangan berputus asa dan mengatakan kematian anda adalah hal yang pasti" ucap Flousi pilu
Pria bertopeng itu menggerakan kepalanya menatap langit langit ruangan yang berwarna biru.
"Sejak umurku 10 tahun aku menyaksikan kematian ayahku dan orang orang mengangkatku sebagai penguasa baru kekaisaran, aku menyaksikan semua penderitaan dan harapan mereka dan memutuskan untuk membuat Idealismeku sendiri terhadap dunia, Aku telah membuat rencana hidupku dan kekaisaran yang aku pimpin, menganggap bahwa tubuh ini akan sampai pada usia 80, Namun Kenyataanya berbeda dari keinginanku bahkan ini tidak akan bertahan sampai usia 30"
"Kau tidak akan tau seberapa lama kau hidup, dihadapan tuhan kau hanya bisa memasrahkan takdir yang tidak bisa kau ubah, Jiwamu sewaktu waktu akan keluar dan kembali ke asalnya namun Karyamu dan hasil perjuanganmu akan terus dikenang selama warga kekaisaran memiliki Ideologi yang melekat di dalam hati dan pikiran mereka"
"Bahkan ditengah penyakit yang membuatku harus merasakan rasa perih ini aku masih terus berharap agar memiliki umur yang panjang agar dapat terus berjuang membela rakyatku, ingat itu"
Flouis terdiam matanya tampak berkaca kaca, Pria dihadapanya mungkin masih muda namun jiwanya seakan telah melakukan perjalanan yang panjang.
Merasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan Flousi berniat meninggalkan ruangan. Di hadapan pintu yang sudah terbuka dia mendengar Kaisar memanggilnya pelan. segera dia melihat kepadanya.
"Bawa orang yang telah membunuh God Knight itu kepadaku"
Flouis mengagguk dan pergi meninggalkan ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
NEMESIS The Demon from Empire
Fantasikehadiranya dalam medan perang menjadi sebuah Terror tersendiri bagi musuh musuhnya. Seorang Tentara ternama berenkarnasi menjadi seorang gadis berambut perak dengan dianugrahi sihir yang besar. Dengan pengalaman dan ilmu di kehidupanya yang lalu m...
