Surat Kepada Masa Lalumu 2

33 6 0
                                        

Pertemuan kami tidak terduga, di sebuah gerbang perbatasan kota ku lihat dia basah kuyup. Entah air dari mana.
Apakah air mata atau air keringat aku tak tahu.
Ia berjalan dalam panas matahari dan dinginnya malam hingga lelah dan kantuk pun enggan singgah padanya.
Ia begitu kehausan dan kesepian.

Aku mendekatinya tanpa minat apapun.
Ia seperti burung hitam yang murung.
Tetapi begitu memandang matanya aku tersihir.
Aku ingin membalut lukanya.
Aku ingin merawatnya.

Singkatnya, aku ingin bersamanya.
Jadi aku mengajaknya tinggal di rumahku.
Kakinya penuh luka.
Sepertinya ia terus berjalan dan mengabaikan batu dan pasir yang menggores kakinya.

 Sepertinya ia terus berjalan dan mengabaikan batu dan pasir yang menggores kakinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Garis BatasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang