28

4.9K 495 78
                                        

Berjalan sambil berpegangan tangan dengan hangat. Mereka menuju taman Istana yang di penuhi oleh bunga bunga yang beraneka macam. Taman yang cukup luas untuk di tempati berdua. Memisahkan diri dari keramaian dan mencari tempat sepi untuk menghabiskan waktu bersama.

Iris mulai melepaskan genggamanya menatap ke arah danau yang tenang sambil berdiri menatap langit. Menarik nafas panjangnya merasakan kebahagiaan yang sekarang memenuhi hatinya.

"Kau tahu betapa rindunya diriku" ucap Iris membelakangi Leandro menyimpan senyuman di baliknya.

"Walaupun aku tahu ini sementara, dan kau akan pergi lagi menuju medan perang sampai Kita memenangkan perang" Lanjutnya sembari berbalik menatap Leandro dengan tatapan sendu.

"Ku mohon untuk tetaplah hidup, walau aku tahu seberapa kuat dirimu" lanjutnya

Leandro mulai mendekat ke arah Iris membelai rambutnya dengan lembut. Menatap langsung ke arah Kedua matanya dengan tatapan meyakinkan.

"Tentu saja, Aku juga memohon kepadamu untuk menungguku membawa pencapaian disana agar kelak dapat di beri kesempatan untuk meminang dirimu"

Leandro tau Statusnya sekarang belum cukup untuk berhak bersama dengan seorang putri kerajaan. Untuk itu dia berusaha mati matian memberikan yang terbaik di garis depan agar kelak dirinya dapat di anugrahkan gelar kehormatan sebagai syarat pernikahan.

"Benar aku sudah menyiapkan ini dan membelinya tadi di jalan" Leandro mengeluarkan sepasang cincin perak dan segera memakaikanya ke jari manis mereka berdua.

"Agar engkau selalu ingat terhadap diriku" Lanjutnya

Iris mengangkat tanganya menatap lekat cincin yang indah terpasang di jari manisnya. Walaupun itu hanya cincin murah untuknya tetapi dia benar benar menggangapnya sebagai hadiah paling istimewa.

"Aku menyukainya" ucap Iris tersenyum lembut memperlihatkan lesung pipinya.

"aku benar benar tersanjung"

"disini cukup sepi, apa kau mau mencoba kemampuanmu itu tuan kesatria" ucap Iris tersenyum nakal sambil mengambil sepasang tongkat kayu dan melemparkanya ke arah Leandro.

Memegang sebuah tongat kayu yang menyerupai pedang membuat Leandro terkekeh. Wanita di depanya benar benar tidak pernah melupakan hobinya.

"Kita lihat apa kemampuanmu masih sama seperti dulu" Ucap Leandro memasang kuda kuda.

"hoho..kita lihat saja, jika kau kalah kau harus menerima permintaanku" Ucap Iris mengangat pedangnya replikanya dengan terampil.

Keduanya segera menerjang melayangkan tebasan mereka dengan penuh keterampilan yang mereka asah. Walaupun Iris adalah wanita yang jumlah kekuatanya tidak sebanyak Leandro namun tekniknya terbilang sempurna yang bahkan mempu membalikan serangan dengan penuh gerakan indah seperti sebuah tarian.

"Lihat kau benar benar kewalahan tuan" ucap Iris dengan sombong namun hanya di balas senyum licik oleh Leandro.

"Bagaimana dengan yang ini" Leandro melancarkan sebuah serangan kejutan sebagai teknik rahasianya yang selama ini di latihnya di garis depan. Membuat Pedang Replika Iris terpental jauh dan dia mulai segera terjatuh.

Haaaaaap

Leandro segera mendekapnya untuk tidak menyentuh tanah. Iris masihlah merasa terkejut dengan teknik barusan yang menurutnya sangat berbahaya jika Leandro serius menggunakanya untuk menebas musuhnya.

Dalam posisi itu kedua mata mereka saling bertemu. jarak keduanya membuat nafas mereka saling bertabrakan. Keduanya lupa bahwa mereka sedang melangsungkan pertarungan dan malah terhipnotis oleh nafsu yang menggoda keduanya. Iris memejamkan matanya pasrah melihat Leandro mulai mendekatkan bibirnya.

NEMESIS The Demon from EmpireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang