Sora dengan cepat menjadi populer di Navia.
Kabar kalau ada anak pindahan yang lucu sampai juga ke telinga Regy. Regy ingat melayangkan pandangan penasarannya ke sosok Sora pertama kali saat jam istirahat. Kantin Navia tidak pernah seriuh itu sebelumnya. Satu meja dekat stand dimsum mendadak ramai dengan canda tawa. Dan dari hari ke hari semakin banyak yang bergabung di meja itu menjadikannya pusat perhatian setiap jam istirahat.
Sora Azalea Rihardi.
Regy mendapatkan nama lengkap Sora dari daftar kelompok seni rupa yang dipublikasikan di portal internal sekolah. Awalnya Regy merasa konyol mencari tahu nama seorang cewek sampai segitunya. Tapi semakin lama rasa penasaran Regy tentang cewek itu semakin mengusik.
Secara fisik Sora menarik. Sangat menarik, malah. Mata almond dan rambut panjang hitam mengikal di ujungnya, hidung mancung, bibir kuncup mawar—itu saja sudah cukup untuk menyapu sebagian besar standar kecantikan di Navia. Tapi di kehidupan pribadi Regy, yang seperti itu banyak berseliweran. Jadi, jujur Regy agak bosan.
Hingga saat Regy tak sengaja memergoki Sora memainkan foil (pedang anggar) berkarat di aula olahraga yang kosong. Ketika itu Sora mengenakan celana kargo putih dengan crop top hitam. Jaketnya terikat di pinggang. Tubuhnya tinggi, kurus, tapi otot-otot lengannya kencang. Sekarang Regy tahu dari mana otot-otot itu berasal.
Anggar.
Sora adalah atlet anggar. Bukan sekadar atlet, dia juga sempat menjuarai kejuaraan anggar bergengsi se-Asia Tenggara. Itu Regy ketahui belakangan setelah menemukan medali Sora tergantung di ruang tengah rumahnya.
Anggar adalah salah satu olahraga yang dipandang tinggi di keluarga Ramuna, selain panahan dan berkuda. Semua anak-anak Ramuna pasti pernah belajar ketiganya.
Regy sendiri sempat berlatih anggar selama beberapa bulan sampai ia sadar kalau ia lebih suka memanah daripada anggar. Dan ia tahu benar permainan anggar Sora berada di level yang sama sekali berbeda.
Regy tak menghitung berapa kecepatan detak jantungnya melihat Sora bergerak bisa bergerak begitu memukau dalam kecepatan itu. Di akhir gerakan, Regy refleks berdiri memberikan Sora standing applause. Sora terkesiap mendapati kalau ia ternyata tak sendirian di sana. Pipinya bersemu merah karena malu. Manis sekali.
"That was beautiful," puji Regy dari hati terdalam.
"Oh, thanks—" Sora gelagapan mencari tanggapan yang pas. Kelihatan ia tak mau menyombong. "Gue cuma bingung kenapa foil ini bisa sampai karatan." Sora membelokkan topik ke pedang di tangannya.
"Karena nggak ada yang bisa memainkannya sebaik lo. Gimana kalau lo bikin ekskul anggar?"
Mereka pun bertukar nomor WhatsApp. Regy diam-diam membantu Sora memuluskan perizinan ekskul anggar. Walaupun sampai akhir tahun ajaran isi ekskul anggar cuma Sora dan Myra, tapi Regy senang Sora sangat menikmati ekskul barunya itu.
***
"Lo pacaran sama Kylo?"
Regy ingat bagaimana muka Sora berubah jijik mendengar pertanyaan itu. Kalau diingat-ingat sekarang pertanyaan itu benar-benar konyol.
Tapi dulu Regy memang sempat mengira Sora dan Kylo berpacaran. Bagaimana tidak? Regy tak sengaja melihat Sora menghajar anak-anak kelas XII yang mem-bully Kylo. Kemudian tiap kali Kylo sakit, Sora pasti kelas dan sibuk mengurusi Kylo.
Suatu hari Kylo kecelakaan. Tepat di depan gerbang sekolah. Saat hendak menyebrang, seorang pengendara motor menghantam Kylo hingga bersimbah darah. Kejadian itu sempat menggegerkan seisi Navia. Sampai-sampai semua orang memburu pengendara motor yang kabur itu di media sosial. Untung saja plat nomor kendaraannya sempat terekam CCTV.
Kylo sempat kehilangan banyak darah. Di kala Regy dan Fael bingung mencari donor, Sora muncul di rumah sakit. "Ambil darah saya aja."
Tidak hanya Regy dan Fael, tapi perawat yang menangani Kylo juga kebingungan. Sora menegaskan sekali lagi, "Ambil darah saya. Saya kakak kandungnya. Saya sudah pernah donor untuk dia."
Mata Regy dan Fael membesar bersamaan. Jadi itu kenapa...
***
"Ketahuan deh lo kakak gue. Males banget."
Sora murka mendengar gerutuan Kylo. Setelah darahnya menyelamatkan nyawa Kylo, Sora merasa berhak dapat respon yang lebih sopan. Kalau saja Regy tidak menggiringnya keluar kamar, Sora mungkin sudah mematahkan tulang rusuk Kylo.
"Harusnya gue biarin itu anak itu mati!"
"Nggak boleh gitu, Sora." Regy mencoba bijak di tengah-tengah perseteruan mereka berdua.
"Kalau aja dia nggak gengsi turun satu mobil sama gue, dia nggak bakal harus nyebrang jalan dan ditabrak!"
Regy diam membiarkan Sora meluapkan emosinya. Di dalam pikiran Regy bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang dulu mengganggunya dan sekarang telah terjawab oleh fakta Sora dan Kylo adalah kakak-adik. Ada kelegaan yang membanjiri sekaligus muncul kecemasan baru.
Kalau Sora adalah kakak Kylo, itu berarti ada garis batas yang harus Regy tarik dengan tegas.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Under My Sky
Fiksi RemajaIni bukan sekadar kisah anak SMA. Ini adalah perjalanan tentang berdamai dengan luka masa lalu, bangkit dari titik terendah, dan belajar membuka hati untuk percaya kembali. Tentang kehangatan yang lahir dari persahabatan, serta keberanian untuk mene...
