17

6.3K 675 18
                                        

"No 3F kepada semua unit mulai bidik target, ulangi No 3F kepada semua unit mulai bidik target"

Suara tegasnya dari balik microfon yang di dengar oleh semua Tentara Kekaisaran yang bersembunyi. Mereka menyambut itu dengan penuh kepatuhan, wajah mereka tampak berseri seri  menahan hasrat yang selama ini di pendam. Tekad mereka sudah bulat dan pikiran yang hanya di isi untuk membunuh.  Tidak menyiayiakan kesempatan yang di berikan mereka perlahan mulai keluar dari persembunyian dengan hati hati.

Menggigit bibir mereka sambil menatap ke arah pasukan Saxony yang sedang menari dalam keadaan mabuk. menelan ludah mereka dengan kaku melihat musuh berada tepat di depan mereka. 

pasukan Infanty Kekaisaran yang di tempatkan di gorong gorong perlahan mulai memperlihatkan pergerakanya . kepala mereka mulai keluar dari celah gorong gorong yang di tutupi sebuah papan kayu dan jerami. mengeluarkan senjata mereka dan membidikanya ke arah ribuan orang yang sedang berpesta. wajah mereka telah penuh dilumuri oleh lumpur dan hanya menyisakan sepasang mata. Kondisi langit yang gelap semakin membantu pasukan Kekaisaran dalam menyamarkan posisi mereka. Peluru peluru runcing telah di kokang masuk ke dalam setiap pucuk senjata yang siap menembus musuh mereka dengan brutal.

"Ayo cepat dorong perlahan" 

Unit Altilery mulai keluar dari balik semak semak. didorong maju untuk berada pada posisi terbaik mereka. Mengarahkan laras besar mereka untuk mengarahkan menuju titik koordinat yang sudah di tentukan.

"ISI"

Dengan cepat mengisi peluru mereka yang memiliki hulu ledak tinggi. Siap menghantam kumpulang daging dengan berton ton bahan peledak dalam sekali serang.

Philia berdiri tegak di ujung tebing sambil terus memastikan target dari jarak 10 km menggunakan teleskop jarak jauh. Matanya terus mencari posisi pasti dari pimpinan mereka di dalam kerumunan massa yang terus meminum anggur.

Dia tau salah satu kunci kemenangan adalah terbunuhnya pemimpin mereka. Untuk membuat pihak Saxony menyerah dengan cepat dan menawan mereka.

Philia mengerutkan alisnya, giginya terus menggigit bibirnya. Dia tidak menemukan keberadaan mereka, sulit membedakanya dari kumpulan semut.

"Dimana mereka"

"Komandan, semua unit telah siap menembak" ucap Heiar mendekatinya.

Philia menurunkan teleskopnya. Dia tidak bisa menyia nyiakan waktu lagi. Mengepalkan tanganya. Bibirnya mulai tertawa dengan mata iblisnya.

"Kita bantai saja semua" ucapnya dengan gila karena kesal.

Mendekatkan microfonya menuju bibir merah jambunya yang imut.

"Semua unit TEMBAK"

Suara tembakan keras dari unit altileri serentak membuat udara di bukit menjadi bergemuruh melemparkan proyektil besar mereka menuju kumpulan manusia yang sedang berkumpul. Di ikuti rentetan puluru dari unit infantry dari gorong gorong. Melepaskan peluru mereka seperti mesin jahit yang sedang menjahit kain.

Suara ledakan dasyat terdengar dari pusat kamp di ikuti teriakan histeris dari manusia. Menghamburkan tanah disana bersama bongkahan daging yang menyebar dari pusat ledakan.

Asap hitam pekat kemerah merahan mengepul ke udara di ikuti aroma daging panggang yang dapat tercium sampai puluhan meter. Menciptakan hujan darah untuk sesaat yang Mewarnai daerah sekitar dengan warna merah pekat.

Seakan buta dengan keadaan, para tentara Kekaisaran yang telah tersulut dendam terus menerus menghujani pihak Saxony dengan muntahan peluru. mereka terus mengisi ulang senjata mereka dan melepasnya lagi dengan cepat.

NEMESIS The Demon from EmpireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang